Puasa ke-24 ini aku menggigil


Ilustrasi - Cuaca jelang musim dingin. (pxhere.com)

Sejak pagi aku kedinginan, bahkan menggigil, padahal sudah dibantu “heater”  yang dimati-hidupkan di dalam kamar.  Pagi cuacanya 12 derajat Selsius dan barusan malam ini kulihat di telepon  pintar, sudah berubah ke angka tujuh.

Rasa-rasanya, ini malam terdingin sejak aku berada di kota ini sejak sekitar 80 hari lalu. Angin terdengar menderu di luar. Petang tadi bahkan hujan es..tuk..tuk.. bunyinya di atap dan kap mobil yang diparkir di pelataran rumah.

Ketika bangun sahur subuh rasa dingin sudah terasa menjalar di tubuhku, namun terasa semakin dingin ketika mengantar cucu ke sekolah SD tak jauh dari kediaman anakku.  Cucuku bahkan minta dicarikan sarung tangannya.

Aku sudah mengenakan baju dalam (kaos dan celana) ketat biasa disebut orang long-jones, kemudian mengenakan dua lapis kaos luar, lantas dibalut lagi dengan rompi tebal yang ada penutup kepalanya.

Orang-orang penjemput anak atau cucu mereka di sekolah di kawasan Clayton, Melbourne itu, banyak yang mengenakan jaket tebal berlengan panjang, bertopi  bulu, syal di leher dan tentu saja mengenakan sepatu.

Dalam perjalanan pulang, payung kami nyaris terbang karena kerasnya angin. Badan menggigil, jemari dan tangan seolah beku.  Hembus angin 32 km/jam, kelembaban udara 87 persen.

Karena jemari terasa sudah membeku, tiba di ruma sudah tidak sanggup menutup kembali payung, dibiarkan saja tergeletak di depan pintu. Dalam rumah, tangan segera dijerang di depan pemanas ruang.  Malam semakin dingin dan aku pun mulai menulis.

Inti ceritaku ini sebenarnya tentang renungan yang sebelumnya tak terbayangkan.

Tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta serta segala tata suryanya.  Kaitan dan pengaruh-mempengaruhi antara bumi dengan bulan dan matahari. Membedakan manusia dan tempat berpijak mereka.  Menciptakan dua musim dan empat musim.

Dari musim ini tergambar pula sifat manusia.  Ketika musim panas, ingin dingin dan ketika dingin ingin panas.  Siapa yang tidak meringis, pada autumn ini saja perasaan sudah seperti dalam kulkas, bahkan freezer,  bagaimana pula bila musim dingin (winter) di bawah nol derajat?

Terjadinya musim

Nah, di negara belahan utara dan selatan, seperti negara Eropa, Amerika bagian Utara dan Australia,  ada empat musim, yaitu musim panas, semi, gugur dan dingin.  Pada musim dingin, bumi bahkan diselimuti salju.

Sedangkan di negara yang terletak di dekat garis khatulistiwa  seperti Indonesia yang terletak di AsiaTenggara, Amerika bagian tengah, dan beberapa negara di Afrika memiliki dua musim, kemarau dan hujan.

Pada musim semi bunga-bunga bermekaran dan pada musim gugur daun berwarna cokelat keemasan dan berguguran melepaskan diri dari batangnya.

Ada pula musim panas, saat jangka waktu siang hari berlangsung sangat lama dan malam hari bahkan dapat berlangsung hanya selama 4-5 jam saja.

Perbedaan musim itu terjadi karena poros rotasi bumi mengalami kemiringan dalam perjalanannya saat mendekati dan menjauhi matahari selama sepanjang tahun.

Sumbu rotasi bumi memiliki kemiringan 23,5 derajat saat mengelilingi matahari (revolusi bumi) dan kemiringan ini menyebabkan pancaran sinar matahari yang diterima oleh bumi berubah-ubah secara berkala melalui tiga zona.

Zona tropicof cancer  (daerah di bumi yang dilalui garis lintang utara 23,5 derajat), tropic of equator  (daerah di bumi yang dilalui garis lintang 0 derajat) dan tropicof capricorn  (daerah di bumi yang dilalui garis lintang selatan 23,5derajat).  Ini tercantum dalam berbagai info kepustakaan.

Pada Desember,  saat poros di belahan bumi bagian utara mengalami kemiringan terjauh dari matahari, maka pada saat yang sama belahan bumi itu paling sedikit mendapatkan sinar matahari, sehingga terjadilah musim dingin.

Di sisi belahan bumi bagian selatan, pada waktu yang bersamaan, terjadi hal sebaliknya.

Musim panas berlangsung karena kemiringan poros bumi berada pada posisi terdekat dengan matahari, sehingga belahan bumi mendapatkan sinar matahari paling banyak.

Ini menyebabkan adanya perbedaan musim belahan bumi selatan dan utara adalah sebagai berikut.

Pada 21 Maret – 21 Juni, terjadi musim gugur di belahan bumi bagian selatan sedangkan di bagian utara musim semi. Pada 21 Juni – 23 September, musim dingin di bagian selatan dan musim panas di bagian utara.

Pada 23 September hingga 22 Desember, musim semi di bumi bagian selatan dan musim gugur di bagian utara, sedangkan pada 22 Desember hingga 21 Maret, musim panas di selatan dan msim dingin di utara.

Nah, pada pada bagian ’tengah’ poros bumi,  bagian yang dekat dengan garis ekuator, poros tidak terlalu mengalami kemiringan, sehingga banyaknya sinar matahari juga cenderung stabil sepanjang tahun.

Pada bagian bumi ini, arah dan kecepatan anginlah yang berperan mempengaruhi musim dan angin terjadi karena perbedaan tekanan udara dan terjadilah dua musim, panas dan hujan, yang waktuya terkadang bergeser-geser.

Di Indonesia, musim kemarau biasanya terjadi pada April sampai Oktober, tapi terkadang terkadang bisa menjadi lebih panjang atau lebih pendek.

Musim kemarau ini terjadi karena adanya angin muson timur yang bergerak dari benua Australia ke benua Asia. Hembusan angin ini membawa sedikit uap air sehingga menyebabkan musim kemarau terjadi di Indonesia.

Wilayah yang terletak pada garis tengah bumi disebut wilayah ekuator,  garis khayal yang mengelilingi bagian tengah bumi.

Wilayah ini tidak memiliki banyak musim seperti di belahan bumi utara dan selatan. Karena terus-menerus menerima sinar matahari, maka wilayah ini hanya mengalami dua musim.

Malam ini aku semakin tunduk.

Begitu hebatnya kejadian alam ini, bagi mereka yang berpikir.

Kutub Utara-Selatan?

Ini masih belum apa-apa dibanding dengan cuaca di kutub utara dan selatan.

Rata-rata suhu di kutub utara adalah – 40 derajat Selsius pada musim dingin dan nol derajat Selsius pada musim panas.

Suhu yang sangat ekstrem terjadi di Kutub Selatan, rata-rata suhu pada musim dingin – 60 derajat Selsius dan pada musim panas mencapai 28,2 derajat Selsius.

Suhu terendah di muka bumi yang pernah dicatat adalah -89,6 derajat Selsius yang terjadi pada 21 Juli 1983 di Stasiun Vostok yang terkenal dekat dengan Geomagnetic Kutub Selatan.

Di kedua kutub itu, hanya beberapa khewan yang mampu bertahan hidup dan beberapa manusia pilihan yang bertugas sebagai peneliti.

Aku menggigil kedinginan di Melbourne.

Aku terus berpikir menelusuri jangkauan rokhaniku.

Sebenarnya aku harus tak kedinginan malam ini dibanding kedua kutub yang ajaib tapi nyata itu.  Bayanganku melambung, entah bagaimana cuaca kelak di yaumil akhir, di alam barzah.

Maha Besar Allah SWT yang menciptakan alam besar (bumi) dan alam kecil (manusia), yang terus berinteraksi hingga akhir zaman.

Malam ini aku menggigil kedinginan.

Tapi tiba-tiba terasa hangat bahkan panas, ketika kubandingkan alam berpijakku saat ini dengan kedua kutub itu dan dengan alam yang akan didatangi semua makhluk hidup itu.

Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau (kita, aku) dustakan?

oOo

Clayton, Melbourne, rabu, 29052019

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *