Menjelang rindu 1




Menata letak perabotan di ruang tamu

melap-lap debu yang sebenarnya tak perlu

karena tak berbekas

Ia sebenarnya memandang rindu sudah tak jauh di depan

Suaranya mendayu hatinya bergelora

Mengingat menara tinggi yang terpacak

Setiap waktu memandangnya lalu-lalang

semua momen perjalanan waktu

Sekat kehidupan yang ditata tertata

Hingga usai menuliskan kata bermakna

Yang berirama dan  bertempo

 

Menjelang rindu

Waktu tak tertahankan

Seakan berlari berdegup-degap di relung mata

Berdetak-detik suaranya dalam dada

bermain-main di denyut nadi

Karena rindu sudah menanti

Meminta tamunya segera menjelang

 

Cat langit itu pasti mengikat

Karena ia menambat ingatan

Angin mendeburkan suara

Suara mendebarkan  menyusup ke dalam telinga

Sehingga ia terpana tiba-tiba

Jemarinya gemetar walau belum faham tanda-tanda

Dedaunan seperti noktah hijau melambai-lambai

Seolah mengucapkan selamat tinggal

Kepada pepohonan yang ber-mimikri

Seperti kapur putih warnanya

Ah, seandainya senja jangan terlalu cepat tiba

Pasti malam menyimpan gulita

Rembulan pun enggan mengeluarkan cahaya

Sehingga daun dan pohon sempat berkata-kata

Tentang cahaya senja yang amat menambat hatinya

 

Inilah ode tentang menjelang rindu

Yang terpacak di gedung tinggi

Yang terpendam di dasar hati

Yang membengkokkan tradisi dan kontradiksi

Nantikan ia,

Yang sedang menjelang rindu.

oOo

Clayton, Melbourne, 28052019

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *