Ilustrasi - Di Masjid Al Muizzu, Limo Depok. (arl)
Hari ini hujan, mulai dari gerimis sampai akhirnya lebat. Tapi cucuku, Jenna Nahda, tetap memaksa harus salat Magrib ke masjid Al Muizzu di Limo Depok. Aku pernah iseng menghitung langkah dari rumah di Jalan H Rohto ke masjid itu, sekitar 206 langkah orang dewasa. Jenna baru masuk kelas 1 SD Dorojatul Islam di Limo. Tiap Magrib dan Isya ia minta ikut salat ke masjid. Ini merupakan kebiasaan baginya, karena selama tinggal di Jakarta, dinding rumah kami malah menyatu dengan dinding Masjid Al Istiqomah. Ia pun rajin salat ke mesjid itu, bertemu dengan teman-temannya.
Aku sementara waktu menemani anak dan cucu-cucuku di Limo Depok, karena mereka baru pindah rumah dari Jakarta ke Limo Depok, agar dekat dengan sekolah baru mereka dan bundanya pun lebih dekat ke tempat kerjanya.
Nah suatu malam, Jenna ngotot ke masjid, padahal Magrib itu hujan amat deras. Akhirnya aku mengalah. Tapi masih berang, karena kendati menggunakan payung, pakaian bagian bawah dan pundak tetap basah. Aku berjalan cepat, ia kutinggalkan di belakang berjalan tertatih-tatih. Beberapa lubang berair di jalanan kami terabas. Hujan masih deras. Kupikir selayaknya salat Magrib di rumah saja.
Jenna, cucuku keempat dari sembilan cucu, tak menyerah dengan air hujan itu, walau ia wanita. Tiba di masjid, aku basuh kaki yang berlumpur. Kemudian masuk masjid dan tak lama kemudian Iqomah berkumandang pertanda salat Magrib akan dimulai. Jenna masuk ke ruangan untuk kaum wanita, yang isinya kebanyakan nenek-nenek.
Sedikit jamaah yang datang, maklum hujan belum kunjung reda. Saat shalat berjalan, dengan suara imam yang merdu membacakan Al Fatihah dan surat panjang, tak terasa air mataku berlinang. Ya Allah..Janna menuntunku ke surga. Semoga Ya Allah. Ketika jamaah lain memilih salat di rumah, Jenna memaksaku salat Magrib ke masjid.
Aku merasa bersalah tak menuntunnya di hujan lebat itu. Ia tertatih mengangkat baju dan melindungi sajadah dan mukenahnya dari air hujan. Ia setengah basah. Kami shalat Magrib kedinginan, apalagi ruangan masjid berpendingin AC. Terima kasih cucuku, Jenna. Ketika kami akan pulang, ia lama memandang wajahku, mungkin ingin memastikan apakah aku masih marah. Aku memalingkan wajah, tak ingin ia berkomentar, “Kok Atok nangis..”
Ya Robb maafkan hamba dan keluarga hamba. Jadikan kami hambaMu yang mengabdi padaMu. Allohu Akbar. (arl)