Ilustrasi - Menjelang rindu 2. (pulsk.com)
“Rindu, kau kan kujelang”
Ia bersenandung mempermainkan ujung kukunya
Kuperhatikan pandangannya dalam, tak ke kukunya
Tapi tak kosong, seperti menahan pilu
Rindu itu semakin dekat, ingin dijelang
Ujung jemarinya kini mengetuk-ketuk tepi meja
Kemudian bibirnya mendesis
“Akan kupikirkan sesuatu untuk tanda mata”
Ia berdiri, berjalan perlahan, aku memandang dari belakang
Pinggulnya bergoyang seperti penari serimpi
hingga hilang dari relung pandang
Ah, entah kenapa aku berdebar
Kuketuk-ketuk tepi meja meniru perbuatannya
Jangan-jangan aku sudah ketularan rindu
Aku khawatir rinduku melebihi rindunya
Entah kenapa, aku pun berdesis,
“Aku kan menjelang kau, rindu.”
Rindu yang tak berbentuk
Tapi rupa kilahnya menyirat pada yang merindu
dan dirindu
ia abstrak tapi konkret
ia ada tapi tiada
tapi ia ada dan ada
ia menjadi being bukan berada to be
tapi ia menusuk beyond yang ada
seperti darah pada manusia dalam aorta
seperti air bagi ikan, sebagai wujud alam
“Duh, rindu, kau kan kujelang”
“Aku kan menjelang kau rindu”
Ternyata rindu sudah merasuk
Kepada siapa pun yang menjelangnya
Siapa pun yang menjenguknya
Siapa pun yang berenang di kolamnya
Siapa pun yang memandangnya
Karena tahu ia pun memandang siapa saja
Jenguk atau tak menjenguk
Rindu yang tetap menunggunya
Rinduku padamu
Rindu kami padamu.
oOo
Clayton, Melbourne, 31062019