Listrik dan gempa


Gempa bumi dan padam listrik berjam-jam di Jakarta. (9tubetv)

Penduduk Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah mendapat cobaan dalam selang waktu dua hari, yaitu diguncang gempa dan digelapkan padamnya listrik.

Banyak orang berang, marah-marah, ngomel, memaki, karena berbagai kegiatan mandeg dan telepon pintar di tangan tidak berfungsi, tetapi ada juga orang yang amat bijaksana “membaca” situasi.

Disebut-sebut, milyaran rupiah kandas akibat terhentinya bisnis dan transaksi keuangan,, baik bersifat tradisional mau pun daring alias online.

Padamnya listrik – karena gangguan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran dan Pemalang,- berimbas ke berbagai hal, di antaranya tidak berfungsinya beberapa jenis transportasi, kandasnya komunikasi, tidak berfungsinya berbagai peralatan dalam banyak kepentingan seperti di rumah sakit, dan berbagai hal lain.

Tak pelak lagi, padamnya listrik yang hanya bilangan jam, sudah mematikan nyaris semua kegiatan manusia, menghentikan fungsi semua peralatan.  Kegiatan orang dan fungsi peralatan seperti mati.

Ya, jelas lah bahwa listrik itu seperti “roh” bagi manusia. Listrik sebagai inti pergerakan di muka bumi. Siapa yang sadar dan peduli terhadap nyawa kedua manusia ini? Siapa yang bersyukur secara berkesinambungan kepada Sang Pencipta atas adanya “roh” kedua ini?

Nah, sebelumnya,  pada Jumat (2/8-19), separuh dataran Pulau Jawa ini bergetar. Goyangan dimana-mana, lampu di rumah menari, lukisan dan gambar di dinding bergerak dan orang pun berhamburan dari dalam gedung dan rumah.

Tiba-tiba banyak orang ingat dengan Sang Pencipta, berteriak Allahu Akbar, zat atau tempat manusia bernaung ketika tiada tempat untuk berlindung lagi di muka bumi ini.

Semua kegiatan terhenti seketika, secara serentak tak ada orang yang membuka HP, semua spontan melindungi diri sendiri, semua mendadak ingat Sang Maha Pencipta – yang menciptakan bumi dan segala isinya, termasuk manusia.

Manusia pun berlarian puntang-panting entah kemana atau kemana-mana – baru sadar untuk menghargai diri sendiridan keluarga – ketika bmkg mengumumkan gempa bermagnitudo 6,9 itu memicu tsunami.

Manusia adalah “hitam-putih” – tempatnya salah, khilaf dan takabur, serta tempatnya rasa syukur dan suka instrospeksi – makanya ada orang yang ngomel ketika lampu padam tapi banyak pula yang bersyukur dengan adanya “teguran” dari Sang Pencipta itu.

“Baru gelap sekian jam saja sudah pada marah dan ngomel, gimana kalo berbulan-bulan seperti saudara kita di Suriah, Afghanistan dan yang lainnya itu. Sudah gelap dihujani peluru lagi. Gempuran bom malah seolah tempat mereka gempa setiap saat,” kata orang yang suka tafakur dan bermuhasabah.

“Jangan dibanding-bandingkan gitu dong,” kata orang lain.

“Harus dibandingkan dong. Teguran bagi kita tidak seberapa dibanding dengan saudara kita yang lain di berbagai belahan bumi ini. Kalau tidak dibandingkan, maka kamu tidak akan pernah bersyukur,” dibalas yang lainnya.

Pokoknya heboh deh. Ada yang tawadu’, sabar,  istighfar d n ada yang tetap ngomel, ngedumel, menggerutu, bahkan menyalahkan pemerintah.

Gempa dan padam listrik yang terpaut hanya dua hari itu, menjadi perbincangan hangat berbagai kalangan.

Ada juga yang berseloroh:  Seandainya gempa dan mati listrik saat gencarnya “perang” 01 dan 02 beberapa waktu lalu, mungkin kita tidak ada yang berseteru dan seolah bermusuhan. Kita merasa seperti keluarga semua.

Nah, setelah semua terjadi (post factum),  kita semestinya bersyukur, bahwa kita selamat dari kedua peristiwa itu, dan kita belajar banyak, setidaknya tentang listrik itu sendiri.

Kita bersyukur kepada Michael Faraday, yang lahir di Newington Butts, Inggris, 22 September 1791 – meninggal di Pengadilan Hampton, Middlesex, Inggris, pada 25 Agustus 1867 pada umur 75 tahun, berkat karyanya mengenai kelistrikan dan magnet.

Eksperimen pertamanya ialah membuat konstruksi tumpukan volta dengan tujuh uang setengah sen, ditumpuk bersama dengan tujuh lembaran seng serta enam lembar kertas basahan air garam. Dengan konstruksi ini ia berhasil menguraikan magnesium sulfat.

Kemudian Thomas Alva Edison (11 Februari 1847 – 18 Oktober 1931) penemu pertama yang menerapkan prinsip produksi massal kelisterikan.  Pada 19 Januari 1883, ia menerapkan sistem penerangan listrik pertama menggunakan kabel layang yang digunakan di Roselle, New Jersey.

Kedua orang itu menemukan “roh” atau “nyawa” bagi manusia saat ini – yang merupakan inti gerak kebutuhan manusia – yang padam beberapa jam Minggu (4/8-19) dan PLN sudah menyatakan minta maaf!

Sehari kemudian muncul berita,  lama mati lampu di Taiwan sehingga menterinya mundur dan mati lampu setengah hari di Australia dan pelanggan diberi gratis listrik selama satu bulan.

Yang pasti, gempa itu proses alam, tapi padam listrik berjam-jam?  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *