Ikin nikah lagi


Ilustrasi - Ikin nikah lagi. (islampost.com)

Setelah menikah dengan wanita idamannya selama beberapa waktu, akhirnya Ikin nikah lagi dengan istrinya itu.

Lo, kok nikah dua kali dengan wanita yang sama? Ya, ini kenyataan, Ikin nikah lagi.

Ikin adalah salah seorang jamaah di masjid kami, berusia 53 tahun dan kedua bola matanya sudah tidak berfungsi, alias sudah buta, sekitar 23 tahun lalu.

Sebelum cerita ini diteruskan, saya umumkan bahwa saya pernah membuat kisah tentang Ikin.

Ia pernah mengatakan, ia lebih memilih tetap buta, ketimbang matanya diterangkan Allah SWT, tetapi ia menjadi jauh kembali dari Allah.

“Biarlah saya tetap buta ketimbang saya jauh dari Allah SWT,” kata Ikin ketika itu, (https://www.arloebis.com/ikin-berdoa-agar-tetap-buta/) .

Nah tentang nikah lagi itu, begini ceritanya:

Pada suatu malam, Ikin bercerita berduaan dengan ketua masjid.  Ikin lagi santai  sembari memijiti lengan bahu ketua yang juga imam masjid.

Dalam pembicaraan itu, akhirnya  disinggung tentang keluarga dan perkawinan Ikin.  Tukang pijat itu mengatakan, suatu saat ia menikah dengan seorang wanita di satu masjid, dinikahkan salah seorang ustad.

Dalam penuturannya, Ikin mengatakan ia menikah siri dan tidak ada wali hakim, karena yang menikahkannya mengatakan tidak perlu wali hakim sebab ia menikah dengan seorang janda, beranak dua.

Mendengar ini, ketua masjid tersentak, karena Ikin menikah tanpa salah satu  rukun nikah. Walau pun Ikin menikah dengan janda, tetap saja harus memenuhi rukun nikah.

“Saya sudah bertanya kepada guru-guru yang faham tentang ini. Semua menyatakan dalam nikah harus ada wali yang menikahkan melalui ijab qobul,” kata imam masjid, ustad Rape’i.

Ikin menangis. Ia mengatakan selama ini ia tidak tahu dan tidak mengerti tentang hal itu. Apalagi ustad yang menikahkannya sudah dipanggil Allah SWT.

Suatu hari, imam masjid bersama Ikin diserta seorang keluarga dan saya sendiri, berangkat ke Plered, Purwakarta, tempat kediaman isteri Ikin – yang sekali seminggu mendatanginya ke Jakarta.

Kami berkenalan dengan keluarga istri Ikin.  Imam masjid menceritakan semua perihal tentang Ikin dan keluarga setuju semua agar Ikin dan istrinya dinikahkan kembali.  Imam masjid yang memimpin acara atau yang menjadi penghulunya. Abang istrinya jadi wali.

Saudara baru di Plered

Alhamdulillah, Ikin sudah resmi menikah dengan istrinya. Kami semua berbahagia.  Kemudian kami bercerita ngalor-ngidul, dan amat terkesan karena mendapatkan saudara baru.  Makan siang di rumah sederhana itu terasa amat nikmat.

Kami mendapat tambahan pengetahuan tentang Plered di Purwakarta. Karena ternyata ada juga Plered di Cirebon.

Plered merupakan salah satu kecamatani di  Kabupaten Purwakarta, Privinsi Jawa Barat. Tempat ini sudah lama terkenal sebagai sentra industri keramik yang dihasilkan selain untuk pasar dalam negeri juga sebagai komoditi ekspor ke manca negara.

Di kecamatan ini terdapat Stasiun KA Plered, yang terletak di desa Plered.  Plered berbatasan dengan Kecamatan Sukatani di utara, kecamatan Tegalwaru di barat, kecamatan Darangdan di timur dan selatan.

Di kecamatan Plered dan sekitarnya ada beberapa tempat wisata dan perbukitan di daerah Plered di antaranya Gunung Cupu.  Tempat ini juga tak jauh dari Bendungan Jatiluhur dan kami pun mampir menyaksikan pesona keindahannya.

Nah, bukan itu saja, saya pribadi merasakan banyak mendapat ilmu, terutama tentang hal nikah menikahkan.

Dalam kepustakaan agama, disebutkan inti menikah adalah ibadah yang harus dilaksanakan untuk melengkapi separuh iman manusia.  Berarti ini merupakan ibadah dan ada syariah atau hukumnya.

Pengertian nikah dalam Al-Quran dijelaskan menggunakan kata Zawaj, yang berarti bersama pasangannya.

Rukun dan syarat nikah disebut sebagai penentu tingkah laku hokum, terutama menyangkut sah tidaknya tingkah laku dari aspek hukum.

Secara bahasa, tertera dalam laman infokua.com,  nikah maksudnya mengumpulkan atau menghimpun sedangkan berdasar syariah nikah adalah suatu akad dengan tujuan menghalalkan seorang lelaki dengan perempuan yang hendak dinikahi.

Rukun dan syarat nikah ada enam perkara, yaitu ada calon suami, ada calon isteri, ada wali, ada saksi, ada mahar serta ada shighat atau ijab qobul. Ini merupakan ungkapan khas ada yang menikahkan dan ada yang menerima nikahnya.

Nabi Muhammad SAW menyatakan – seperti diriwayatkan Ahmad (4/5), Ibnu Hibban (6/147) dan Al-Baihaqi (7/288) – “Umumkanlah pernikahan”.

“Umumkanlah pernikahan. Ini adalah pernikahan bukan perzinahan,” shahih diriwayatkan Ibnu Mandah dalam al-Ma’rifat (2/218).

Nah ini merupakan hal penting, mengumumkan agar masyarakat tahu tentang hubungan kedua anak manusia itu, agar keberadaan mereka tidak dianggap zinah.

Ketika Ikin menikah lagi, beberapa anggota keluarga dan tetangga datang menyaksikan. Kemudian, setelah suai shalat Zuhur,  kami makan siang bersama.

Terasa amat nikmat dan lezat. Terlebih angin sepoi basah berhembus menembus jendela dan pintu, menyebabkan mata merem-melek. Hari itu kami merasa senang dan tentu Ikin pun merasa amat lega.  (*)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *