Ikin berdoa agar tetap buta


Sketsa orang buta. (man73ar.blogspot)

Perawakannya sedang, kulit agak hitam,  selalu mengenakan peci hitam, beberapa tato menghiasi lengannya, dan  ia selalu memegang tongkat putih.

Suaranya kerap mengalun ketika azan subuh di mushola dekat rumahku dan bila shalat Jumat, ia datang ke masjid besar di dalam gang. Walau ia memegang tongkat putih dari besi,  tetap saja ada orang yang menuntunnya ke tangga masjid berlantai dua itu.

Bila malam ia selalu keliling gang untuk menawarkan jasa pijatannya.

Orang-orang memanggilnya Ikin. Usianya 53 tahun dan konon ia mengalami kebutaan sekitar 23 tahun lalu. Pada awalnya penglihatannya normal.

“Apakah Ikin ingin agar Allah SWT membuka kembali pandangan Ikin. Agar bisa melihat alam ini?,” ditanyakan ustad ketika ia memijit lengan imam shalat itu.

Jawabannya amat mengejutkan.

“Tidak. Saya ingin agar tetap buta. Saya selalu berdoa agar dosa saya dihapuskan, kesalahan saya dimaafkan Allah. Saya pun berdoa biarlah saya tetap buta,” kata Ikin.

Masya Allah..Subhanallah..Allahu Akbar.  Ia merasa begitu mantap dengan kebutaannya. Ada apa sebenarnya?

Ikin setiap minggu pulang ke rumah istrinya di kawasan pinggiran Jakarta. Sebelumnya, ia menceraikan istri pertamanya. Pasalnya, istrinya itu selalu ngomel bila disuruh shalat.

“Kalau waktu shalat, ia ngomel bila disuruh shalat.  Ah..disuruh shalat melulu, katanya. Saya jadi tidak kuat lihat istri begitu, jadi saya pisah aja,” kata Ikin suatu saat.

Ternyata Ikin menganggap kebutaannya yang terjadi perlahan dari minggu ke minggu itu, sengaja diciptakan Allah SWT agar ia tidak bisa melihat dan agar sadar akan perbuatannya yang dilarang agama selama ini.

“Dulu saya selalu menenggak minuman keras. Kalau tidak ada, saya buat sendiri dari campuran macam-macam. Banyak sekali dosa masa lalu saya. Sejak saya buta, saya baru ingat Allah SWT dan baru mulai shalat,” kata Ikin.

Ikin yang kini tinggal di mushola itu ingin agar matanya tetap tidak berfungsi alias buta, agar ia tetap dekat dengan Allah SWT.

Ia tidak lagi ingin memandang dunia ini. Ia tidak ingin memandang fisik atau jasad. Ia hanya ingin merasakan zat, melalui pendengaran dan hatinya.  Ia sudah melewati batas konkret. Ia beyond warna, rupa dan gerak.

Nah, pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang sahabat mendapat ujian kebutaan sejak masa kecil.

Tapi kekuarangannya itu tidak menghalangi untuk beribadah dan berjuang di jalan Allah SWT.

Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Sejak kapan, engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak kecil.” Maka Rasulullah SAW bersabda:

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku, maka tidak ada balasan yang lebih pantas kecuali surga.” (HR Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi).

Abdullah bin Ummi Maktum merupakan sosok yang dimuliakan Rasulullah SAW, karena ia menjadi asbabun nuzul surat Abasa ayat 1-16.  Sayyid Qutub berkomentar tentang ayat tersebut, “Mengapa engkau bermuka masam di hadapannya? Barangkali orang buta ini bisa menjadi mercusuar di bumi yang dapat menerima cahaya dari langit.”

Abdullah bin Ummi Maktum, seorang fakir miskin lagi buta dapat menerima cahaya dari langit.

Suatu hari dia mendatangi Rasulullah SAW, dan berkata, Wahai Rasulullah, rumahku sangat jauh dari masjid, dan aku tidak mempunyai penuntun dalam berjalan, maka apakah ada keringanan untukku (meninggalkan shalat jama’ah di masjid)?

Rasulullah SAW pun memberinya keringanan. namun, tatkala dia telah berpaling, Nabi berkata kepadanya, Apakah engkau mendengar suara azan?

Dia menjawab, Ya.

Nabi SAW bersabda, Maka jawablah seruannya, karena aku tidak mendapatkan keringanan untukmu.” (Ditakhrij oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad: 3/23. Dan Ibnu Mâjah: Kitabul Masâjid, Bab At-taghlidh Fit Takhalluf ‘anil jamâ’ah, No. 792)

Abdullah akhirnya kerap datang shalat berjamaah di masjid kendati waktu cuaca dingin,  hujan dan panas. Di kegelapan malam, tanpa penunjuk jalan, dia meraba-raba di kegelapan, agar Allah menjadikan untuknya cahaya pada hari semua cahaya terputus bagi orang-orang yang berbuat dosa.

Ikin pun tetap datang ke mushola dan masjid, meraba-raba menggunakan tongkat putihnya. Ia sudah sadar dan melakukan tobat nashuha (yang tidak dilakukan lagi).  Ia berdoa, biarlah tetap buta agar selalu dekat dengan Allah SWT.

Ia selayaknya menjadi contoh bagi orang yang tidak buta.  Kebutaan mendekatakannya dengan zat Illahi Robbi. Apalagi menurut Ustad Rapei, ketua masjid Al Istiqomah di Kawi-Kawi Atas, Ikin dalam beberapa tahun ini sudah menjalani puasa Nabi Daud, AS, sehari puasa dan sehari buka.

Semoga cahaya dari langit menerangi langkah dan hatinya.

Aamiin.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *