Hari 3 Ramadan 1439 H : Keseimbangan hidup


Ilustrasi - Mencari keseimbangan hidup. (flickr)

Mesjid dekat rumahku bertingkat dua tapi tidak ber-ac, hanya ada sekitar sembilan kipas angin di langit-langit. Ada juga tiga lainnya yang terletak di lantai.  Biasanya sholat di situ adem ayem saja.

Tapi malam ini ruangan itu terasa amat gerah.  Mungkin karena jamaahnya padat. Mungkin kelembaban udara pun amat tinggi.  Setiap usai salam dua rakaat shalat tarawih, para jamaan mengipaskan apa pun yang ada di dekatnya, umumnya kain sorban bagi yang membawanya.

Imam pun kasihan, karena juga amat kegerahan.  Terlihat keringat merembes pada bagian belakang baju kokonya.  Ia pun berkali-kali menenggak air mineral yang disiapkan di sampingnya.

Ternyata hal ini berkepanjangan hingga usai shalat tarawih.

Kaum ibu yang shalat di bagian bawah masjid, melancarkan protes.  Namanya saja kaum ibu,  protesnya macam-macam.  Selain kegerahan, juga mengeluh karena ayat-ayat yang dibacakan imam terlalu panjang.  Doa usai shalat pun diprotes karena terlalu panjang. Pokoknya macam-macam lah.

Takmir masjid pun mengakomodir protes itu. Keesokan harinya kaum ibu ditempatkan pula di ruang sekolah TK di bagian lain di bawah masjid. Oh, acenya sudah lama tidak diservis, sehingga petang hari segera dikebut diservis dan..terasa sejuklah malam harinya.

Tentang ayat bacaan pada waktu shalat pun dibahas dan disimpulkan agar  dibacakan ayat pendek alip-alip alias juzamma.  Keluhann dan protes pun menghilang. Ya, masjid harus mengakomodir jamaah, karena takmir masjid adalah pelayan jamaah, berusaha memenuhi tuntutan mereka.

Kalau diamati lebih jauh, tuntutan para ibu itu sebenarnya mengarahkan kita untuk introspeksi diri sekaligus membaca masa silam kehidupan beragama, yang dibawa Rasulullah SAW.

Apa itu? Di jaman dulu, para sahabat umumnya sholat hingga jauh malam, menyelesaikan ribuan rakaat.  Subhanallah.

Dalam kitab disebutkan Mus’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair melakukan sholat 1000 rokaat tiap hari.  “Mush’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair, ia salat dalam sehari semalam 1000 rakaat ” (Shifat ash-Shafwah, Ibnu Jauzi, 2/197 dan al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 2/326)

Ali Zainal Abdin sholat 1000 rokaat tiap hari.  “Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli ibadah, disebut demikian karena ia salat dalam sehari semalam sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’, al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)

Sedangkan Abu Qilabah sholat 400 rokaat tiap hari. “Qadli Ahmad bin Kamil berkata: Diceritakan bahwa Abu Qilabah salat dalam sehari semalam sebanyak 400 rakaat ” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 2/120)

Sementara Ma’ruf al-Khurkhi melazimkan (mewajibkan) dirinya sholat 100 rokaat setiap hari Sabtu dan di setiap satu rokaat ia membaca surat al-Ikhlas 10 kali. (Thabaqat al-Hanabilah : 2/488).

Ah, itu kan jaman dulu kala. Jaman sekarang kan orang pada bekerja, mana mungkin sholat dari malam hingga subuh. Memang benar, tapi kenapa kita tidak menjadikan ini sebagai halaman-halaman kitab guna membaca diri kita sendiri?

Nabi SAW bahkan menyatakan perintah sholat bagi ummatnya pada awalnya adalah 50 rakaat.

Kini umatnya mengatakan solat tarawih 23 rakaat (serta witir) sudah kepanjangan, ayat yang dibacakan pun kepanjangan, maunya sebatas “kulhu”, ruangan panas, dan lain sebagainya.

Jaman sudah berubah, terjadi pergeseran nilai dengan amat cepat. Ini berpengaruh pada sisi kehidupan keseharian yang sudah didominasi alat dan teknologi, di antaranya ya menggeser sikap dalam berperilaku keagamaan itu.

Tak heran bila di salah satu daerah di Blitar, ada kumpulan jamaah yang melakukan solat tarawih sebanyak 23 rakaat dalam waktu hanya tujuh (7) menit! Ini konon sudah berlangsung lebih dari satu abad.

Maka, butuh keseimbangan hidup.  Tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek, tidak terlalu hitam tidak terlalu putih. Sehingga semoga semua tuntutan itu dapat diejawentahkan menjadi tuntunan. Amin.   (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *