Ilustrasi - Ya Allah beri aku petunjukMu. (anaksoleh.net)
Ini hari libur, orang tidak kerja, tidak masak penganan untuk berbbuka puasa, akhirnya ngabuburit mencari takjil.
Dimana-mana ramai dan yang saya tahu paling ramai adalah di kawasan seberang halte bus Rawamangun serta di Jalan Setiabudi. Kedua tempat itu sudah saya datangi, penuh berbagai makanan ringan dan lauk-pauk dan penuh juga dengan..manusia.
Saya ke tempat itu bersama istri mencari takjil sesuai selera dan tentu saja saya mengamati situasi di situ. Rasa ingin tahu tetap besar, maklum dulu ketika aktif bekerja, tugas sebagai kuli tinta (istilah jaman doeloe).
Takjil sebenarnya merupakan kosakata berasal dari bahasa Arab dengan makna menyegerakan. Dalam pengertian ini, maka takjil diartikan sebagai menyegerakan berbuka puasa. Karena dalam Islam, menyegerakan berbuka puasa mmerupakan anjuran Rasulullah saw.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia( KBI), takjil diartikan sebagai menyegerakan atau mempercepat dan sebagai kata benda disebut sebagai “makanan berbuka puasa”.
Nah, memburu takjil di Rawamangun dan Setiabudi, memberi banyak kesan, di antaranya karena padatnya manusia, kita pun berjalan selalu bersenggolan, tentu saja dengan lelaki atau perempuan. Kalau khawatir bersenggolan, dengan yang bukan muhrim, pakailah busana berlengan panjang.
Kesan kedua, ini sebenarnya yang paling penting, mungkin karena perut dalam keadaan kosong, maka berbagai makanan yang ada di pasar takjil itu serasa ingin dibeli, untuk melepas dahaga dan mengisi perut yang lapar.
Kenyataannya saat semua takjil itu sudah terhidang di hadapan – kemudian azan berkumandang – paling yang masuk ke perut kita hanya air putih atau teh manis dan beberapa biji kurma.
Berbagai jenis takjil yang dibeli, umumnya hanya untuk memenuhi “dahaga dan lapar mata”. Usai shalat magrib atau bakda shalat tarawih, baru dicicipi, dan tentu saja tidak akan mampu menghabiskannya.
Subhanallah, Walhamdulillah, Allahu Akbar.
Apa yang dapat ditimba dari situasi ini? Lapar dan dahaga fisik dalam menjalankan ibadah puasa, sebenarnya harus diaplikasikan dengan “lapar dan dahaga” jiwa atau batin kita.
Takjil jiwa itu amat banyak, di antaranya, berbagai macam sholat, berzikir, kiyamulail, berdoa, tadabur Al Quran, membaca berbagai kitab tuntunan hidup, bersodakoh, menolong orang dalam berbagai hal, dsb yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Pokoknya “takjil jiwa” itu adalah usaha mewujudkan laku menyelaraskan inti kehidupan dengan sesama manusia atau lazim disebut kesalehan sosial atau hablumminannas.
Juga mewujudkan laku penyelarasan inti kehidupan dengan Yang Maha Pencipta yang selalu disebut dengan istilah kesalehan individual atau hablumminallah.
Takjil jiwa itu menjadi tatanan untuk menyegerakan, atau mempercepat, mengisi gudang-gudang batin yang selama ini masih belum terisi penuh atau bahkan masih kosong.
Takjil itu adalah makanan pembuka puasa
Takjil itu adalah sesuatu bentuk pemenuh dahaga dan lapar mata
Takjil itu adalah pemenuh selera dahaga dan lapar fisik
Takjil itu adalah makanan dan minuman jiwa
Mengapa kita tidak berusaha merengkuhnya?
Yang hanya sebulah dalam 12 bulan?
Ya Allah beri tuntunan dan petunjuk bagi hambaMu yang seperti tak pernah mengenal diri sendiri ini. (arl)