Sandal dan kopi


Ilustrasi - Ke mesjid untuk melaksanakan shalat. (rebanas.com)

Entah kenapa, kali ini aku sangat terkesan dengan cerita sandal dan kopi ini.

Ini merupakan serba-serbi yang selalu terjadi di pelataran masjid dan aku pun pernah mengalaminya.

Ini dia ceritanya.

Suatu hari saya mendengar seorang jamaah mengatakan, “Saya suka shalat Jumat di sini karena ada kopi.”

Tempat teh dan kopi yang cukup besar terletak di bagian pojok pelatanan masjid,   berdekatan dengan tempat penitipan sepatu / sendal.

Saya datang agak cepat ke masjid itu pada suatu Jumat. Saya titip sepatu dan meminta segelas (plastik) kopi. Si penjaga sandal memberi tempat kopi kepada saya dan mengatakan, “Ini disediakan untuk jamaah usai shalat Jumat.”

“Lo, saya minta kopi padahal Jumatan belum mulai,” kata saya dan dijawabnya, “Gak apa-apa, Pak.”

Usai Jumatan saya melihat banyak orang mengambil kopi dan penganan berupa goreng-gorengan dan roti-roti kecil dalam plastik yang disiapkan penjaga.

Beberapa bulan sebelumnya, di tempat sama, saya melihat banyak nasi bungkus yang disiapkan. Para jamaah mengambilnya dengan tertib. Tidak berebutan. Bagi yang tidak kebagian, ya cukup ngopi atau ngoteh aja.

Di beberapa masjid di daerah Jawa Tengah,  saya sudah pernah menyaksikan hal seperti ini. Penjaga masjid mengatakan,  setiap Jumat ada saja yang mengantar nasi bungkus ke masjid mereka.

Nah, hal kontradiktif pun terjadi. Di masjid yang tadi menyediakan kopi – tempat saya ngopi sebelum waktu shalat – ada anak muda yang kehilangan sandal.

“Tapi saya letakkan di sini,” katanya menunjuk tempat di bawah tangga,  amat dekat dengan tempat penitipan sandal.

“Dicari dulu, Pak. Mungkin ditendang anak-anak dan pindah kemana-mana,” kata seorang jamaah sembari memegang tepi bagian atas cangkir plastik kopinya.

“Sendalnya masih bagus, Pak,” komentar jamaah lain.

“Ya masih bagus lah. Kalo gak mungkin gak akan diambil,” jawab si anak muda, yang kelihatan berbusana rapih.

Saya membatin, tidak heran bila sandal bagus hilang. Kan orang ke masjid umumnya tidak bermaksud mencuri sandal, tapi karena ada kesempatan maka niat buruk itu pun dilakukan.

Atau pun ada orang yang membawa secara tidak sengaja.  Saya heran, kok sendalnya tidak dititip di tempat penitipan yang hanya dua meter jaraknya dari tempat ia meletakkan sandal.

Apakah karena di meja ada tromol tempat uang penitipan? Ah, paling hanya nyemplungkan uang dua ribu rupiah. Gak usah nyemplungin uang juga kagak ape-ape.  Entah berapa rupiah orang ini nyemplungin uang ke dalam tromol yang dijalankan dalam masjid.

Si anak muda tadi masih berkeliling tangga mencari sendalnya. Terdengar ia nyelutuk, “Ah masjid besar begini tapi gak aman.”  Mungkin ia berpikir, lain kali ia tidak akan datang lagi ke situ.

Apa hikmah yang dapat diambil dari cerita sandal dan kopi ini?

Karena kopi orang rajin ke masjid dan karena sandal hilang orang malas datang ke masjid.

Artinya, karena dua kisah tadi – yang terjadi di pelataran masjid – berakibat pada singgungan hakikat orang masuk ke dalam masjid.  Kopi membuat orang senang datang ke masjid tertentu dan sandal hilang membuat orang ogah datang ke masjid tertentu.

Kita tidak berhak menilai tebal dan tipisnya iman seseorang – innama akmalu binniyati. Tapi kisah kopi dan sandal ini selayaknya membuka cakrawala pemikiran tentang masalah keberagamaan orang-orang.

Ini juga membuktikan betapa hebatnya keberagaman pemikiran orang-orang. Tentang apa saja, termasuk tentu saja tentang niatnya datang ke masjid.

Ada ungkapan sakrastis di sosial media menyebutkan: Lebih baik kehilangan sandal di masjid, ketimbang sandalnya tidak pernah ada di masjid.

Kisah kopi dan sandal ini, lumrah terjadi, tetapi jarang kita renungi!  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *