Malam ke-27 Ramadan 1440 H – Rekonstruksi lakon


Ilustrasi - Niat untuk menulis. (pixabay.com)

Sudah malam ke-27 Ramadan 1440 H di Melbourne, namun aku hanya dapat membuat beberapa catatan,  padahal pada Ramadan 1339 H / 2018 di Jakarta, aku seperti menghitung langkah dan setiap hari ada catatan pergerakanku.

Ada rekaman perjalanan dan pemikiran mulai hari pertama Ramadan 1339 H hingga hari ke-30 Ramadan 1339 H.

Aku menganggap hal itu merupakan hal istimewa.  Setiap manusia memiliki potensi dan salah satunya potensi menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan.

Manusia harus mampu membaca potensi dirinya, kemudian “meng-upgrade” dan mengekspresikannya. Potensi diri berkonotasi positip dan ini perlu diketahui dan dibaca khalayak.

Mengapa catatan Ramadan 1339 H selama 30 hari itu dapat terejawentahkan, sedangkan pada Ramadan 1440 H aku seperti tersedak, seperti tidak berbuat apa-apa, padahal ini merupakan bulan mulia, yang penuh rahmat dan barokah pada siapa pun yang melakoninya.

Ada tiga kata kunci: niat, bulan mulia dan lakon.

Aku ingin membut catatan karena aku menginginkannya. Berarti ada niat. Aku teringat, seminggu menjelang Ramadan 1339 H aku sudah menyiapkan buku catatan.

Karena aku berniat mencatat semua kegiatanku selama 30 hari Ramadan. Tentang shalat dan aktivitas membaca kitab suci tidak kutuliskan, karena itu kegiatan rutin dari masjid ke masjid selama Ramadan tahun lalu dan tak pantas diungkapkan karena dapat terjebak pada riya, sum’ah, ujub atau takabur.

Nah, niat adalah kuncinya- innamal  a’malu binniyat – karena niat aku dapat menuliskan setiap gerak pada Ramadan 1339 H, karena niat tiada rasa lapar dan dahaga selama bulan puasa, karena niat rasa sakit hilang kendati tidak minum obat pada siang hari.

Subhanallah, luar biasa kekuatan niat, yang dapat membendung semua rasa yang ditimbulkan syaraf manusia.  Dan hanya Allah SWT yang dapat mengetahui niat manusia.

Aku berniat membuat semua catatan pergerakanku ketika menunaikan ibadah haji pada 2012. Ketika pulang ke Jakarta, aku menuliskannya, menerbitkannya dengan judul Tanah Haram. 

Aku tidak berniat untuk membuat catatan harian pada Ramadan 1440 H, sehingga tidak ada kesadaran untuk berbuat.

Bulan mulia, ya Ramadan yang selalu diungapkan dengan datang dan pergi. Ketika menjelang Ramadan,  disebut-sebut bulan mulia itu akan datang dan ketika mengakhiri bulan puasa, disebut Ramadan akan meninggalkan kita. Umumnya orang-orang pilihan pada sedih dan menangis.

Ustad mengingatkan kita agar berpikir: apakah kita akan sampai ke Ramadan mendatang.

Peringatan itu bukan tidak beralasan, karena Ramadan adalah bulan menguji fisik dan rohani, bulan mulia, merupakan momentum untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Seorang sufi – dalam satu hikayat – disebutkan memarahi anak didiknya karena mengatakan “saya lapar”, karena rasa lapar itu merupakan “sir” (rahasia) Allah SWT dan manusia harus menjaganya.

“Mintalah rasa lapar ketika kau kenyang. Peliharalah rasa laparmu,”  kata si sufi, karena rasa lapar ada dalam gudang-gudang rahasia Allah sehingga harus dipelihara hingga waktu berbuka tiba.

Makanya, bulan Ramadan bukanlah hanya merasakan lapar dan dahaga, melainkan ada tingkatan puasa lain, yaitu puasa rohani yang disikapi secara kontemplasi oleh orang-orang tertentu. Dan rasa lapar itu disiratkan untuk memelihara kedekatan dengan Yang Maha Kuasa.

Ada niat dan ada bulan mulia. Kemudian manusia harus melakoninya. Melakoni secara kaffah, betul-betul dengan niatnya dan menghayati kemuliaan Ramadan, sehingga tidak hanya merasakan lapar dan dahaga.

Setelah seseorang melakoni puasa Ramadan secara kaffah, baru dapat terjadi rekonstruksi – mengurai kembali apa yang sudah dilakukan setiap hari – dalam bentuk catatan.

Karena niat untuk melakukan rekonstruksi tidak dilakukan sejak awal, maka Ramadan 1440 H bagiku hanya melakoni puasa ansich karena niatku juga hanya untuk menjalankan shaum. Sehingga tidak lahir catatan berkelanjutan sepanjang bulan. Tidak ada rekonstruksi lakon. 

Kini memasuki malam ke-27 Ramadan 1440 H.

Aku mencoba bertafakur tentang apa yang telah kuperbuat selama hampir satu bulan puasa ini, apalagi aku sedang berada di negara asing, Melbourne.

Semoga aku tidak disamakan dengan santri sufi tadi.

Semoga aku tidak menjauh dari rahasia Allah SWT.

Toh aku tidak ada mengatakan lapar. 

oOo

Clayton, Melbourne,  0106219

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *