Hari ke-9 Ramadhan 1439 H : Puasa taat shalat telat 


Ilustrasi - Shalat tepat waktu dimana pun. (sofa rahmania)

Ini Jumat kedua Ramadhan dan kaki melangkah ke masjid Lautze – masjid China –  yang berada di tengah kota Pasar Baru. Bentuknya dari luar seperti Ruko tetapi di dalam berbentuk masjid, ada tulisan-tulisan China dan Arab.

Puasa tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan shalat.  Shalat itu adalah tiang agama, yang menyebabkan satu bangunan dapat berdiri. Yang lain-lain sebagai kaso, genting, dll.

Banyak orang melaksanakan puasa – juga menunaikan shalat wajid dan sunnah – itu sangat baik tetapi lebih baik lagi mendahulukan shalat. Jangan puasa sudah bagus tetapi shalat selalu tinggal atau terlambat.

“Usahakan shalat Zuhur jangan dekat waktu Ashar. Kemudian segerakan membatalkan puasa tepat waktunya. Segerakan pula shalat Magrib,  jangan seperti  kereta menunggu penumpang,” kata khatib H Abdussalam AFA di masjid yang diresmikan BJ Habibie selaku ketua umumICMI pusat pada 1994.

Pada akhir puasa, katanya, umumnya orang soleh mendapatkan “alat” pembeda haq dan bathil. Apa tandanya? Kita merasa hidup tenang dan nikmat melakukan suruhan Allah, di antaranya ya puasa dan shalat tepat waktu.

“Kalau kita belum merasakan kenikmatan ini, berarti belum ada alat pembeda pada diri kita. Kita harus memeriksa kembali puasa dan shalat kita,” kata mubalig DDII itu.

Di luar Ramadhan, shalat tepat waktu harus tetap dipelihara.  Kalau mendengar suara azan, para pedagang di Arab Saudi langsung meninggalkan dagangan mereka.  Tidak heran bila kita menyaksikan orang shalat di sebelah kendaraannya yang diparkir di tepi jalan. Mereka ingin menyegerakan shalat.

“Peliharalah ketepatan shalat sesuai petunjuk Rasulullah. Insya Allah rasa riya dan sombong akan rontok,” kata ustad tersebut sembari menjelaskan ia pernah menerima amplop dari seseorang dan ketika shalat di rumah ia merasa sajadahnya terombang-ambing seperti sedang berlayar dengan sampan.

Ia mengembalikan amplop tersebut. Pernah pula ia sedang sangat butuh uang dan tidak tahu mencari kemana, namun tiba-tiba ada orang yang memberinya dengan jumlah cukup banyak.  Ajaib sekali kehidupan ini, begitu besar rahasia Allah swt yang tidak pernah kita duga sama sekali.

Ia pun seusai khotbah bercerita kepada beberapa orang pengurus masjid – saya nimbrung – ada orang diberhentikan dari kantor  karena tidak mau “ikut nyolong”.  Ada pula orang yang ditinggalkan kawannya dan ada pula yang meninggalkan temannya, karena tidak mau ikut maling atau korupsi.

“Nah kita jangan sampai  menyia-nyiakan Ramadhan ini. Ini bulan untuk menempa diri. Bulan untuk menggugurkan dosa dan menambah pahala kebaikan kita,” katanya.

Inti ceramah ini, apa dan bagaimana caranya agar kita mendapatkan atau merasakan bekerjanya “alat” dalam hati kita, untuk dapat membedakan yang haq dan bathil.  Salah saatunya, tentu jangan sampai kita taat puasa tapi telat shalat. Subhanallah.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *