Hari ke-29 Ramadhan 1439 H : Takbiran, rendang dan lemang


Ilustrasi - Malam Lebaran, terknang ayah ibu. (puisi mania)

Usai shalat Isya berjamaah di al Istiqomah malam ini, perasaan terasa kosong,   padahal takbir memuji kebesaran Illahi Robbi mulai berkumandang saling bersahutan dari masjid ke masjid.

Perasaan kosong itu muncul, ternyata, karena malam ini sudah tidak dilaksanakan   lagi shalat tarawih, yang biasanya dilakukan 23 rakaat termasuk witir dan terkadang diselingi kultum.

Di masjid tinggal beberapa orang, umumnya remaja,  yang melantunkan takbir bergantian.

Di bagian lain,  di lantai bawah masjid,  beberapa orang masih sibuk menerima zakat fitrah dan beberapa orang lain sedang menghitung-hitung kantung beras dan uang yang akan dibagikan kepada para mustahik.

Ini merupakan babak baru kegiatan yang menandai usainya pelaksanaan shalat tarawih.

Bisanya,  kegiatan jamaah selama Ramadhan melakukan gerakan shalat, ada yang cepat, ada yang perlahan. Keringat biasanya bercucuran, pulang ke rumah, ganti kaos, baru menyantap makanan.

Saya, sejak sebelum masuk Ramadhan, sudah berniat mencatat sesuatu yang saya rasa menarik selama Ramadhan.

Ternyata kalau diniatkan,  dilakukan, semua akan dimudahkan Allah SWT. Hingga malam ini, saya sudah membuat catatan harian Ramadhan hingga yang ke-29.

Saat memulai membuka laptop,  untuk menuliskan catatan Ramadhan ke-29 ini, saya belum tahu apa yang akan saya tulis. Tapi tadi perasaan saya kosong, sedih, itulah saya tuliskan pada awal coretan ini.

Rendang.  Oh, aroma khas lauk nasi ini menembus hidung saya, ketika keluar dari masdjid. Di rumah, istri masak rendang,  tetangga masak rendang, harum lauk nasi yang pasti ada di rumah makan Padang ini, amat menggoda dan menimbulkan selera.

Ketika tiba di rumah, saya bukannya pengen makan lauk sedap itu, kendati selera sudah amat menggoda untuk mengisi perut.

Aroma rendang itu, sebaliknya, mengajak saya bernostalgia jauh ke masa lalu, ketika saya masih kecil di kampung halaman.

Bila malam Lebaran, ibu dan nenek saya sibuk di dapur memasak berbagai penganan untuk santap keesokan harinya.

Rendang, merupakan makanan khas yang pasti dimasak ibu – serta penganan khas lainnya, yaitu lemang.  Ada juga dodol dan sesagun, terbuat dari bahan kelapa yang sudah halus seperti tepung ditaburi gula.

Lemang adalah beras atau ketan yang dimasukkan ke dalam bumbung bambu setelah diberi santan dan campuran lain. Memasaknya harus di halaman, karena bambunya banyak dan disenderkan ke besi dan dibawahnya dinyalakan api.

Memasak lemang atau dodol, butuh banyak tenaga dan biasanya banyak keluarga yang bergantian menjaga dan mengawasi apinya.

Hingga sini, tiba-tiba rasa haru muncul karena aku teringat pada ibu (aku memanggilnya emak) yang meninggal 24 Maret 2000.  Ayah pergi lebih dahulu pada 3 Agustus 1992.

Malam Lebaran, takbiran menggema di mana-mana. Ayah pergi ke masjid, ibu ya itu tadi, sibuk di dapur dibantu nenek dan kakak-kakakku.  Aku masih terbayang, pada malam Lebaran ayah pasti menangis sesungukan.

Aku pernah bertanya mengapa ayah menangis, ia menjawab teringat pada kedua orangtuanya. Ayahnya ayah sudah berpulang ketika ayah masih dalam rahim ibunya.  Semoga semua dosa ayah dan ibu diampuni Allah SWT dan mereka masuk surga Allah SWT.

Ketika ayah di masjid, aku bersama teman-teman sebayaku bermain di seputar halaman rumahku yang cukup luas.

Kami berbaris membawa tempurung kelapa yang di dalamnya ditempel lilin menyala. Api lilin itu tidak akan mati, kendati kami bawa berlari.  Kami juga menyalakan lilin di sepanjang pagar besi di depan rumah.  Kami berhenti bermain bila ayah pulang dari masjid.

Keesokan harinya, kami sekeluarga berangkat menunaikan shalat Ied di tanah lapang Simarito, yang cukup luas untuk menampung ribuan orang.

Aku terkenang, aku terbayang wajah ibu yang pendiam dan tak pernah marah, serta wajah ayah yang teduh namun tegas. Aku terbayang wajah semua anggota keluargaku yang ada mau pun tiada. Seperti slide berputar satu per satu.

Ayah memberiku uang Lebaran sepulangnya dari shalat Ied di lapangan.  Usai shalat, ayah bersama jamaah masjid dengan jumlah lumayan banyaknya, mendatangi satu rumah ke rumah lainnya, bersilaturahim.

Ah, malam ini takbiran masih bergema dari masjid sebelah rumah saya.

Aku terpana. Aku menangis dalam hati dan luar hati, karena air terasa berlinang di mata. Ya Allah berilah kekuatan pada hamba yang lemah ini. Berilah kekuatan dan kemudahan pada keluarga hamba, pada istri hamba, anak-anak hamba, para mantu serta cucu-cucu hamba.

Pada malam Lebaran ini,  Engkau Ya Allah, memerintahkan Jibril dan ribuan malaikat turun ke bumi untuk menyaksikan betapa khidmatnya hambaMu memuji dan memujaMu.  Mereka mengaminkan semua permintaan hambaMu. Mudahkanlah urusan kami di dunia ini Ya Allah.

Ayah..Emak..semoga engkau berada di sisi Allah SWT dikumpulkan bersama orang sholeh dan kubur kalian menjadi salah satu taman surga Allah SWT. Aamiin.

Ya Allah, apakah aku dan semua saudaraku dapat bertemu lagi dengan ayah, emak, di akhirat kelak?

Astaghfirullah, maafkan dosa hamba dan keluarga serta keturunan hamba Ya Allah.  Aku menarik nafas panjang, menghapus mata dan hidungku.

Aku kembali ke masjid setelah menuliskan coretan di ujung Ramadhan ini, karena penerimaan zakat akan ditutup tepat pukul 22.00 WIB dan pengurus masjid akan menyalurkannya kepada mustahik yang berhak.

Semoga kita bertemu lagi pada Ramadhan mendatang.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *