Ilustrasi - Bersedekah perbuatan paling mulia. (situsbaginda ery)
Hari raya Idul Fitri 1439 H amat meriah di berbagai sudut kota dan daerah. Orang saling bersalaman, mengenakan baju baru, bersilaturahim, saling kunjung mengunjungi dari rumah ke rumah.
Beberapa saat sebelumnya, orang melaksanakan shalat Ied di lapangan dan masjid, termasuk di masjid sebelah rumah, Al Istiqomah Kawi-Kawi, dimana ustad yang masih berusia 24 tahun tampil sebagai imam dan khatib.
Ustad Abdulrazaq Cosdy menekankan bahwa manusia kuat bukanlah yang ototnya besar dan keras, mampu memenangi peperangan dan perkelahian, melainkan orang yang mampu menahan hawa nafsunya.
Ini menarik, karena mengingatkan kita untuk mencoba menahan hawa nafsu selama 11 bulan ke depan, sebelum bertemu lagi dengan Ramadhan mendatang, untuk kembali khusus “berdekatan” dengan Al Khaliq selama satu bulan penuh.
Rumah saya pun pada hari ini penuh sejak pagi hingga petang. Tetangga dan handai tolan serta famili berdatangan dari Jabodetabek. Maklum saya sebagai salah satu anggota keluarga tertua dalam family, setelah kedua kakak perempuanku.
Ini hanya pembuka catatan saja. Sebenarnya ada satu hal yang amat menjadi perhatian saya dalam dua hari ini. Pertama tentang hebatnya enerji zakat yang dilakukan masyarakat.
Dalam waktu beberapa hari sudah terkumpul puluhan juta rupiah dan ratusan liter beras. Aku melihat seseorang yang menurut perkiraanku seharusnya mendapat jatah zakat (mustahik), tetapi ia malah menyerahkan zakat pada panitia.
Subhanallah, aku mbatin, semoga orang ini mendapat berkah dari Allah SWT.
Perhatianku kedua, betapa banyak orang menyediakan uang kecil untuk dibagikan kepada kanak-kanak yang berkunjung ke rumah.
Kanak-kanak tentu senang, bahagia, dapat membeli mainan atau pun mungkin buku sekolah. Ini tentu menjadi kenangan tersendiri bagi mereka, ketika mereka kelak dewasa.
Kalau zakat ini diadakan tiap bulan, mungkin tidak ada lagi orang yang menderita atau kelaparan.
Nah, aplikasi zakat dalam kehidupan sehari-hari adalah sedekah (sodaqoh) , yang amat didambakan dapat dilakukan semua umat yang memiliki kelebihan pada harta mereka.
Hal ini sudah diingatkan Allah SWT melalui salah satu hikayat, dimana seorang ahli shalat, puasa dan kiyamul lail, masuk neraka karena tidak memperhatikan kehidupan masyarakat sekelilingnya yang membutuhkan pertolongan.
Ketika saya menunaikan ibadah haji pada 2012, saya melihat di Arab Saudi sepertinya amat susah mencari orang yang akan dikasi sedekah.
Pada musim haji orang berbondong-bondong bersedekah. Dalam mobil mereka ada beraneka makanan yang akan diberikan kepada jamaah haji yang keluar dari masjid.
“Tolong doakan kami agar hidup kami diridhoi Allah SWT,” begitu kira-kira permintaan mereka sembari membagikan makanan.
Di beberapa tempat atau penginapan sebelum berangkat ke Mina, malah ada orang yang datang membagikan lembaran uang kepada calon haji yang sedang duduk-duduk di pelataran penginapan.
Mereka minta didoakan dan mereka yakin tempat tidak menentukan mustajabnya doa, melainkan orang yang khusuk sedang ikhlas berdoa, yaitu pada calon haji atau pun yang sudah melaksanakannya. Jadi doa tergantung orangnya.
Dalam berbagai hadis, dianjurkan agar umat Islam perbanyak sedekah sebagai naungan kita kelak di akhirat kelak.
Syeikh Maher al’Mueaqly hafidzahullah – Imam Masjidil Haram- menyebutkan, seorang mayit memilih bersedekah jika diberi kesempatan kembali hidup ke dunia, walau pun cuma satu hari.
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ
“Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” {QS. Al Munafiqun: 10}
Kenapa dia tidak mengatakan, “Maka aku dapat melaksanakan umroh” atau
“Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll?
Berkata para ulama, tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya bersedekah setelah dia meninggal dunia.
Rasulullah SAW bersabda,
“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)
Rosul SAW juga mengatakan, bersedekahlah atas nama orang yang sudah meninggal di antara kalian, karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mereka.
Dalam kitab diterangkan, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku.
“Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar aku bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari & Muslim).
Dalam berbagai kitab pun dianjurkan agar kita membiasakan anak-anak untuk bersedekah, agar mereka terbiasa bila dewasa.
Semoga kelak anak cucu kita menjadi orang yang ikhlas bersedekah, karena mereka mengetahuinya dari ilmu yang kita ajarkan.
Ternyata zakat (rukun Islam) serta bersedekah itu, statusnya amat tinggi, sehingga orang mati pun ingin dihidupkan sehari saja agar dapat bersedekah.
Di zaman Nabi SAW, sahabat rela menyedekahkan separuh dari harta mereka, bahkan semuanya untuk kepentingan umat.
Tidak seperti zaman now, kalau ada uang lima ribuan, sepuluh ribuan, limapuluh ribuan dan ratusan ribuan dalam dompet, bisa aja ada orang mengeluarkan recehan terkecil untuk tromol masjid.
Kalau kita mengerti ilmunya, tentu kita nanti tidak minta dihidupan sehari demi untuk bersedekah.
Wollohualam bissawab. (arl)