Ilustrasi - Ramadhan dan rahasia Allah. (majalahiqro)
Hari ke-24 Ramadhan ini bertepatan dengan Sabtu, tak lama lagi ia akan pergi meninggalkan siapa saja yang merasa rindu padanya.
Bagi yang tidak merasa rindu, pasti gembira karena bulan yang memenjarakan lapar dan haus serta melarang bersebadan dengan istri pada siang hari itu, sudah berada di pintu akhir bulan.
Puasa memang dapat “memenjarakan” nafsu sahwat manusia. Rasa lapar dan dahaga, dapat mengurangi keinginan khewani yang bersumber pada bagian perut ke bawah manusia.
Orang beriman yang melakukan puasa, harus menyatakan niat puasa karena Lillahi Taala – pada malam hari atau saat santap sahur,- sehingga syaraf rasa laparnya mematikan kontak rasa lapar dan ia tidak akan merasakan lapar pada siang hari.
Demikian pula dengan orang sakit atau yang harus minum obat pada siang hari, bila sudah berniat nawaitu maka ia akan sehat sepanjang hari.
Nah, di kalangan ahli agama atau sufi, rasa lapar merupakan hal biasa, karena itu merupakan bagian dari mujahadah, perang tanpa henti terhadap hawa nafsu.
Lapar bukan hanya dirasakan ketika puasa wajib selama sebulan penuh di bulan suci Ramadan tapi juga di bulan-bulan lain.
Puasa sehari, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari adalah puasa tahap awal, sebagai latihan bagi pemula untuk menapaki puasa-puasa selanjutnya yang lebih khusus dan memerlukan kesabaran dan ketabahan yang lebih.
Puasa Ramadan bertujuan untuk menjadikan orang bertaqwa, orang yang terbiasa dengan ibadah. Ketika taqwa telah dicapai maka baru orang tersebut bisa melaksanakan puasa-puasa khusus yang jumlah harinya lebih dari satu hari satu malam.
Bagi kalangan tertentu, seperti dilansir mimbar-rakyat.com dari sufimuda.net, bahkan lapar dalam satu hari itu bukanlah lapar yang sebenarnya. Salah seorang guru sufi pernah mendengar seseorang dari kaum sufi berkata, “Saya lapar”.
Maka Guru Sufi berkata, “Anda bohong”.
“Mengapa demikian?” tanya orang tersebut.
“Sebab rasa lapar adalah salah satu rahasia dari rahasia-rahasia Allah yang tersimpan rapat di ‘gudang-gudang’ simpanan Allah dan tidak akan diberikan kepada orang yang membocorkan rahasianya,” tutur Sang Guru.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj bercerita: Ada seorang dari kaum sufi datang kepada seorang guru Sufi. Kemudian sang guru menyuguhkan makanan kepadanya. Lalu ia makan.
“Sejak berapa hari Anda tidak makan?” tanya sang guru pada orang itu.
“Sejak lima hari,” jawabnya.
“Lapar yang Anda rasakan bukanlah lapar kefakiran. Akan tetapi lapar Anda adalah lapar karena bakhil. Bagaimana Anda bisa merasakan lapar sementara Anda masih berpakaian?” tutur sang guru.
Sahl pernah berkata, “Apabila kalian kenyang, maka mintalah lapar kepada Dzat Yang mengujimu dengan kekenyangan. Dan apabila kalian lapar, maka mintalah kenyang kepada Dzat Yang menguji dengan kelaparan. Apabila tidak demikian, maka kalian terus-menerus melampaui batas”.
Tidak ada orang yang diberi izin oleh Allah untuk meninggalkan puasa Ramadhan kecuali oleh sebab-sebab tertentu yang membuat dia tidak bisa berpuasa.
Oleh karenanya, syaum Ramadhan yang merupakan latihan lapar bagi kita semua bisa menjadi latihan untuk menapaki puasa-puasa lebih lanjut.
Guru Sufi memberi nasehat kepada murid-muridnya, “Kalau puasa sehari saja kalian tidak mampu laksanakan, bagaimana mungkin kalian bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya?”
Ini tentu merupakan “puasa khusus”, bagi orang khusus, yang terus berpuasa dengan nurani dan jiwanya tidak hanya di bulan Ramadan.
Inti pelaksanaan puasa itu amat luas, tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menatap dan melakoni perjalanan panjang perjalanan yang melewati berlapis-lapis “gudang” rahasia Allah SWT.
Hikayat ini semoga dapat membuka mata batin kita, bahwa puasa kita masih berada pada lapis paling luar dari pintu rahasia itu.
Karenanya, kita jujur saja pada diri sendiri, puasa kita masih merupakan puasa awam, belum mencapai jenjang puasa ahli agama.
Atau mungkin Anda sudah mampu “membaca” puasa Anda sendiri pada Ramadhan kali ini? (arl)