Ilustrasi - Pentingnya shalat dalam kehidupan. (panjimas.com)
Puasa sia-sia kalau meninggalkan shalat. Meninggalkan shalat berarti menumbangkan tiang agama, sedangkan menunaikan shalat berarti mendirikan tiang agama.
Allah dekat dengan hambanya tapi kita selalu menjauh. Beruntunglah orang yang mau dengan sadar ingin membersihkan hati.
Orang yang tidakshalat berarti menumbangkan tiang agama, dalam arti kata ia tidak ikut mendirikan bangunan untuk dirinya sendiri, padahal sebagai orang Islam ia berada di dalamnya.
Khatib shalat Jumat di masjid At Tin di Green Pramuka City (GPC) pada Jumat terakhir Ramadhan, amat menekankan pentingnya shalat dalam kehidupan umat Islam.
Ini merupakan rukun Islam, jadi aneh rasanya bila mengaku Islam tetapi tidak menjalankan rukunnya, tidak shalat.
Puasa sia-sia bila meninggalkan shalat lima waktu. Orang mampu tapi pelit juga puasanya akan sia-sia, karena ia tidak meperdulikan orang yang membutuhkan, padahal sebenarnya ia mampu menolongnya.
“Makanya untuk melaksanakan puasa harus ada penuntun, yaitu ilmu. Ilmu didapat dari orang yang mengerti tentang dunia Islam. Kita harus menuntut ilmu dari bayi hingga ke liang kubur,” kata khatib.
Dalam satu hikayat dilukiskan tentang seorang alim, yang rajin shalat, kiyamul lail (ibadah malam), puasa Senin Kamis apalagi Ramadhan, naik haji, zakat dan berbagai ibadah lain.
Suatu saat datang malaikat membawa buku tebal berisi catatan kebaikan manusia, namun dalam buku besar dan tebal itu tidak tercantum namanya.
Ia amat heran, sedih dan menangis sejadi-jadinya. Ia bertanya mengapa amal kebaikannya tidak masuk dalam buku si malaikat.
Si malaikat bahkan mengatakan ia akan masuk neraka, karena meski ia rajin melakukan berbagai ibadah, tetapi ia tidak memperdulikan saudara, handai tolan dan tetangganya yang kesusahan.
Ia hanya berjalan dari rumah ke masjid dan dari masjid langsung pulang ke rumah. Seolah-olah ia hanya sendiri bersama keluarganya di muka bumi ini.
Padahal dekat rumahnya ada orang yang kelaparan. Ia amat soleh secara akidah vertikal, namun tidak memiliki kesolehan sosial bersifat horizontal.
“Kita harus selalu mawas diri. Selalu istighfar minta ampun kepada Illahi Robbi yang membolak-balikan kondisi kejiwaan kita. Terkadang kita tidak sadar sudah berbuat salah, apalagi rasa sombong dalam hati kita terlalu besar dan susah dikikis,” kata khatib.
Hampir semua khatib di setiap shalat Jumat khususnya pada Ramadhan ini – termasuk penceramah kultum shalat tarawih – mengingatkan tentang pentingnya shalat dalam kehidupan ini.
“Kalau shalatnya baik, maka baik pulalah perilakunya yang lain,” kata si khatib.
Tapi saat ini, banyak orang yang rajin shalat, tetapi terlibat dalam perbuatan jahat, terutama melakukan korupsi makan duit rakyat – seperti operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK, melibatkan para pejabat negara dan sipil di hampir semua kota di Indonesia.
Maka pertanyaannya adalah : shalat yang bagaimana dulu? Puasa yang bagaimana dulu?
Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Jangan-jangan amal kita pun belum ada dalam buku tebal malaikat itu. (arl)