Hari ke-20 Ramadhan 1439 H : Yusuf Aman dan Abu Sangkan


Ilustrasi - Melaksanakan shalat khusyu''. (masjidku)

 Hormatilah orang puasa, bukan sebaliknya yang puasa menghormati orang tidak puasa.

Dunia sudah terbalik. Islam itu dirusak orang Islam sendiri. Makan, minum cendol, dll, di tempat terbuka, seenaknya. Padahal ia pakai jilbab.  Hormatilah orang puasa, jangan sebaliknya.

KH Yusuf Aman dalam kultum  shalat tarawih di masjid sebelah rumah, mengupas hal puasa secara singkat tapi padat.

Kunci puasa Ramadhan adalah pada 10 hari terakhir, ada malam 1000 bulan, malam Lailatul Qadar.  Fase ketiga puasa Ramadhan merupakan pembebasan dari api neraka. Apakah target puasa Anda sudah terpenuhi?

Belum. Masih harus membayar zakat. Pahala puasa masih tergantung di antara langit dan bumi, sebelum Anda membayar zakat. Minta kepada Allah swt apa yang Anda inginkan, minta secara berkelanjutan. Allohumma innaka afwa wafuanna.

Orang beriman yang berpuasa, pada akhir puasa mereka tak ubahnya seperti bayi yang baru lahir, suci dari segala dosa.  Tapi sekali lagi, itu berlaku bagi orang yang beriman.

Sebelumnya, ia meminta agar semua jamaah rajin melakukan shalat berjamaah di masjid. Khususnya shalat Magrib, Isya dan Subuh.

***

Petang tadi, saya melakukan perjalanan dan menunaikan shalat Ashar di salah satu masjid. Imamnya amat cepat.  Saya, mulai dari takbiratul ihram, hingga membaca Al Fatihah dan surat pendek, terlambat mengikuti gerakan imam, karena gerakannya berlangsung amat cepat.

Ketika i’tidal dari rukuk, belum sempat membaca doa, imam sudah sujud dan tak lama kemudian berdiri lagi. Saya merasa kurang khusuk, tidak tuma’ninah.  Hal seperti ini beberapa kali saya alami sebagai makmum di beberapa masjid.

Padahal ucapan ruku itu berarti: Maha suci Allah, Tuhanku yang Maha Agung. Kemudian I’tidal dengan membaca: Semoga Allah mendengar (menerima) pujian orang yang memujiNya. Dan ketika berdiri membaca: Wahai Tuhan kami. Hanya untukMu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sesudahnya. 

Kemudian sujud dan membaca: Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi dan dengan memujiNya.

Kemudian di antara dua sujud membaca: Ya Tuhanku. Ampunilah aku. Kasihanilah aku. Cukupkanlah kekuranganku. Berilah aku rejeki. Beri aku petunjuk. Beri aku kesehatan dan maafkan (kesalahan) ku.

Semua bacaan dan gerakan ini dilakukan hanya beberapa menit.

Padahal ini merupakan “dialog” dengan Yang Maha Pencipta, memuji dan memohon.  Kok rasanya tidak sopan banget ngomong terlalu cepat, bahkan belum selesai sudah melakukan gerakan lain.

Aku selalu gelagapan, mencoba membaca semua yang harus diucapkan dalam hati, dan berkali-kali ketinggalan.

Aku mengatupkan mulut dan membaca doa-doa shalat itu menggunakan hati. Aku membaca surah dan ayat dalam hati. Biasanya dengan menggerak-gerakkan bibir tapi kali ini melekatkan kedua bibirku.

Aku merasa dapat membaca lebih cepat. Subhanarabiyal azimi wabihamdi 3x..subhanarabiyal a’la wabihamdihi 3x. Aku dapat mengikuti kecepatan imam. Subhanalloh.

Aku pernah membaca Pelatihan Shalat Khusyu’ karangan Abu Sangkan (2005), yang menyatakan, “Anda tidak diajak untuk menciptakan rasa khusyu’, tetapi kita akan memasuki dan menerima rasa khusyu’ tersebut. Kita hanya mendapatkan,   bukan menciptakan rasa khusyu’.

“Perasaan khusyu’ tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat shalat kita sedang berhadapan dengan Allah,” kata Abu Sangkan.

“Berapa banyak orang yang shalat, namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah”, (HR Abu Daud).

Mengapa hal ini terjadi?

Karena suruhan menjalankan shalat menjadi aktivitas yang menjemukan, kata Abu Sangkan, bukan menjadi apa yang disebutkan Rasulullah SAW sebagai tempat istirahatnya jiwa dan tubuh.

Beliau SAW mengatakan kepada  Bilal, “Wahai Bilal jadikan shalat sebagai istirahatmu.”

Selama ini, umumnya orang mengatakan shalat merupakan hal yang membebani, kita merasa terbebas dari yang membebani itu setelah mengucapkan salam di ujung shalat.

Abu Sangkan memberikan ilustrasi.  Umumnya banyak orang merasakan shalat menjadi beban sejak kecil. Anak kecil selalu ditakuti kalau tidak shalat akan dijebloskan ke dalam neraka. Guru, orangtua, banyak andilmenakut-nakuti anak. Kalau mendengar suara azan, ada anak-anak yang merasa takut dan rasa ngeri menyusup ke dalam hati.

Pikiran anak, tanpa disadari, secara psikologis terganggu dengan doktrin itu. Kita tidak pernah disadarkan bahwa shalat itu untuk kebaikan, membuat pikiran damai dan tenang. Shalat sebagai tempat untuk mengadu di saat susah dan di kala pikiran buntu.  (Abu Sangkan, 2005).

Di saat muncul pertanyaan mengenai cara mencapai khusyu’ dalam shalat, muncul pula beraneka ragam jawaban. Ada yang menganjurkan untuk mengerti arti setiap kalimat yang diucapkan dalam shalat, ada juga yang menganjurkan memandang ke arah tempat sujud sebagai upaya fokus.

Tapi pada galibnya, semua cara harus menyentuh hakikat shalat, yaitu rasa berkomunikasi dan menerima respons dari yang disembah, kata Abu Sangkan.

“Kebanyakan orang mengira, bahwa jumlah bacaan dalam setiap gerakan shalat dijadikan ukuran waktu selesainya sikap berdiri, duduk, rukuk mau pun sujud. Padahal itu bukanlah sebuah aba-aba dalam shalat kita,” (Abu Sangkan).

Oh begitu ya. Apa kira-kira arti kalimat di atas?

Aku berusaha berpikir dalam-dalam, menyimak kata demi kata, tentang shalat khusyu’, untuk menerjemahkannya dalam shalatku sehari-hari. Ada ilmu dalam shalat yang harus dipelajari, sehingga ada ucapan, melaksanakan shalat harus didahului dengan ilmu.

Aku secara pribadi sudah mencoba mengimbangi imam cepat itu dengan membaca dalam batin, dengan mengatubkan bibirku.  Aku menyalahkan imam kok rukuk, sujud cepat banget. Emang yang dibaca apa sih? Eh, tapi ada juga imam yang baca surah amat panjang, sehingga pikiranku bercabang. Serba salah ya..mungkin harus sedang-sedang aja.

Tapi yang jelas, hari ini aku dapat dua ilmu, pertama tentang yang dikatakan Yusuf Aman, bahwa pahala puasa seseorang tergantung di awang-awang sebelum melaksanakan zakat (rukun Islam) dan kedua, cara menghayati shalat khusyu’ tanpa menyalahkan imam.

Kita bukan menciptakan rasa khusyu’ melainkan mendapatkan atau memasuki rasa khusyu’. Allahu Akbar.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *