Hari ke-19 Ramadhan 1439 H : Shalat Zuhur di Puri Arraya


Ilustrasi - Sedang shalat.

Puri Arraya cukup jauh dari tempat tinggal saya, lebih dari dua jam perjalanan menggunakan kereta api ke Bogor, kemudian naik angkot dua kali, kemudian jalan kaki ke dalam kompleks perumahan.

Pukul 09.00 wib saya sengaja berangkat dari rumah, karena ingin menunaikan shalat Zuhur di masjid Arraya di tengah perumahan yang berada di Ciampea Ilir, Bogor.

Saya naik KRL dari Stasiun Kramat menuju Stasiun Jatinegara dan disambung lagi ke Manggarai,  sebelum berangkai ke Bogor dari rangkaian kereta di jalur enam (6).

Manusia padat di kereta, baik yang menuju Jatinegara, menuju Manggarai dan yang berangkat ke Bogor.  Manusia komuter terus bergerak ke berbagai arah di seputar Jabodetabek. Terkadang seolah “tumpah ruah” di stasiun, tidak lagi seperti ketika saya pertama kali tinggal di Jakarta sekitar 1979 lalu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statisik, jumlah penduduk DKI Jakarta pada 2015 mencapai 10,18 juta jiwa.  Kemudian meningkat menjadi 10,28 juta jiwa pada 2016, dan bertambah menjadi 10,37 juta jiwa pada 2017.

Artinya, selama dua tahun terkahir jumlah penduduk di Ibu Kota bertambah 269 jiwa setiap hari atau 11 orang per jam.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan,  kalau mau hitung beban Jakarta jangan hanya jumlah penduduk yang terdaftar, tapi perlu dilihat juga yang beraktivitas di Jakarta dari kota sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Ia menjelaskan, Jakarta menempati posisi kedua kota yang paling terbebani di dunia.  Pertama Tokyo dengan jumlah penduduk yang beraktivitas sekitar 37 juta. Sedangkan Jakarta ada sekitar 30,2 juta orang setiap harinya.

Ini yang menyebabkan KRL menjadi salah satu pilihan utama untuk melakukan komuter atau pergerakan – dari pinggiran (border) Jakarta atau dari Jakarta ke kota perbatasan Jakarta. Sehingga jutaan manusia “tumpah ruah” pada jam sibuk di berbagai stasiun.

Saya menjadi salah seorang yang “terjepit-jepit” pada perjalanan hari ke-19 Ramadhan ini.

Kendati demikian, para penumpang sudah memiliki disiplin tinggi. Penumpang yang duduk, umumnya memberikan tempat kepada orangtua, wanita hamil atau ibu setengah tua.

Tapi ada juga yang pura-pura tidur, bahkan di tempat prioritas (bangku pada ujung atau pangkal gerbong) untuk orangtua dan wanita hamil sekalipun.

Ini hanya merupakan laporan pandangan mata ketika saya melakukan perjalanan ke Puri Arraya, untuk menunaikan shalat Zuhur.

Kok jauh amat, emang apa keistimewaan masjid itu?

Masjid itu tidak berdinding,  sajadahnya sudah mengeras karena sudah terlalu lama, ada kipas angin di beberapa bagian. Tidak ada keistimewaannya, dari bentuk fisik.

  • Lho, kok mesti shalat Zuhur ke situ?

+  Hatiku yang menggerakkan kakiku.

  • Apaan itu artinya?

+  Hati tidak selalu memberitahu ke mulut apa yang diinginkannya. Ia hanya menggerakkan bagian-bagian tubuh kita.  Makanya setiap hari mungkin hati membisikkan ke kakiku untuk melangkah ke masjid mana pun.  Selama Ramadhan aku bertukar-tukar masjid setiap waktu Zuhur dan Ashar.

  • Oooo aneh betul ya.. Mungkin karena ada disebutkan semakin jauh melangkah menuju masjid maka semakin banyak pahalanya.

+   Aku tidak memikirkan pahala. Terserah pada Allah swt yang memiliki hak prerogratif, mau memberi pahala atau tidak. Ia punya barometer untuk memberi atau tidak memberi pahala pada hambanya.

Angin semilir di masjid Arraya. Biasanya aku selalu sujud di sajadah di dalam kamar rumahku di Jakarta, atau di masjid di sebelah rumahku. Tapi hari ini, pada hari ke-19 Ramadhan ini, sajadahku di Arraya jauhnya sepanjang perjalanan dua jam lebih dari sajadah di rumahku.

Seluruh muka bumi ini adalah sajadah, orang boleh shalat dimana saja, kecuali di tempat yang bernajis atau di tengah kuburan.  Aku shalat Zuhur di masjid Arraya bukan untuk ngabuburit, tapi aku sendiri tidak dapat menjelaskan mengapa.  Yang pasti, aku ingin sujud “bercakap-cakap” dengan Allah Azzawajalla di tempat itu.

Aku tidak malu meminta banyak hal kepada Allah swt di masjid kecil itu. Aku memohon agar keluargaku sehat fisik dan jasmani. Agar keluarga dan keturunanku tetap solah dan soleha dan saling seia-sekata.

Agar keluargaku tetap sakinah, mawaddah, warohmah. Agar cucu keempat dan kelimaku yang masih ada dalam rahim putri pertama dan ketigaku sehat dan kelak menjadi anak soleh dan soleha.

Agar urusan keluarga tentang waris yang tak kunjung beres di kampung dipermudah Allah swt untuk menyelesaikannya.  Agar masalah itu tidak memecah-belah keluarga.

Aku takut sekali ya Allah, karena dalam kitab dinyatakan, salah satu dosa yang menyebabkan puasa tidak diterima Allah swt, adalah akibat dosa kepada orangtua dan keluarga yang bermusuhan lebih dari tiga hari.

Banyak sekali yang kuminta kepada Yang Maha Kuasa di masjid kecil itu. Air mataku menetes. Aku faham, niat baik dan permintaan baik di Ramadhann ini, diaminkan ribuan malaikat yang turun ke muka bumi dan semoga Allah swt mengijabahnya.

Seusai “berbincang” dengan Allah SWT di masjid itu, aku sejenak bersilaturahim dengan marbot penjaga masjid, menanyakan berbagai hal tentang lingkungan sekitar masjid.

Kemudian aku meninggalkan masjid, memulai perjalanan pulang, naik turun angkot, berkutat di tengah ribuan orang di stasiun-stasiun, bersidesakan dalam gerbong.

Ini merupakan catatanku, yang akan kubaca-baca nanti seusai Ramadhan, tentang perjalanan panjangku, shalat di Arraya, pada hari ke-19 Ramadhan tahun ini.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *