Hari ke-15 Ramadhan 1439 H : Perjalanan dan pelajaran hari ini


Ilustrasi - Perjalanan hidup anak manusia. (tebuireng)

Pada hari ke-15 Ramadhan ini, aku melakukan perjalanan ke beberapa tempat, baik di kawasan ramai mau pun di beberapa jalanan di perkampungan.

Dengan mengendarai kendaraan umum – mobil daring, bajaj, angkot – aku menjejakkan kaki dan menyusuri jalanan di kawasan Johar Baru, Atrium, Pasar Senen, Pasar Baru dan terminal Blok M.

Aku berjalan pada 10 hari kedua Ramadhan. Menyaksikan ramainya pusat perbelanjaan, manusia lalu-lalang dengan berbagai kesibukan.

Hari ini kita berapa pada pertengahan bulan puasa atau 10 hari kedua di bulan suci ini, biasa juga disebut fase pertengahan.

Ini merupakan hari-hari dimana fase transisi semangat, yaitu antara menurunnya semangat karena euforia Ramadhan di 10 hari pertama sudah usai serta sedikit timbulnya euforia menjelang Lebaran.

Pada 10 hari kedua bulan puasa Ramadhan ini merupakan hari-hari sulit dimana pada saat-saat seperti ini masjid dan musala mulai kehilangan sebagian besar jemaahnya.

Banyak jamaah terlibat memenuhi pasar,  mol dan berbagai tempat perbelanjaan lainnya, guna mempersiapkan keperluan 1 Syawal, atau keperluang pulang kampung.

Fenomena ini menjadi kebiasaan umum di Indonesia saat bulan puasa Ramadhan.

Padahal kalau kita lihat keberkahan yang dijanjikan Allah SWT bagi yang bisa melalui 10 hari pertama Ramadhan, dilanjutkan 10 hari kedua, keutamaannya adalah dibukanya pintu pengampunan Allah seluas-luasnya.

Ada hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah yang artinya seperti ini:

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Awal bulan Ramadhan adalah rahmah, pertengahannya maghfirah dan akhirnya itqum minan nar.”

Fase kedua Ramadhan ini keutamaan adalah maghfiroh yang kata dasarnya dari kata bahasa Arab  ghofaro yang berarti ampunan atau pengampunan.

Aku menyaksikan satu hal utama dalam perjalananku hari ini, tidak tampak lagi suasana bulan Ramadhan, suasana puasa, atau suasan saling menghormati antarsesama.

Hampir di semua kawasan jalan yang aku tempuh, orang-orang merokok seenaknya, restoran dan warung makan sudah buka, banyak yang tidak lagi menggunakan penutup di bagian depannya.

Ini amat kontradiktif dengan hadis di atas, di satu sisi 10 hari fase tengah ini merupakan masa pengampunan, tapi di sisi lain banyak yang tidak memperdulikan. Padahal shaum Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam, agar tidak disebut Islam ka te pe.

Suasana puasa akhirnya terasa lagi, ketika saya melakukan shalat Zuhur dan Ashar dalam perjalanan hari ini.  Banyak orang menunaikan kewajiban shalat di masjid dan dalam hati saya merasa pasti lebih banyak ketimbang yang pada makan dan ngebul yang saya saksikan di jalanan tadi.

Manusia memang tidak dapat disamakan amal ibadahnya, tidak dapat diukur pengetahuan agamanya, tidak dapat dinilai keimanannya, tidak dapat dipaksa peri laku keberagamaannya.

Aku mencoba memaknai arti perjalanan hari ini, memaknai nilai hidup ini. Mosok harus dipaksa agar orang shalat atau puasa. Semua ada aturan dan cara dalam memaknai agama dan semua kelak akan sama-sama merasakan akibatnya.

Aku mendapat pelajaran baru dalam perjalanan hari ini.

Allahu akbar.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *