Ilustrasi - Rumah di kampung. (sahabatnesia)
Buka bersama dengan teman-teman sekampung terasa luar biasa. Tertawa mengingat masa lalu, terkadang ngakak dengan lepas, sesekali ada yang berbicara serius di pojok rumah.
Makanan berbuka puasa pun ada ciri khasnya, daun ubi tumbuk santan serta ikan gembung rebus disambal, ada juga ikan ditauco. Ikannya dibawa khusus dari kampung. Oi mak sedap sekali.
Dalam acara buka bersama ini, tentu didahului dengan pembacaan surah Yassin, tahlil, tahtim, tahmid, kuliah tujuh menit serta shalat Magrib dan Tarawih bakda shalat Isya.
Di antara yang datang berbuka puasa di rumah salah satu sesepuh anggota Ikatan Keluarga Muslim Timbang Galung (IKMTG) itu, H. Irmadi “Lokot” Lubis, berasal dari berbagai profesi, ada dosen, ada anggota DPR, ada dari kementerian, ada pedagang, ada militer, ada ustad, dan lainnya.
Semua yang hadir merupakan lintas angkatan. Ada yang sudah sepuh, ada yang setengah tua, ada yang muda dan ada juga remaja. Tentu saja terdiri atas lelaki dan wanita.
Kami berbicara lepas, tidak ada syak wasangka, tidak ada melecehkan orang, tidak ada ujaran kebencian, tidak ada ghibah.
IKMTG adalah komunitas pendatang dari Timbang Galung, Pematang Siantar, Sumatera Utara, yang bermukim di Jakarta, ada juga di Bogor dan Bandung. Timbang Galung merupakan tempat kelahiran wakil presiden ketiga RI, Adam Malik, yang menjabat dari 23 Maret 1978 hingga 11 Maret 1983.
Adam Malik sebagai wakil presiden Soeharto, setelah periode wapres Umar Wirahadikusumah dan Hamengkubuwono IX.
Adam Malik sebelumnya juga wartawan dan ikut berperan mendirikan kantor berita Antara. Ia pernah juga menjabat menteri perdagangan, menteri luar negeri, ketua DPR, dan beberapa jabatan lain.
Si Bung ini menjadi inspirator bagi masyarakat Timbang Galung, yang banyak melahirkan para akademisi, atlet nasional, diplomat dan teknokrat. Sehingga ada pameo : Kapan lagi wapres atau bahkan presiden berasal dari Timbang Galung?
Nah, IKMTG yang sudah lama berdiri, hanyalah berupa wadah berkumpulnya sesama saudara dan keluarga dari kampung kecil nun jauh di Sumatera Utara – daerah lintasan bila ingin berlibur ke tempat wisata Danau Toba.
Ini berupa wadah berkumpul untuk kangen-kangenan mengingat masa lalu di kampung, apalagi bagi sesama teman sekolah. Bayangan masa lalu yang sudah puluhan tahun, terasa baru seminggu, bersileweran berbagai rekaman gambar dan peristiwa dalam kepala.
Bila sudah berkumpul seperti ini, terasa berada di kampung halaman, yang wujudnya sudah jauh berubah, dibanding sekitar 30-40 tahun lalu. Tapi dalam temu komunitas ini, terasa suasana amat sejuk, gembira dan lepas semua pikiran dan keruwetan dan kesibukan, yang pasti selalu menyita waktu para anggotanya di luar sana.
Ini semua terasa amat indah, mungkin beginilah indahnya “kampung halaman” umat manusia yang sebenarnya – yang berada di balik alam fana ini.
Tapi tentu di sana lebih indah ya. Pasti tak terbandingkan. Wolluhualam bissawab. (arl)