Hari 5 Ramadan 1439 H : Membanggakan diri


Ilustrasi - (Fokus 4) -Tahun Baru. (youyube)

Satu yang paling saya takutkan: puasa saya tidak diterima Allah SWT.

Banyak banget orang berpuasa tapi hanya merasakan lapar dan dahaga. Apakah kita – terutama saya – termasuk hamba yang hanya merasakah lapar dan haus?

Ini salah satu rahasia Allah swt.  Dalam salah satu kisah disebutkan, ada seseorang yang melaksanan puasa amat taat, jangankan puasa Ramadhan, bahkan puasa-puasa sunnah lainnya.

Ia pun shalat malam seperti tak putus-putusnya, membaca Al Quran khatam berkali-kali,  tidak lupa berzakat fitrah dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Namun suatu saat datang malaikat membawa buku tebal tentang kebaikan dan menunjukkan namanya tidak ada tercantum di dalam. Ia berdebar karena takut membayangkan panasnya api neraka. Konon ia meminta si malaikat memeriksa lagi catatan pada bukunya. Tapi tetap saja namanya tidak ada tercantum.

Setelah didesak, si malaikat memberi petunjuk. Namanya tidak tercatat sebagai orang baik, karena ia tidak pernah memperhatikan lingkungannya, tidak mengindahkan kehidupan para tetangga, tidak mengetahui dan tidak perduli dengan kesedihan dan kepedihan hidup saudara dan orang dekatnya. Ia tidak memiliki kepekaan sosial.

Dalam kisah lain disebutkan, seorang kiayi masuk neraka sedangkan seorang penjudi masuk surga. Kok bisa?  Ternyata si kiayi setiap melihat orang itu bermain judi, ia mengambil batu dan meletakkannya di depan rumahnya. Demikian lah dilakukannya setiap hari, sehingga batu menumpuk.

Ia menunjukkan kesombongannya sebagai hamba Allah yang alim sedangkan ia tidak memahami apa yang menyebabkan orang lain itu bermain judi.  Bentuk riya ini tidak disukai Allah alla wajalla, sehingga ia dikisahkan masuk neraka dan tukang judi itu masuk surga.

Bahkan guru-guru agama kita dahulu kala menceritakan tentang kisah seorang pelacur masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang sakit dan kelelahan di tepi jalan.  Subhanallah,  sirullah yang tetap sebagai rahasia hidup.

Ah, aku jadi takut dan khawatir sekali menjalani puasa Ramadhan kali ini. Begitu banyak kesalahan dan keteledoran yang saya lakukan, entah disengaja atau tidak.

Ketika rukuk dalam sembahyang, bisanya aku melihat kaki sendiri dan membanding-bandingkannya dengan kaki teman di sebelah kanan atau kiri. Terkadang ada yang jarinya terlihat jarang, ada yang panjang-panjang dan lucu, ada pula yang bekas koreng.

Kini bila rukuk, aku berusaha untuk tidak lagi memandang ke arah kaki melainkan ke tempat sujudku di bagian kepala. Aku khawatir, aku tidak dapat konsentrasi, aku pasti riya bila kebetulan melihat kakiku lebih mulus atau lebih bagus bentuknya.

Jangan-jangan karena membanding-bandingkan kaki saat rukuk shalat menyebabkan shaumku tidak diterima Allah swt.  Auzubillahiminzalik.

Begitu hebatnya yang harus dipelihara di bulan yang penuh bonus pahala ini, bukan hanya tidak makan dan minum atau memelihara mata saat rukuk shalat tadi. Padahal mata memandang segalanya di luar sholat. Belum lagi telinga, tangan, kaki dan hati.

Allah SWT meminta malaikan Jibril membawa sebanyak-banyaknya malaikat ke muka bumi untuk menyaksikan betapa hebatnya hambaNya yang namanya manusia, dalam melaksanakan perintahNya. Semua seakan berlomba berbuat baik.

Kalau tidak menjaga tindak-tanduk – tidak melaksanakan kewajiban dan sunnah yang diperintahNya – betapa malunya kepada Allah ajawajalla dan para malaikatnya.

Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah perbuatan atau tindakan riya atau menyombongkan diri, sementara kita tidak menyadarinya.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *