Hari ke-6 Ramadhan 1439 H: Bagaimana puasa Anda?


Ilustrasi - Mengaca diri. (garlerisket)

Bagaimana puasa Anda pada hari keenam ini?  Pertanyaan ini ditujukan kepada saya, Anda dan kita sekalian.

“Fasilitas” untuk menipu diri sendiri sudah terbuka kembali.

Kalau kita menipu diri sendiri, berarti kita sudah menipu istri, keluarga dan teman-teman kita.  Mereka semua tidak tahu tentang puasa kita.  Hanya aku dan Allah SWT yang tahu. Hanya Anda dan Allah SWT yang tahu.

Apa fasilitas untuk menipu itu?  Warung sudah banyak yang buka.  Rumah makan atau restoran sudah tidak malu-malu membuka diri. Sebagian menutup bagian depan dengan kain. Selalu ada siluman di warung-warung, kelihatan kaki tapi tidak tampak badan.

Orang merokok di tempat umum sudah banyak.  Bahkan ada seorang tetangga tampak dari kejauhan sedang duduk di pos tepi jalan dan memasukkan sesuatu ke mulut dan mengunyahnya.

Pada hari keenam ini, bukan rahasia umum lagi, jamaah di banyak masjid pun sudah mulai berkurang alias shaf sudah maju ke depan.

Nah inilah kenyataannya. Saya menumpang angkot 35 dari Johar Baru menuju Hotel Borobudur.  Supir angkot dengan santai merokok, ngebul, sesekali meneguk kopi dari mangkuk plastik.  Di sebelahnya duduk temannya dan inilah dialognya.

“Saya tiga hari pertama puasa di kampung. Perasaan enak puasa bareng sama keluarga,” katanya.

“Dua hari di sini saya puasa tapi tidak shalat. Sekarang tidak puasa dan tidak shalat,” lanjutnya.

Teman di sebelahnya diam tidak memberi komentar.  Tapi tak lama kemudian ia berujar dengan logat kental: “Kalau mau puasa ya di kampung aja lah.” Sampai di perempatan Tanah Tinggi, si supir turun dan teman di sebelahnya menggantikan kedudukannya. Mungki  ini yang dinamakan “supir tembak”.

Sebagai supir angkot yang berada di jalanan seharian,  mungkin ia merasa dahaga dan bila sedang bekerja keras memang dibolehkan tidak berpuasa. Tapi suatu saat harus diganti. Tapi kenapa ia tidak shalat? Bahkan akhirnya puasa tidak dan shalat pun tidak.

Apakah ia belum termasuk orang yang beriman? Panggilan puasa Ramadhan itu adalah untuk orang yang beriman, bukan hanya untuk orang beragama Islam.  Setelah mampu mempertahankan keimanan, baru menjadi orang yang bertakwa.

Usia manusia amat singkat, apalagi bila dibanding dengan usia manusia jaman dahulu kala – menurut hikayat bisa mencapai ratusan hingga ribuan tahun.

Manusia menyatakan,  dilihat dari sisi pengumpulan amal kebaikan, tentu manusia kalah dari manusia doeloe. Tapi Allah swt maha pengasih,  ia memberi pedoman bahwa dalam salah satu hikmah Ramadhan adalah malam 1000 bulan, malam lailatul qadar.

Manusia diberi kesempatan dan peluang untuk menambah pahala keimanannya berkali-kali lipat. Inilah bulan bonus, bagi siapa saja yang mampu memanfaatkannya.  Kalau bekerja dengan keras dan ikhlas,  pasti mendapat hadiah dari Allah swt.

Tapi bagi orang yang belum beriman, tentu tidak perduli dengan bulan bonus ini. Jangankan melaksanakan shaum Ramadhan, bahkan menunaikan shalat wajib pun diabaikan.

Kita semua dapat bercermin pada diri kita sendiri – pada hari keenam Ramadhan ini – bagaimana puasa kita?  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *