Usia 73 tahun tetap narik bajaj


Pak Acep penarikk bajaj, usianya sudah 73 tahun. (arl)

Lihatlah! Leher bagian belakangnya sudah mengeriput. Kedua lengannya pun sudah mengecil, karena daging dan ototnya menyusut, sehingga kulit lengan bergaris-garis keriput mulai mendekati tulang.

Pada awalnya aku tak sampai hati menaiki bajaj yang dikemudikannya. Tapi tanganku terlanjur melambai di tepi jalan di Johar Baru. Ketika ia berhenti, ah wajahnya begitu renta, apakah ia masih mampu mengantarku ke tempat tujuan?

“Ke Jalan Juanda Harmoni berapa Pak,”

“Terserah Bapak aja.”

Aku sesaat tersentak, “Yang benar Pak berapa ongkosnya. Ntar saya kasi kedikitan atau kebanyakan.”

“Naik aja Pak, terserah bayarnya berapa. Yang penting kita sampai dulu ke tujuan Bapak.”

Ia menutup pintu bajaj dengan perlahan. Tak kusangka, kedua lengannya masih kuat, – amat cekatan mengemudikan kendaraan roda tiga itu. Ia membelokkan tumpangan saya itu ke kiri dan ke kanan untuk melewati kendaraan di depannya. Bila ia merem agak mendadak, tubuh “reyot” nya ikut bergerak ke depan. Topi tua yang kebesaran di kepalanya beberapa kali ingin terbang, tapi ia dengan cekat menahannya.

“Namanya siapa Pak?” Aku bertanya bila kami berada di lampu merah atau bila jalanan lagi macet.

“Acep,” jawabnya singkat. “Ya, Acep aja deh,” katanya ketika ditanya apa lanjutan namanya.

“Usia berapa Pak Acep.”

“Sudah 73 tahun.”

Pak Acep kemudian mengurai kata. Sebagian kudengar tapi sebagian lagi tak terdengar, karena bila bajaj sedang melaju kencang, suaranya terbang terbawa angin.

Ia menuturkan, anaknya ada empat orang dan cucunya enam orang. Semua keturunannya itu sudah saling memiliki rumah.

“Tapi saya ngontrak kamar. Istri saya sudah lama meninggal.”
“Separuh dari usia saya sudah menarik bajaj. Sebelumnya saya kerja serabutan. Tapi semua anak saya mampu menghidupi diri dan keluarganya. Saya tetap narik bajaj karena kalo tidak badan saya rasanya sakit-sakitan,” kata Pak Acep, yang ngaku ngontrak kamar di dekat-dekat Kampung Rawa.

Ketika melewati kawasan Kramat, pengemudi kendaraan keluaran India itu sempat mengomentari trotoar yang semakin lebar dan jalan semakin sempit. “Maksudnya apa ya Pak kok trotoar lebar banget,” katanya, tanpa menunggu jawaban, karena si Biru itu sudah harus maju lagi mengikuti arus yang menjalar perlahan.

Bila jalan di depan lengang, mampu juga pak tua itu melarikan bajajnya dengan kencang. Iihh, saya sesekali itir-itir juga. Alias khawatir sehingga berpegangan pada besi kecil yang membatasi duduk kami. Panas menguap. Bila peluh sudah meleler, pak tua itu mengusap wajahnya dengan lengan kaosnya.

“Sewa bajaj berapa sehari Pak”

“Tujuhpuluh lima rebu. Beli gas 15 rebu cukup dari pagi sampe jam lima sore. Saya gak ngoyo. Bajaj masukin ke pulnya. Harus hati-hati juga. Kalo dulu bagian-bagian kecil bajaj yang hilang diambil maling. Sekarang semua bajajnya pun sudah selalu ilang,” kata Pak Acep.

“Alhamdulillah kita sampe Juanda Pak,” ujarnya. Dari kejauhan terdengar kumandang azan, waktu shalat Jumat.
Kuserahkan sejumlah ongkos. Wajah Pak Acep berseri. “Terima kasih Pak,” katanya.

Apakah Pak Acep termasuk rakyat kecil yang berjuang cari makan di Ibukota? Tapi dia tidak ngoyo.

Ah. Semoga Pak Acep sehat-sehat aja ya! (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *