Tiga jam bersama SSU


Sakti Saung Umbaran berkumis dan rambut putih. (arl)

Karakter yang unik. Siapa pun yang mengenalnya pasti tahu wataknya. Ia tukang bikin orang tertawa. Di mana pun ia berada, orang-orang pasti tertawa. Kalau ia sedang serius, orang pun bingung, apakah ia sedang serius atau becanda, atau marah. Ekspresi dan mimiknya dapat seketika berbeda. Terkadang bahkan ia pura-pura jatuh, atau seolah lengannya tersangkut di tiang.

Suatu waktu, dari pagi hingga siang, pandangannya mengarah ke luar jendela kereta api Argo Jati menuju Cirebon. Sawah atau ladang di sepanjang perjalanan kering bahkan sudah kerontang. Tanah retak-retak, pepohonan meranggas, padi hanya ada batangnya. Matahari seolah membakar lahan sepanjang perjalanan. Duh musim panas panjang nian.

Lelaki di sebelah saya, Sakti Saung Umbaran, berusia 66 tahun, mengarahkan wajahnya ke luar jendela kereta api sebelah kiri dan sepanjang pandang hanya kering kerontang. Lelaki berambut dan berkumis putih tipis itu menarik nafas dalam.

“Kering semua ya. Panas bangat alam ini,” kata mantan wartawan Pos Kota itu.

Ia bertutur ngalor-ngidul. Ada beberapa inti yang saya tangkap, di antaranya berupa ungkapan filosofis hidupnya. Sayang kata-kata yang meluncur dari mulutnya tidak tercatat. Tapi saya ingat, sebagian. Ia terus ngomong, terkadang seolah bergumam.

Kelihatannya pria yang berdampingan dengan saya siang ini, merupakan Sakti lain. Ia mengatakan, sejak kecil ia berada dalam lingkungan “bebas”, karena rumahnya pernah menjadi tempat berkumpul para artis, sutradara, para tokoh peran dan seniman lainnya.

Di antaranya Emilia Contessa, Mike Wijaya, Rina Hasim, Rita Zahara, Soultan Saladin, Dicky Zulkarnain, Wahyu Sihombing, Asrul Sani, Teguh Karya dan lainnya.

Kok bisa? Oh ternyata ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) pertama, Soerjo Soemanto, adalah ayah Sakti. PARFI didirikan para pemain dan pekerja film awal Maret 1956 dengan tokoh Usmar Ismail dan Djamaludin Malik.

“Dulu saya diajak main filem dan teater, tapi saya gak mau. Berbagai seniman kumpulnya di rumah saya yang merangkap kantor. Kalo mau ntah jadi ape gue sekarang,” kata Sakti, anak ketua PARFI 1956 hingga 1971 itu.

“Akhirnya gua jadi wartawan. Dulu mulai dari korektor. Hidup dan dunia saya sebagai wartawan saya jalani dengan asik-asik aja. Ada sekitar 35 tahun jadi wartawan Pos Kota, kata Sakti yang juga memiliki garis keturunan dari tokoh pers kondang wanita, SK Trimurti (1912-2008).

Sakti menuturkan, sejak usia 12 tahun ia sudah hidup bebas, bahkan bebas merokok dan ngeganja di depan orangtuanya. “Apa pun yang saya inginkan saya lakukan. Saya hidup bebas,” kata Sakti. Tapi..ada tapinya.

Orangtuanya menanamkan inti sari kehidupan pada Sakti. “Dalam hidup ini saya diajari dua hal oleh ayah saya. Pertama, jangan berbohong. Kedua, jadilah orang jujur,” kata Sakti. Ini menjadi pegangan hidup Sakti.

“Saya berusaha untuk tidak pernah berbohong dan saya berlaku jujur kepada siapa pun. Saya tidak mau munafik. Saya paling benci dengan berbagai komentar orang dan teman saya di media sosial, yang seolah sok benar dan sok alim,” kata Sakti.

“Waktu dulu rame-rame jaman pro-kontra antara Ahok dan Anis, ada temen yang tiap hari mendukung yang satu dan menghakimi yang satu. Saya bilang, kalo Ahok itu muslim dan Anis itu agama lain, apakah lu masih tetap dengan komentarmu yang sinis? Terdiam lah itu kawan. Makanya jangan suka adu domba,” kata Sakti.

Dalam setiap kesempatan – bahkan tidak hanya dalam perjalanan dengan Argo Jati – Sakti selalu mengungkap pengalamannya dengan berbagai tokoh dan atlet nasional, yang dulu menjadi bahan liputan puluhan tahun.

Ia masih ingat semua, bahkan dengan tahun dan kejadiannya, baik di dalam mau pun di luar negeri. Ingatannya cukup tajam. Sakti juga hingga kini ternyata mengikuti / membaca komentar, tulisan, karya teman-teman lamanya. Ia bahkan bisa memberi komentar. Si anu tulisannya seperti ini, si anu buat cerita pendek seperti ini, si anu buat puisi seperti ini,” katanya, sembari terkekeh bila ada yang dianggapnya lucu.

“Saya sih gak bisa nulis kayak mereka, tapi mereka juga pasti gak bisa nulis kaya saya. Saya sih gak munafik. Pernah mereka saya tantang nulis dalam bahasa Inggris. Bahkan bahasa Belanda. Mereka diam saja, padahal saya pun tak bisa, hahaha,” katanya, mulai keluar lucunya.

Tapi sesaat kemudian ia serius lagi. Pandangannya sesekali dilempar ke bagian jendela sebelah kanan, ke arah tempat duduk Widya dari sekretariat PWI pusat serta Prof Rajab Ritonga – yang keduanya tak putus tawanya bila mendengar guyon Sakti.

Di Kabupaten Kuningan, tempat uji kompetisi wartawan, Sakti dengan sigap dan lantang menjelaskan tentang masalah pedoman pemberitaan ramah anak (PPRA) dan menjawab setiap pertanyaan dengan sigap. Haha..ia bisa serius juga.

Dalam perjalanan kereta api selama tiga jam dari Jakarta ke Cirebon, lanjut ke Kuningan dan nginap sekamar berdua dengan Sakti, saya merasakan Sakti ini beda dengan Sakti yang selama ini saya kenal dan mungkin di kenal orang.

Selama ini ia tukang guyon – itu pasti diketahui orang – tapi ada sejumput inti kehidupan yang saya baca dari kebersamaan beberapa jam dengannya. Ia pun ternyata terbiasa bangun dan mandi ketika azan subuh berkumandang. Ia shalat dengan khusuk. Ia konsisten dengan rutinitas kehidupannya.

Dalam berkenalan dengan orang lain – bahkan dengan pejabat sekali pun – Sakti selalu mengatakan, dalam hidup ini ada tiga hal yang dibutuhkan manusia, yaitu : main musik, main sepak bola dan main perempuan.
Pendengar umumnya terperangah mendengar kata “main perempuan itu”. Tapi ia melanjutkan:

“Saya suka musik, bisa nyanyi, hobi sepak bola dan tentu saja main perempuan, …istri saya,” dengan nada kocak Sakti penyuka musik rock itu membuka pembicaraan dengan kawan barunya dan semua akhirnya “encer”, kebekuan jadi guyon berkepanjangan.

Bila sudah demikian, orang pun selalu bertanya, “Sakti kok gak keliatan. Mana dia.” (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *