16 Tahun Memijat di kapal


Sudah 16 tahun memijat di kapal. (arl)

Sudah banyak pekerjaan yang saya lalui. Memijat di kapal ini sepertinya menjadi pilihan yang saya hayati,” kata tukang pijat itu. Sebenarnya ia tidak hanya memijat tubuh penumpang, tetapi juga membekam dan merefleksi kaki.

Kaki saya direfleksinya malam itu. Kapal terasa bergoyang. Sesekali ada suara berderak-derak pada bagian tertentu dari kapal itu. “Angin lagi kencang dan ombak besar,” kata pemijat itu, Abdul Malik, yang baru berusia 37 tahun.

“Dulu saya pernah bekerja sebagai penambang emas. Pernah menjadi koki di restoran di beberapa kota. Kemudian belajar membekam dan memijat. Akhirnya jadi pemijat di kapal ini,” kata Malik, kelahiran Rangkas Bitung.

Malik bersama seorang rekan lainnya, menawarkan pijatannya kepada para penumpang yang bergelimpangan santai di berbagai bagian lantai kapal – yang khusus tempat lesehan, karena di kapal besar itu tidak ada tempat duduk. Ubin kapal itu bersih dan kepada penumpang dikasi bantal untuk tiduran. Di bagian dalam kapal tidak dibolehkan merokok. Ada pula musola cukup besar. Hati-hati, arah kiblat terkadang berubah, lain arahnya saat sandar, lain pula bila sedang berlayar.

KMP Virgo 18, buatan Jepang 1990 dan mulai beroperasi secara regular (bukan eksekutif) antara Bakauheni – Merak sejak 2014. Di situlah Malik mencari “sesuap nasi dan seteguk air”, untuk memenuhi kebutuhan isterinya yang berasal dari Pandeglang, serta dua orang anaknya.

Dalam sehari semalam, Malik mengikuti empat trip pelayaran Virgo 18 dari Bakauheni – Merak pulang pergi.

“Sekitar pukul empat subuh kapal ini mendarat lagi di Merak dan saya turun untuk pulang ke rumah saya,” tutur Malik, Minggu 10 November 2019.

Pada setiap pelayaran, Malik membayar ongkos sebesar Rp15.000,-, sama dengean penumpang lain. Sedangkan kalau penumpang ingin masuk ke ruang lesehan yang lumayan bersih, membayar lagi Rp10.000,- Ia juga membayar sejumlah tertentu (kalau tidak salah dengar sejumlah Rp30.000,-) dalam setahun. Bila kontrak pelayaran kapal itu sudah habis, Malik berganti naik ke kapal lainnya.

Malik bercerita sembari memijat jemari kaki saya, rejekinya bekerja sebagai pemijat di kapal itu, tidak menentu. “Tapi umumnya ada aja orang yang minta bekam atau pijat,” kata Malik.

Ia menambahkan, bila pelayaran tengah malam, para penumpang biasanya banyak yang terlelap, karena kelelahan dalam aktivitas mereka sehari-hari. “Kalau belum tengah malam, para penumpang itu hanya tidur tidur ayam,” katanya menceritakan pengalamannya pada setiap pelayaran antara dua sampai 2,5 jam itu.

“Apa suka dukanya sebagai pemijat selama 16 tahun di kapal? Apakah pernah merasakan ombak paling besar yang mendebarkan?”

Wah, pertanyaan itu tak sempat ditanyakan. Malik keburu beringsut berdiri setelah dibayarkan Rp200ribu, usai membekam punggung dan memijat pundak mantu saya Reza “Razer” Pahlevi, serta merefleksi kaki saya.

Yang jelas, Virgo 18 pernah bersenggolan dengan kapal Windu Karsa Dwitya pada 22 April 2019, sekitar 1,5 mil laut dari Pelabuhan Merak. Satu anak kapal hilang dan seorang penumpang luka.

Tuuuuuuutt. Terumpet kapal berbunyi, Alhamdulillah kami tiba di Pelabuhan Merak. (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *