Ode kepada maling


Ilustrasi - Ode kepada Maling (kaskus.co.id)

Ada pencopet, penjambret, pencuri, perampok

Kau di antara mereka

Ada dengan kekerasan, Curas kata polisi

Artinya mencuri denga kekerasan

Tapi ada pula yang kleptomania

Apakah kau maling budiman seperti jaman kerajaan dulu ?

 

Karena makanmu

Karena keluargamu

Karena uang sekolah anakmu

Karena sakitmu dan keluargamu ?

Entahlah, karena banyak penganggur

Tapi sebenarnya banyak pekerjaan

Kau malas barangkali,

Atau sudah keenakan mengambil yang bukan hakmu

Apakah kau punya agama

Apa kata tanganmu nanti di hari kemudian

Tak maulukah kamu di lihat keluarga,

Teman dan tetanggamu?

 

“ah daripada koruptor, pembunuh, pemerkosa, pelacur,

Melacur, menimpa istri

Orang atau di timpa suami orang?”

 

Ah, betul juga kau. Itu pandangan dunia yang benar

Tapi mengapa kau banding-bandingkan

Agar tak sudi memaling?

 

“ini profesi mulia.

Kan tak menyakiti orang.

Yang kuambil pun tidak banyak.”

Sudahlah,

Sekali maling tetap maling,

Tetap melanggar hukum

Nanti di tangkap polisi

“akukan malingbeneran.

Ketimbang maling di atas, pejabat, dan konglomerat itu,

Apa tidak maling?”

 

Ah, kau jangan nuduh sembarangan,

Nanti di tangkap polisi

 

‘kok polisi melulu.

Apa tidak ada polisi yang maling

Orang kemalingan pun di maling

Tak ada yang berani melapor

Itukan namanya kena maling di maling?”

Jangan nuduh, sembarangan, itu kan oknum,

Tidak semuanya

Daripada profesi maling

Semua maling

Polisi kan banyak yang baik,

Tidak semua dirty police

Tapi ada juga polisi simulator SIM yang milyaran rupiah

Bah, ada juga ahli agama yang korupsi pengadaan Al Quran.

 

“Kan lebih baik maling beneran, daripada maling

Menyamar, ketimbang maling teriak malling.

Maling berdasi mana mau disebut maling.

Kalau saya biarin disebut maling.

Tuhan kan tahu nanti tidak di tanya-tanya lagi.

 

Malilng kok bawa-bawa nama Tuhan.

Tapi mungkin benar juga

Ia lebih suka kau ketimbang mereka-mereka

Mereka yang mengambil uangmu,

Mengambil uang negara, menyedot uang rakyat

Wajar juga jadi maling beneran

 

“Nah diam toh? Pasti kau mulai memasuki alam pikiranku.

Aku bisa membaca pikiran orang.

Aku pernah kuliah.

Ilmuku lebih tinggi di banding polisi-polisi itu.

Apalagi gelar bisa di beli. Lihat saja profesor, doktor dan

Segepok orang bergelar itu, yang jadi menteri itu

Mereka jadi anak buah presiden yang tak sekolah,

Yang tak punya gelar kecuali kiai haji

Mereka semua takut, walau dalam hati berontak

Mereka jadi maling dalam dirinnya sendiri

Ia mencuri nuraninya.

Makanya gampang saja di gonta-ganti, malu-maluin saja”

 

Huss. Kau semakin menjadi-jadi, maling

“Apa tadi kau bilang? Malling budiman?

Aku senang mendengarnya.

Tolong ceritakan pada anak binimu tentang hal itu, biar

Anak biniku tidak sakit hati, walaupun mereka tak tahu

Aku malinng.”

 

Sudahlah.

Tak pernah aku menemui maling sepertimu.

Kau maling lain.

Tapi maling lain itu tetap maling, mengambil milik orang.

Aku tetap tak suka dengan maling.

 

Hai maling-maling, jangan kau rogoh saku orang,

Jangan kau sikat barang orang

Jangan kau kerontangkan negara ini,

Jangan kau hisap alam ini, jangan kau permainkan

Sukma ini

Jangan

Jangan

Maling

Maling

Jangan kau biarkan maling mengambil rasa tegamu

Agar jangan

Maling tak maling tak ada maling memaling .

***

Jakarta, 2000 – 2012 (ar loebis, mimbar-rakyat.com)

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *