Kesan pertama di Oakleigh East


Salah satu simpang di Oakleigh, Melbourne.

Jalanan sepi tak ada kendaraan lewat. Para penghuni  bangunan rumah sepanjang jalan mengunci diri di kediaman mereka. Ada dua mobil parkir di tepi jalan di kejauhan, selebihnya di pekarangan. Saya berada di ujung gang di tepi Black Street, Oakleigh East, 14 km tenggara Melbourne, pada akhir minggu pertama Maret 2019.

Cuaca dingin Autumn, 16 derajat selsius. Tapi sinar mentari bersinar terang sesekali mengintip di balik sekelompok awan.  Sesaat  mendung ketika awan berarak dan tak lama kemudian terang lagi. Angin pun sesekali menderu, terasa seperti mengipas dan melibas di telinga.

Dari tikungan seberang jalan, mobil datang melintasi tempat saya berdiri dan pengemudinya, seorang pria paruh baya, menganggukkan kepala. Saya menoleh kanan kiri, tapi hanya saya dan cucu berangkat remaja yang berdiri di ujung gang jalan itu.

Sekitar 10 menit kemudian, mobil kedua muncul lagi, dan hal sama dilakukan pengemudinya.

Kemudian lengang berkepanjangan, suara angin terkadang menderu. Kulirik jam di HP,  pukul 11.00 waktu setempat atau sekitar pukul 07.00 WIB.

Dulu lama sekali pernah mengunjungi Perth dan Adelaide, tapi tak sempat mengamati hal semacam ini. Jadi ini merupakan kesan pertama berada di kawasan sepi Oakleigh East di bagian tenggara Melbourne.

“Atok kalau mau nyebrang jalan besar jangan langsung jalan walau tidak ada mobil,” kata cucu saya, Lubna Zahra Kalyani, gadis cilik berusia sembilan tahun dan sudah lebih dua tahun bermukim di kota itu.

“Kita harus ke simpang lampu merah dan penjet tombol. Tunggu sampai hijau baru kita nyebrang,” ujarnya, padahal jalanan benar-benar lagi lengang.

Luar biasa, saya membatin dalam hati.  Siang ini, baru hari pertama berada di Oakleigh, saya sudah merasakan nuansa amat berbeda dengan suasana sehari-hari di Jakarta, tempatku bermukim.  Suasana pengemudi mobil mengangguk dan suasana peringatan dari cucuku.

Kami menyusuri jalan, membelok ke arah 7 Eleven Clayton, bertemu dengan SPBU, ada dua kendaraan sedang mengisi bahan bakar.  Ada jalan memintas halaman SPBU menuju belokan jalan ke arah kanan SPBU dan aku melangkah memasuki halaman pompa bensin itu. Ee, si cucu lagi-lagi bilang jangan masuk, harus lewat jalan umum, trotoar di luar kawasan tempat mengisi bahan bakar itu.

Petang harinya, si cucu kembali mengingatkan sesuatu kali ini pada neneknya, ketika mengunjungi pasar swalayan Kmart. “Nek, jangan nyelak orang dan jangan bertanya ama dia.” Ternyata si nenek bertanya sesuatu kepada kasir dan ada seseorang sedang berjalan menuju counter kasir. Maksudnya, bertanyalah pada yang bukan kasir.

Di rumah, si cucu paling cerewet. Ia memberi tahu tempat pembuangan sampah basah dan kering. Tempat buang botol plastik, tempat buang tisu, tempat sendal dalam dan luar rumah, dan lainnya.

Ketika kami bermain ke Brighton Beach, si cucu kembali mengingatkan si nenek yang ingin beli roti yang dijual pedagang bermobil. “Nek jangan beli itu, kan belum tau haram atau tidak.” Ia kembali berucap, “Iih nenek bukannya minta ijin dulu mau berfoto di mobil,” ketika si nenek naik ke mobil kecil penjaga / pengaman pantai.

Apa kesan yang timbul dari anggukan pengemudi dan peringatan si cucu itu?

Rasa hormat dan disiplin.

Rasa hormat itu ditemui di berbagai tempat dan kawasan. Di jalanan umum, di mol besar  Chadstone, di pantai,  bahkan seorang ibu bule sempat mengejar dan memanggil untuk mengembalikan koin yang nyangkut di tempat khusus troli. Untuk menggunakan troli ketika berbelanja di Marmara “Halal Meats”, kita harus memasukkan koin ke dalam lubang dan usai menggunakannya bisa mengambil kembali uang logam itu.

Di Bandara internasional Melbourne yang terkenal amat ketat, terutama menyangkut bawaan dalam koper,  walau harus mengikuti antre lebih dari satu jam, namun bule petugas imigrasi yang memeriksa paspor hanya memeriksa sebentar, malah mengucapkan “thank you” – ketika disebutkan pekerjaan saat ini sebagai “senior citizen”.

Rasa hormat dan disiplin itu pasti bukan dibuat-buat. Bayangkan, mengangguk dari dalam mobil kepada seseorang tidak dikenal di tepi jalan sepi. Kemudian seorang bocah sembilan tahun sudah berdisiplin sedemikian rupa.

Hormat dan disiplin, merupakan dua kata sifat yang menunjukkan karakter dan kepribadian orang yang amat dibutuhkan dalam satu komunitas sosial.

Sifat ini mencuat dari orang per orang, namun akhirnya merupakan karakter wadah tempatnya berpijak: yaitu rumahnya, kampungnya, kotanya dan negaranya.

Ini kesan pertama berada di Melbourne, khususnya di Oakleigh yang termasuk dalam pemerintahan lokal Kota Monash.

Tapi menunjukkan betapa ragamnya sifat manusia, di siang berikutya, mantu nyaris bertengkar dengan seseorang, karena salah paham saat akan memarkir kendaraan di kawasan pertokoan China di Clayton. (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *