Ihrom


Ilustrasi - Pakaian ihrom.

Aku tertegun memandang dua lembar kain itu

Putih memanjang

Pembalut tubuh

Berhari-hari

Sembari ibadah, makan, mandi, tidur, jalan

Ini lembaran kafan dalam hidupku dalam gerak kami, jutaan jamaah

Dari segala arah, dari berbagai miqot

 

Aku tertegun memandangi dua lembar kain itu

Penutup bagian bawah dan atas badanku

Disunnahkan mandi dan memakai wewangian

Sebelum mengenakannya, tetapi kemudian muncul larangan

Doa dilantunkan: Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan diriku

Dari segala apa yang Engkau haramkan kepada orang yang berihram

Karena itu rahmatilah aku Ya Allah Yang Maha Pemberi rahmat.  

 

Setelah kain dibalutkan di bawah dan diselempangkan di atas

Dengan tanpa sehelai pun pakaian dalam

Kemudian niat dilantunkan, maka berlakulah larangan

Rafats, fusuq, jidal, berjima, berciuman, bersentuhan dengan dorongan sahwat

Tidak pakai wewanginan, tidak nikah dan menikahkan, tidak berburu khewan

Dilarang potong kuku, bercukur, cabut rambut

Mencabut dan potong pohon

Inilah inti tauhid, inilah inti Islam

Maha besar Allah yang sesaat mengharamkan yang halal pada hamba-Nya

Maha suci Allah yang sesaat melarang apa yang seharusnya sehari-hari dilakukan

Maha indah Allah yang memberi tahu inilah yang seharusnya dilakukan

Kemudian membuka simpul larangan, kembalilah ke alam bebas

Tinggal kau pilih apakah hidup dalam kebaikan atau keburukan

Apakah akan dijilat api neraka atau berleha-leha di surge

Panas Tanah Haram itu mengingatkan adanya dingin

Tapi kita tidak mengerti juga

 

Bagaimana kalau dalam Islam seterusnya dilarang potong kuku?

Bagaimana kalau dalam Islam dilarang potong rambut?

Bagaimana kalau dalam Islam seterusnya berihrom?

Dan apakah larangan rafats (porno), fusuq (maksiat) dan jidal itu merupakan

hal terbaik dalam hidup manusia?

Barang siapa mewajibkan dirinya berihram untuk berhaji pada bulan haji

maka tidak boleh ia berbuat rafats, fusuq dan jidal (QS.2:197).

Setelah membuka ihrom?

Lakukan apa pun maumu dan tanggung akibatnya.

 

Aku tertegun memandang dua lembar kain itu

Dua lembar kain putih yang membalut tubuhku

Tubuh kami-kami dan kita-kita, kelak

Tapi aku merasa sekarang

Ingatkan aku akan talbiyah itu Allah.

Bukankah Nabi Ibrahim pun mengatakan:

Wahai manusia sekalian, sesungguhnya Tuhan kalian sudah membangun sebuah rumah

Maka berhajilah. 

Ketika itu seperti dihadiskan Thabari,

Semua makhluk dari golongan manusia, jin, pepohonan, tanah, gunung,

air dan segala sesuatu yang mendengar seruan itu, serentak menjawab..

“Labbaika Allohumma Labbaik..”

 

Aku tertegun memandang dua lembar kain itu

Dua lembar kain putih yang membalut tubuhku

Yang menjadi rumahku dalam beberapa hari ini

Yang menutup semua aib pada fisikku.

Tapi Kau mengetahui aib yang ada dalam jiwaku

Ya Hayyu Ya Qayyum Ya Waajid, ampunilah cela dan dosaku

Dosa kami, keluarga, orangtua, keturunan dan saudakami

Yang sudah atau belum dibalut kain putih

Jadikan ihrom ini menjadi hijrah dalam kehidupan kami

Inilah “miqot” kami, berupa “ajal” menuju kehidupan baru kami

Oh Muhyi, Yang Maha Menghidupkan

Tumpas gunung dosa-dosa kami

Jadikan semua pakaian  dunia kami  menjadi ihrom dan miqot kami.

ooo

(dari kumpulan Puisi Tanah Haram by arloebis, 2013)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *