Hari ke-27 Ramadhan 1439 H : Selama 11 bulan setelah Ramadhan, what?


Ilustrasi - Ramadhan Kareem. (dakwatuna)

Shalat Tarawih malam ini merupakan yang ke-28, berarti ibadah berjamaah di bulan Ramadhan ini tinggal satu malam lagi. Dua malam ke depan sudah takbiran.

Kita akan mengucapkan Selamat jalan Ramadhan.  Bagaimana dengan 11 bulan berikutnya?

Dr Meizi Fachrial Ahmad dalam ceramah jelang tarawih di masjid sebelah rumah (Al Istiqomah) menjelaskan,  rasa syukur kepada Allah SWT bukanlah saat kita takbiran, melainkan apa yang akan kita lakukan setelah takbiran.

Apakah kita masih shalat berjamaah, apakah masih tepat waktu, apakah kita qiyamul lail, apakah kita tadarus Al Quran, apakah kita bersadakoh?

“Pada sebelas bulan berikut itulah kita tunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Kita melanjutkan ibadah yang kita lakukan ketika Ramadhan,” kata dr Meizi.

Nah, saya pernah menulis tentang Ramadhan ini pada 2015, yang ujungnya  mempertanyakan apa yang akan dilakukan manusia pada 11 bulan lain setelah Ramadhan.

Saya jadi introspeksi untuk diri saya sendiri,  apa yang saya lakukan setelah Ramadhan? Berapa kali saya membaca Al Quran dalam sebulan? Mengapa shalat berjamaah saya bolong-bolong. Kemana puasa Senin Kamis saya? Kemana sedakoh saya?

Di bawah ini ringkasakan apa yang saya tulis tiga tahun lalu:

Bulan Ramadhan merupakan momen menjalankan berbagai ibadah dan Sang Maha Pencipta menyatakan bahwa Ramadan menjadi waktu khusus untuk melakukan puasa wajib, sedangkan ibadah malam hari menjadi ibadah sunah.

Ini juga merupakan ibadah personal sekaligus sebagai ibadah massal karena pelakunya umumnya berbondong-bondong ke tempat ibadah–utamanya pada minggu pertama hingga kedua–, kemudian secara sugestif mundur dari kegiatan massal itu ketika isi masjid mulai surut, dengan berbagai alasan.

Kegiatan ibadah dalam bulan suci menyebarkan aroma spiritual sampai ke lorong-lorong jalan.

Maraknya kegiatan ibadah, bahkan relatif mengurangi tempat hiburan legal, apalagi ilegal. Ini terjadi karena dukungan sifat ibadah yang massal tadi sehingga semangat individual tumbuh, ditandai pula dengan jumlah rakaat salat sunah yang bertambah.

Ramadan disebut pula sebagai bulan berkah–dalam bahasa manajemennya berarti meningkatkan kualitas kerja (amal)–karena arti berkah berkonotasi bertambah.

Turunnya berkah bergantung pada masing-masing orang, bagaimana dia memosisikan keagungan Ramadan dengan berbagai aktivitas secara kualitas dan kuantitas.

Dalam menjalani ibadah perorangan sekaligus massal ini–ada pesan melalui hadis–banyak orang yang melaksanakan puasa, tetapi hanya merasakan lapar dan dahaga.

Mereka hanya puasa tanpa makan dan minum, tetapi tidak mempuasakan bagian-bagian lain dari fisik dan rohaniah mereka.

Dalam salah satu hikayat, disebutkan bahwa pada suatu siang Ramadan, pernah seorang sufi muda dipanggil Tuan Guru. Si sufi muda mengatakan, “Saya lapar.”

Tuan Guru memanggil anak didiknya tersebut dan berkata, “Kamu bohong.”

Saya benar lapar Tuan Guru. Mengapa Guru berkata demikian?” tanya si sufi muda.

 

“Sebab, rasa lapar adalah Sirulloh, merupakan salah satu rahasia dari rahasia-rahasia Allah yang tersimpan rapat di ‘gudang-gudang’ simpanan Allah dan tidak akan diberikan kepada orang yang membocorkan rahasianya,” tutur Tuan Guru.

Guru sufi memberi nasihat kepada murid-muridnya, “Kalau puasa sehari saja kalian tidak mampu laksanakan, bagaimana mungkin kalian bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya?”

Di kalangan sufi, rasa lapar merupakan hal biasa karena itu merupakan bagian dari mujahadat, perang tanpa henti terhadap hawa nafsu. Mereka merasakan lapar bukan hanya ketika puasa wajib selama sebulan penuh pada bulan suci Ramadan, melainkan juga pada bulan-bulan lain.

Puasa memang menimbulkan lapar. Akan tetapi, rasa lapar bukan untuk diungkapkan, melainkan untuk menutup jalan setan yang mencoba mengalir di pembuluh darah manusia.

Puasa sehari, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari adalah puasa tahap awal, sebagai latihan bagi pemula untuk menapaki puasa-puasa selanjutnya yang lebih khusus dan memerlukan kesabaran dan ketabahan yang lebih.

Puasa Ramadan bertujuan menjadikan orang bertakwa, orang yang terbiasa dengan ibadah dan ketika takwa telah dicapai, baru orang tersebut bisa melaksanakan puasa-puasa khusus yang jumlah harinya lebih dari satu hari satu malam lebih dari tiga puluh hari tiga puluh malam.

Semoga melalui syaum Ramadan–dengan segala bentuk ibadah yang kita panjatkan kepada Illahi Robbi–kita akan akan semakin dekat dengan Pencipta, tentu saja bukan dalam pengertian dekat dalam dimensi ruang, tetapi lebih pada kedekatan sifat secara hakikat.

Entah untuk ke berapa kalinya kita memasuki bulan Ramadan dalam kehidupan kita masing-masing. Akan tetapi, kita selayaknya terus mencari “Ramadan-Ramadan” lain, yang konotasinya tidak lagi hanya berupa kata “dahaga, lapar, dan tidak berhubungan dengan istri pada siang hari”.

Saudaraku, tulisan di atas sudah kutulis tiga tahun lalu. Bahkan hikayat dialog sufi dengan muridnya itu sudah beberapa kali kuulangi ketika mengutipnya pada tulisan lain.

Aku malu sekali, tak pantas rasanya aku seolah memberi “nasihat” atau petunjuk pada semua para pembaca.

Mengapa? Karena aku sendiri sering kehilangan arah dan kendali dalam 11 bulan berikutnya setelah Ramadhan. Bahkan mungkin pada saat sedang menjalani Ramadhan itu. Petunjuk dr Meizi itu amat membekas dalam hati.

Ya Allah, kembalikan Ramadhan itu padaku dan tunjukkan jalan dalam 11 “Ramadhan-Ramadhan lainnya”.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *