Hari ke-13 Ramadhan 1439 H : Jatinegara padat merayap


Ilustrasi - Pasar padat manusia. (konteks.org)

Frasa “padat merayap” biasanya diterapkan pada kalimat untuk menjelaskan betapa padatnya lalu-lintas di jalan raya atau pun di jalan provinsi menuju daerah-daerah pada saat mudik Lebaran.

Tapi istilah “padat merayap” kali ini rasanya pantas ditujukan pada betapa hingar-bingar dan padatnya pasar Jatinegara, dan tentu saja ini pun terjadi  di berbagai pasar, mol dan swalayan di Ibukota.

Inilah perjalanan saya pada hari ke-13 Ramadhan, tentu saja tidak seharian penuh. Melainkan hanya beberapa saat, untuk mencari beberapa keperluan guna santunan anak yatim.

Tapi saya memang ingin menyaksikan sudah seberapa “parah” pasar ini menjadi wadah dan sentrum tumpukan manusia pada 10 hari kedua Ramadhan.

Akhirnya saya tiba dan menyaksikan situasi di pasar itu, ya itu tadi manusia sudah “padat merayap”.  Istilah “padat merayap” ini sebenarnya sudah terjadi juga di Tamsi alias Thamrin City, seminggu sebelumnya.

Entah berapa banyak uang yang berputar di pasar-pasar bila manusia sudah mbludak seperti itu.  Para ustad selalu mengatakan,  tempat yang dicintai Allah SWT adalah masjid dan paling dibenci adalah pasar. Wah..kok begitu?

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menyatakan,  pasar adalah tempat yang paling buruk. Beliau bersabda:

 

خير البقاع المساجد وشرها الأسواق

“Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk  tempat adalah pasar” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3271)

Dalam hadits lain, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid. Dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar” (HR. Muslim)

Pasar kan tempat berniaga, mencari nafkah halal adalah berpahala?.

Rosul SAW mengatakan:  Memang mencari  nafkah yang halal itu berpahala dan sangat baik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Seseorang mengangkat kayu bakar diatas punggungnya, itu lebih baik dari pada dia meminta-minta kepada seseorang, maka dia dikasih atau ditolak” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

 

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang makan makanan apapun, maka itu lebih baik jika dari hasil kerja  tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Allah Daud alaihissalam, beliau makan dari hasil kerja tangannya” (HR. Bukhari)

Akan tetapi tidak dipungkiri, yang banyak terjadi adalah sebaliknya.  “Banyak dan sangat banyak terjadi transaksi haram di pasar seperti kecurangan,  penipuan atau riba, dll”. Maka dari itu, pasar adalah seburuk-buruk tempat di atas muka bumi.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

 

قَوْلُهُ وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا لِأَنَّهَا مَحَلُّ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ وَالرِّبَا وَالْأَيْمَانِ الْكَاذِبَةِ وَإِخْلَافِ الْوَعْدِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِي مَعْنَاهُ

“Sabda Nabi: “Dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar”. Hal tersebut karena pasar adalah tempat kecurangan, penipuan, riba, sumpah palsu, ingkar janji, dan berpaling dari mengingat Allah, dan lain-lain yang semakna dengan ini” (Syarh Shahih Muslim 5/171)

Transaksi haram yang telah disebutkan tadi, terkadang terjadi karena hawa nafsu dan terkadang karena memang tidak memiliki ilmu akan keharamannya. Dan kedua-duanya itu adalah haram, maka dari itu, harus berilmu sebelum berdagang.

Mereka yang berdagang dengan menggunakan hawa nafsu, telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan telah terjadi di zaman ini. Beliau bersabda:

 

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لاَ يُبَالِي المَرْءُ بِمَا أَخَذَ المَالَ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang sebuah zaman, yang mana seseorang tidak memikirkan lagi dengan apa dia mencari harta. Apakah dari yang haram atau dari yang halal?” (HR. Bukhari).

Masya Allah!  Aku sudah berada di pasar Jatinegara pada hari ke-13 Ramadhan ini.

Di pasar ini sudah tidak bisa lagi dibedakan orang yang berpuasa atau tidak.  Semua sudah sama. Warung makan sudah pada buka, orang menghirup kopi dan merokok seenaknya.

Suasana Ramadhan seperti sirna, pedagang kaki lima pun sudah merokok dan minum seenak udelnya, apalagi sinar mentari terasa seperti menyengat kulit.

Ketika melintasi warung makan, terlihat seorang wanita mengenakan hijab sedang makan, mungkin sedang “datang bulan”, tapi teman atau suaminya yang duduk di sebelahnya?  Ia sedang merokok dengan santai. Apakah ia “kedatangan bulan juga?”  Ya Allah, maafkan aku yang sudah seperti mengurus puasa orang.

Para pengunjung di hampir semua pasar dan mol di Ibukota, termasuk pasar Jatinegara,  sedang “padat merayap”. Aku menyaksikannya pada hari ke-13 Ramadhan ini. Aku ikut tertatih-tatih di dalam pasar yang isinya “padat merayap” itu.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *