Ramadanku di Melbourne


Ilustrasi - Berdoa. (pngdownload.id)

Sepanjang Ramadan 1440 H saya berada di Melbourne, jadi saya menjalankankan kewajiban shaum Ramadan di kota yang lagi bermusim autumn (gugur) yang cukup dingin. Cuaca akan semakin dingin pada musim berikutnya (winter) mulai Juli.

Ketika masih aktif bekerja sebagai wartawan di kantor berita Antara, saya beberapa kali ke negara yang lagi musim dingin dan sudah pernah merasai suhu di bawah nol derajat. Tapi hanya beberapa waktu, antara seminggu hingga satu bulan. Tapi kali ini di Melbourne, saya bermukim selama tiga bulan.

Ala mak, cuacanya gile amat, terkadang hujan, tak lama kemudian panas terik tetapi tetap dingin, angin kencang, tiba-tiba cerah. Orang sini pun bilang, ini lah kota yang dalam satu hari ada empat musim.

“Di sini tidak ada suasana puasa Ramadan,” kata teman, “Azan pun tak pernah terdengar.”

Sebagai agama minoritas, Islam memang berkembang di daratan Austrralia, namun ya itu tadi, masjid jauh, suara azan tidak ada keluar.

Tidak ada warung atau restoran yang tutup siang hari. Orang ramai makan siang, menyeruput minumannya di tepi jalan. Di tempat umum, orang-orang berpakaian bebas, ketat, seronok, terbuka, walau cuaca dingin.

Ini semua menjadi pemandangan biasa walau mata di arahkan ke delapan penjuru angin. Jadi kita hanya otomatis melihat (see), bukan memandang (look at) apalagi mengamati (watch).

Tidak ada siaran televisi atau radio dengan acara jelang buka atau jelang sahur.  Tidak ada teriakan anak remaja membangunkan sahur. Tidak ada suara tadarus dan salawatan dari masjid.

Ya, karena memang tidak ada masjid khsus di perumahan di Melbourne. Jangankan masjid di wilayah perumahan, masjid di tempat khusus saja ada yang diprotes warga, karena banyak mobil parkir di jalanan depan pertokoan, sehingga pembeli susah memarkir kendaraan mereka.

Namun kenyataannya, masjid banyak di Melbourne, dikelola berbagai komunitas muslim antarbangsa: Arab, Bangladesh, Turki, Pakistan, Mesir dan tentu saja Indonesia.

Tapi sudahlah. Tentang pandangan mata mengenai Ramadan serta data statistik pemeluk agama multikultural sudah saya tulis di bagian lain. Saya kali ini tertarik memikir ulang yang menjadi tafakurku saat shalat tarawih di Masjid Huntingdale, di bagian selatan Melbourne.

Mayoritas jamaah yang hadir dari Bangladesh, karena di kawasan Huntingdale banyak pemukim dari negara itu. Rata-rata mereka bersorban, gamis panjang, pakai kaos kaki (cuaca amat dingin).  Dan..tentu saja umumnya berjenggot panjang dan berewokan lebat.

Karena kita tidak mengerti bahasa mereka, maka bila ingin berwawankata harus menggunakan bahasa Inggris, ceramahnya pun berbahasa Inggris. Ketika suatu saat pernah shalat Jumat di situ, khatibnya pun berbahasa Inggris.

Aku tercenung, kami sama-sama mengangguk

Assalamu’alaikum brother, how are you, kata seorang jamaah berjanggut dan bergamis panjang.

Pandangan teduh penuh rasa persaudaraan.  Kentara sekali, ia tidak ingin pendatang seperti saya merasa janggal dan ganjil masuk ke dalam rumah Allah SWT itu.

Dimana-mana dua kata itu menjadi pengikat persaudaraan. Kata salam dan menanyakan “apa kabar saudaraku”. Ia menanyakan kabar berita kepada saudaranya.

Dimana pun tidak akan ada orang yang baru pertama kali bertemu – belum berkenalan –  tetapi sudah menanyakan kabar dan yang luar biasa menyebutnya sebagai “brother”, saudara.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kita selalu mungkin mengalami hal seperti ini, kemana pun kita bepergian, terutama ke luar negeri, yang jamaah masjidnya berbeda fisik, bangsa dan bahasa dengan kita.  Tapi apakah kita tafakkurkan?

Ini semua dapat terjadi karena iman. Keimanan kepada Allah SWT dan tentu saja pengakuan terhadap Nabiyullah Muhammad SAW. Kepercayaan kepada kitab satu-satunya yang tak berubah-ubah sejak diturunkan – Al Quran serta sunnah.

Islam di seluruh dunia mengakui keimanan ini.

Tapi mengapa kehancuran ummat terjadi dimana-mana? Perpecahan, pemecahbelahan, pembunuhan, permusuhan, pengadudombaan, pemboman, pembantaian.

Karena rasa keimanan tadi sudah “pecah”, karena diadu domba, karena Islam tidak bisa dipecah kecuali dari dalam diri Islam itu sendiri. Kini Islam sudah seperti buah ranum – yang bagus diluar tetap rusak di dalam. Karena perbedaan pandang dan akibat politisasi, karena ulah zionisasi.

Kejadian kehancuran Islam di berbagai negara sudah jelas di depan mata dan kini cikal-bakal akan terjadinya di negara sendiri sudah terlihat.

Sang brothrs yang berkeimanan sama sudah bertikai, karena kepentingan berbeda dan ada yang lebih condong ke arah kepentingan kelompok – hubbud dunya. Bukan untuk kepentingan bersama.

Di tengah jamaah yang asing di mata saya, di masjid Huntingdale,  saya merindukan dua kata itu saling diucapkan antarsesama Muslim di negara saya: Assalamu’alaikum..how are you brother?

oOo

Huntingdale, Melbourne, 25052019

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *