Ilustrasi - Doa ibu ayah sepanjang masa. (mengasahhati)
Tahukan Anda siapa teman abadi kita?
Tahukan Anda dimana letak cinta sejati?
Luar biasa, pertanyaan ini bukan datang dari seorang kiayi atau psikiater, atau ustad, atau dosen, atau siapa lah lagi yang intelektualnya tinggi-tinggi itu.
Siapa yang menanyakan dua hal berat ini kepada saya? Seorang tukang parkir!
Saya pun tak bisa mereka-reka untuk menjawab pertanyaan berat itu. Saya termenung sedangkan tukang parkir itu bolak-balik berdiri untuk mengarahkan orang yang akan memarkir kendaraan atau yang akan meninggalkan tempat itu.
Siang ini, di salah satu bangku kecil panjang di areal parkir di depan swalayan, seorang anak manusia – yaitu saya sendiri – sedang berusaha mengorek-ngorek nalar jiwa untuk mencari jawaban atas pertanyaan seorang tukang parkir.
Nah, coba Anda yang sedang membaca tulisan ini, cari jawaban sendiri atas pertanyaan tukang parkir itu, sebelum meneruskan bacaan.
Jawabannya sebenarnya amat sederhana, tetapi kena di hati. Sebelum menjawab pertanyaan ini, pasti terjadi “simpang-siur” dalam hati untuk mencari jawab. Ini merupakan hal penting, karena kalau dihayati kita akan melakukan kaji diri tentang teman dan cinta.
Saya beberapa kali memandangi wajah setengah tua di sebelah saya. Entah dari siapa dia mendapatkan pertanyaan dan jawaban yang menyita pkir, rasa dan karya itu.
Saya semakin mencermati kata-kata bijaksana yang mengatakan: do not judge people by the way they look. Atau do not judge book by its cover.
Setelah habis secangkir kopi dan waktu sudah menjelang zuhur, saya mengalah karena semua jawaban saya tidak tepat dengan frasa “teman abadi” dan “cinta sejati” itu.
“Gimana Pak, nyerah ya..,” kata si tukang parkir.
“Ya nyerah deh, saya bingung nih kok gak yang tepat.”
“Teman abadi kita adalah amal. Cinta sejati ada dalam diri orangtua kita,” katanya.
Amal ibadah dan perbuatan kita sendiri, katanya, yang akan menemani kita ke dalam kubur.
Cinta sejati bukan pada anak dan istri, tambahnya, karena istri kita bisa saja kawin lagi sedangkan anak-anak kita akan sibuk mengurus keluarga, suami dan anaknya.
“Jadi cinta sejati ada dalam hati orangtua kita. Ia mengingat kita di mana pun kita berada. Ia terus menerus berdoa untuk kebahagiaan kita. Mereka selalu menangis mengingat kita,” kata si tukang parkir.
Saya tersentak, saya tersentuh, saya merasa tertohok, mata saya mungkin memerah, karena terasa panas, mungkin karena airnya nyaris keluar.
Masya Allah, Subhanallah, Allahu Akbar.
“Itu teman kita di dunia dan akhirat, Pak. Saya jadi tukang parkir saja merasa bahagia, karena Allah memberi kesehatan bagi saya. Karena sehat, saya dapat melakukan apa saja. Saya bersyukur dan menikmati pemberian Allah,” katanya.
Orangtua kita, tambahnya, pasti mendoakan kita sejak kita dalam kandungan hingga mereka meninggal, tetapi kita selalu lupa mendoakan orangtua kita yang sudah tiada. Kalau pun ingat, kita hanya berdoa amat pendek untuk mereka.
Siang ini, bertepatan dengan alunan azan Zuhur, saya kehilangan kata-kata untuk menjawab mutiara hidup dari tukang parkir itu.
Saya menyalaminya, mengatakan terima kasih, dan bergegas ke masjid terdekat. (arl)