Tawa dan tangis


Ilustrasi - air mata dan tawa. (riaparyatno)

Tertawa itu tanda gembira atau sedang bersuka cita.

Menangis tanda luapan rasa sedih, terharu atau bisa juga sedang bahagia.

Tetapi janganlah tertawa sendiri dan sebaliknya jangan menangis beramai-ramai.

Tertawa merupakan adanya ikatan antarmanusia secara horizontal, adanya hubungan sosial yang merupakan ciri khas manusia normal. Menangis adalah tanda adanya ikatan  vertical dengan  Yang Maha Kuasa.

Ini inti khotbah shalat Jumat di masjid dewan dakwah di Kramat Raya, merupakan Jumat kedua setelah Ramadhan meninggalkan kita yang menunaikan puasa. Dalam kata lain, inti khotbah itu adalah tentang hablum minannas dan hablum minallah.

Tentang hubungan vertikal itu, merupakan ikatan atau hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Semakin khusuk berdoa minta perlindungan dan kebaikan dari Allah SWT, semakin bergetar hati sampai akhirnya mengeluarkan air mata, alias menangis.

Tapi sebenarnya, semua ajaran agama dan apa yang tersurat dan tersirat dalam kitab suci, adalah untuk keperluan di dunia.  Ajaran itu untuk mengatur tingkah laku, semua gerakan kita di dunia ini.

Semua gerak atau apa pun yang dikerjakan di muka bumi, adalah ibadah, sehingga Sang Pencipta mengatakan bahwa ia menciptakan manusia dan semua mahlukNya di muka bumi ini, untuk tunduk dan beribadah kepadaNya.

Bahkan diturunkannya manusia dan setan ke bumi pun, hakekatnya adalah untuk tetap beribadah kepada Nya, kendati si setan berusaha terus menggoda manusia hingga akhir jaman.

Mumpung masih bulan Syawal, kata si khatib,  ia mengingatkan agar apa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan hendaknya kita lakukan terus pada 11 bulan berikutnya hingga datang Ramadhan mendatang.

Apakah hal puncak yang terbaik yang selama ini selalu diabaikan manusia?

“Puasa, salat, naik haji dan yang lain-lain itu penting, tapi zakat dan infaq, sadakah juga teramat penting.  Berbaikanlah antarsesama manusia bahkan dengan mahluk Allah lainnya dan saling memberikan kepada yang membutuhkan bantuan,” kata si khatib.

Jangan tertawa sendiri. Mungkin maksud si khatib, jangan kita merasakan bahagia sendiri. Atau ntar dikira orang kita gila.

Kita secara iklas membantu saudara dan tetangga kita yang perlu dibantu. Bersosialisasi dengan lingkungan. Sesekali ikut rapat erte atau erwe, agar kita tidak menjadi manusia individualistis.

Begitu kuatnya inti persahabatan dan ikatan antarmanusia, sehingga ada diriwayatkan, air mata yang keluar dalam berdoa kepada Allah SWT, akan percuma karena tersandung akibat tidak pekanya seseorang dengan lingkungannya.

Hal seperti ini sebenarnya sudah selalu diutarakan para khatib dan ustad, namun memang baik untuk diulang-ulangi terus, karena sifat manusia selalu lupa sehingga hatinya harus selalu disentuh.

Imam dalam setiap salat saja tetap mengingatkan agar para makmum meluruskan barisan dan merapatkan shaf, karena ya itu tadi, manusia harus terus diingatkan untuk melakukan hal yang baik.

Bahkan sesekali pun harus diingatkan untuk tertawa dan menangis.

Subhanallah.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *