Ilustrasi - Menyatukan yang terkotak-kotak. (muslimdaily
Malam ini, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Johar Baru mengadakan tarawih keliling (Tarling) dan masjid dekat rumah dapat giliran dikunjungi. Ketuanya sekaligus memberikan ceramah singkat.
Banyak organisasi Islam yang bernaung dalam MUI, di antaranya NU, Muhammadiah, Persis, Alwasliyah, FPI dan lainnya dan MUI berusaha terus agar tidak terjadi “kotak-kotak”.
“Semua harus bersatu dalam ukhuwah Islamiah. Ini salah satu tugas kita, untuk tetap menyatukan yang terkotak-kotak,” kata ketuanya.
MUI amat menyikapi apa yang terjadi pada dunia islam saat ini. Perpecahan intern terjadi dimana-mana, merupakan hal yang menyedihkan bagi penganut Islam.
Apa pemicu perpecahan tersebut? Satu hal yang tidak bisa dikesampingkan adalah furu’iyah, yang dapat memicu perpecahan.
Secara etimologis atau secara bahasa, furu’iyah berarti perbedaan. Perbedaan tentang pandangan, pola fikir, pendapat, faham, dan berbagai perbedaan lain yang seringkali dapat memicu perpecahan.
Fakta saat ini, Islam telah terbagi-bagi menjadi banyak golongan. Di Indonesia, sudah banyak golongan yang menamakan golongan mereka dengan nama yang berbeda-beda,berdasarkan faham yang dianut.
Apakah perbedaan ini yang menjadi masalah? Tentu saja bukan, karena perbedaan adalah sesuatu yang wajar, bahkan selalu ada.
Perbedaan ini bahkan telah terjadi sejak zaman Rasulullah. Perbedaan faham itu seringkali terjadi di antara para sahabat. Namun perbedaan yang terjadi pada masa Rasulullah tidak menimbulkan perpecahan internal karena setiap terjadi suatu perbedan, perbedaan tersebut selalu bisa teratasi dengan adanya Rasulullah SAW sebagai rujukan dan pedoman.
Perbedaan baru banyak terjadi setelah Rasulullah wafat dan mulai terjadi banyak perpecahan. Banyaknya perubahan yang terjadi setelah wafatnya rasulullah membuat banyak para sahabat dan ulama melakukan ijtihad terhadap suatu hukum.
Kalau saat Rasulullah SAWmasih hidup, tentunya segala hal akan berpedoman pada Rasulullah SAW. Namun dengan meninggalnya Rasulullah, ijtihad para ulama sangat mempengaruhi perkembangan Islam pada masa setelahnya.
Perbedaan sudut pandang, pemikiran, kondisi, dan faham membuat para ulama memiliki ijtihad yang berbeda-beda. Karena perbedaan ini, muncullah golongan-golongan baru. Beberapa golongan ini kemudian menganggap golongan mereka sebagai satu-satunya golongan yang benar dan mengklaim golongan-golongan lain sebagai golongan yang salah.
Ini terjadi amat memprihatinkan. Dalam kondisi saat ini, seharusnya setiap golongan saling menghormati kepada golongan lain.
Tidak boleh ada saling menjatuhkan di antara sesama muslim. Setiap perbedaan seharusnya bisa menjadi bahan bagi setiap golongan untuk memperbaiki golongannya sendiri menjadi lebih baik.
Jangan selalu melihat sisi buruk dari golongan lain, karena setiap golongan pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan dari golongan lain bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki golongannya sendiri menjadi lebih baik.
Dengan adanya saling menghargai antar golongan, Islam tentunya akan jauh lebih kuat. Islam akan mampu menghadapi tantangan zaman jika mereka bersatu dalam visi yang sama demi mewujudkan kejayaan Islam.
Tidak ada suatu hukum yang dapat dianggap salah ketika hukum itu jelas sumbernya. Rasulullah tidak pernah menyalahkan pendapat dari salah satu sahabat yang memiliki pemikiran atau tindakan yang berbeda, selama pemikiran dan tindakannya tersebut memiliki dasar dan sumber yang benar dan kuat.
Perbedaan sudah lazim terjadi dalam hal tata cara ibadah dan sebagainya. Hal itu tidaklah seharusnya membuat Islam menjadi terpecah. Tidak ada yang boleh mengklaim sesat golongan lain selama apa yang mereka perdebatkan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah akidah.
Hal ini mungkin yang ingin diuraikan ketua MUI tadi, tapi karena waktunya amat singkat, menyebabkan tidak dapat dicerna dengan jelas oleh pada jamaah.
Ia menganggap hal ini amat penting, karena merasa khawatir jangan sampai Islam dipolitisasi pada zaman yang kemajuannya saat ini amat pesat.
“Kita ingin semua organisasi Islam bersatu, jangan mau dipecah-belah. Karena dengan bersatu, Islam menjadi amat kuat, tidak dapat disusupi unsur mana pun,” katanya.
Umat Islam amat kuat, hanya dapat dipecah dari dalam, dan hal ini kini sedang terjadi, sehingga MUI amat memprihatinkan dan berusaha menyatukan kembali “keretakan” itu.
Tarling MUI malam ini amat penting dicermati. (arl)