Fokus hari ini (1) – Pembersih Sepatu


Ilustrasi - Penyemir sepaatu..(IStock)

 Siang ini pasar Jatinegara rame pengunjung, Panas mentari seolah membara menempel kulit. Keringat mengalir. Pejalan kaki mengendap-endap mencari jalanan yang terlindung dari sinar tajam mentari.

Eh. ada penjual cincau, pembelinya antre sekitar enam tujuh orang. Cuaca panas membuat para pejalan ngiler menyaksikan cincau hijau dalam gelas diberi gula aren dan pecahan es batu.

Bagian saya tiba dan nikmat sekali ketika minuman itu melewati tenggorokan. Rasa ingin tahu, maka bertanyalah.

“Sudah lama jualan cincau Mas?”

“Tiga tahunan.”

“Kok bisa bertahan Mas. Eh jualan mulai setelah Covid ya”

“Ya betul. Pada awalnya payah Pak, Tapi saya fokus dan bersyukur. Bisa nyekolahin anak dan beli hape mereka.”

“Kalo panas gini sehari dapat berapa?”

“Alhamdulillah bisa dapat tujuh ratusan rebu rupiah. Bisa lebih bisa kurang. Kalo hujan sekitar separuhnya.”  Segelas cincau itu harganya Rp10.000.-

Tak jauh dari tukang cincau, seorang ibu setengah baya menenteng tas plastik besar dan di depan sebuah toko ia berteriak, “Nasi..nasi sudah datang..ayo makan siang.”  Ucapan itu diulang-ulang. Beberapa karyawan toko keluar membeli dagangannya/

Nasi bungkus dengan aneka lauk-pauk itu tersusun rapi dalam tas plastik dan ternyata sudah separuhnya terjual.

Rasa ingin tahu muncul. “Lauknya apa aja Mbak?”. Macam-macam, ada tahu tempe bacem, telor dadar, telor bulat sambal dan lain-lain,” kata si penjual. Ada juga sayuran yang dibungkus terpisah pakai plastik. Harganya bervariasi. Ada yang Rp5 ribu hingga Rp15 ribu.

“Tadi saya bawa 50 bungkus, sudah dibeli sekitar 20-an bungkus,” kata si Mbak yang mengaku dari Sragen. Biasanya hingga petang, nasi itu tinggal beberapa bungkus. Ia mendagangkannya dari toko ke toko.

Hebatnya lagi, ternyata nasi dagangannya itu dibeli di salah satu warung makan kenalannya. Ia bungkus sendiri, hitung sendiri dan langsung bayar. Terkadang dibayar petang hari. Seandai harga Rp5 ribu dan laku semua, dikali 50 bungkus, maka si Mbak pulang bawa uang Rp250 ribu.  Pasti lebih karena harganya bervariasi.

Tak jauh dari tempat saya duduk, tampak seorang pria sedang membersihkan sepatu yang diapit di antara lututnya. Ada lagi orang cari makan dengan cara begitu, seperti dahulu banyak dilakukan remaja, saat ngamen belum banyak.

Biasanya orang menyemirkan sepatu mereka, tetapi pria yang saya lihat tidak menyemir, melainkan membersihkan. Dan bukan sepatu kulit, melainkan sepatu terbuat dari bahan lain seperti kain, karet, busa, kanvas, dll.

Rasa ingin tahu muncul lagi, segera mendatangi. “Sudah lama jadi penyemir sepatu Pak?”. Ia menengadahkan muka, gerakan tangannya berhenti, , mengambil handuk kecil di leher dan menghapus keringat yang membasahi wajahnya.

“Sudah sejak zaman Covid, Pak.”

Bapak ini sepertinya tukang cerita. Ia berceloteh walau tak ditanya. Sepatu saya berpindah ke tangannya. Bukan sepatu kulit, melainkan Skechers, sepaatu santai dari kain-busa-karet.

Sudah hampir empat tahun ia menekuni kerja itu, mulai pagi hingga petang. Karena kini orang sudah jarang memakai sepatu kulit, maka ia sudah jarang menyemir sepatu, melainkan membersihkan, menggunakan sikat gigi bekas dan kain lap serta sedikit air.

Empat tahun begini? Luar biasa Pak, bisa menghidupi keluarga, tiga orang dan semua masih sekolah, dua di antaranya di perguruan tinggi.

“Berapa Bapak bawa pulang uang setiap hari?”

“Gak tentu, terkadang seratus rebu, terkadang kurang, terkadang lebih,” kata pria berusia 54 tahun itu. Sekali   semir sepatu dihargainya Rp15 ribu dan sekali membersihkan sepasang sepatu Rp10 ribu. Silahkan hitung sendiri berapa penghasilan si Bapak itu dalam sebulan.

“Tapi selalu gak saya hargai Pak. Terserah orang-orang aja mau kasi berapa. Habis mereka juga teman-teman saya sekitar pasar ini,” katanya. Ia mengandalkan rasa ikatan sosial dan kekerabatan,

Apa moral story dari tiga wawancara singkat ini?

Allah SWT tidak pernah menutup rezeki ummatNya. tentu saja bila ada gerakan dan kemauan, serta rasa syukur atas nikmat sehat yang diberikannya. Di jagad ini amat banyak pekerjaan halal yang bisa dilakoni, asal mau dan tekun! (arl)

***

Jalarta, 8052025.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *