H. A.R. Loebis
Malam ini saya Kultum di masjid sebelah rumah, sebelum jamaah melaksanakan shalat Tarawih. Pada malam kedelapan, pengisi ceramah dari luar sedang kosong dan saya didaulat naik mimbar.
Saya bicara tentang turunnya malaikat ke muka bumi. Malaikat Jibril as diminta Allah SWT turun ke bumi bersama para malaikat. Ini tercantum dalam surah 97 Al Qadr (Kemuliaan). Ada jutaan malaikat yang mengikuti Jibril, bahkan ada yang menyebutkan ratusan juta.
Jibril menancapkan tongkat berwarna hijau di atas Kabah dan meminta semua malaikat menyebar. Ada yang berada di udara mengaminkan doa orang-orang di dalam pesawat, ada yang di lautan mengaminkan doa dan zikir orang di dalam kapal-kapal.
Ada yang masuk ke dalam gedung besar di muka bumi, juga mengaminkan orang yang berzikir dan beribadah lainnya. Ada yang masuk ke dalam rumah rumah kumuh di dalam gang. Semua ruang dimasuki para malaikat.
Mereka kagum dengan makhluk manusia yang diciptakan Allah SWT, yang beribadah seolah tak putus putusnya, siang malam, pada waktu bulan Ramadan.
Allah pun amat membanggakan makluk yang diciptakannya dari tanah itu, kepada para malaikat. Ia Yang Maha Kuasa berfirman, “Aku sendiri yang akan memberikan pahala puasa kepada manusia, tidak melalui malaikatku.”
Ketika malaikat diminta naik kembali ke alam mereka, malaikat bertanya apakah semua manusia akan diampuni Allah SWT? “Ya, kata Jibril, kecuali empat golongan.”
“Siapa yang empat golongan itu ya Jibril?”
“Yang pertama, mereka yang minum khamar. Kedua, golongan yang melawan kedua orangtuanya. Ketiga, mereka yang memutuskan silaturahim dengan orang lain dan keempat golongan mushalin.” Kata Jibril.
Ketika Muhammad SAW menceritakan hal ini kepada kaumnya, salah seorang bertanya. “Wahai Rasul, siapakah golongan mushalin itu.”
“Mereka adalah golongan yang memutuskan hubungan dengan keluarganya dan tidak berbicara selama tiga hari,” kata Muhammad SAW.
Pada malam Idul Fitri, para malaikat kembali diminta turun ke muka bumi. Mereka berseru: “Wahai manusia, keluarlah, datangi Tuhanmu yang memberikan ampun dan berkah padamu.” Seruan itu didengar semua makhluk di muka bumi, kecuali manusia dan jin.
Allah SWT pun bertanya kepada malaikan. “Ya malaikatku, apa yang pantas diberikan kepada hambaku yang sudah bekerja?”
“Mereka pantas mendapat hadiah Ya Allah.”
“Persaksikan malaikatku. Aku memberikan ampun dan apa pun yang mereka minta,” kata Allah. Subhanallah.
Mendengar cerita ini, sahabat Nabi SAW bertanya, “Apakah itu malam Lailaautl Qadar Ya Rosul?”. “Bukan. Itu namanya Lailaut Jaa-izah atau Malam Hadiah.”
“Saudaraku semua jamaah Al Istiqomah,, marilah kita semakin memperbanyak ibadah kita kepada Allah SWT dan meningkatkan rasa takwa kita,” kataku mengakhiri Kultum itu, yang saya sarikan dari Fadhilah Amalnya Syeh Maulana Muhammad Zakaria Al-Khandahlawi.
Wollohu aklam bishowab. (***)