Ilustrasi - Mina. (islamiclandmarks.com)
Panas, gerah, tiada hembus angin
Tenda, dahaga, air, dehidrasi, temperatur
Hari ke hari, bersiliweran jutaan orang bercampur bus
bertiduran di tepi jalan berhari-hari beralas tikar
ada di kaki bukit bahkan di ketinggian bukit
seolah ingin menyamai gedung hotel bertingkat yang menjulang
di belakang tenda maktab
berebut ke kamar mandi, toilet nyaris 24 jam per hari semalam
lapar, dahaga tangan tengadah di depan maktab
Ya Allah, saudara kami itu entah bagaimana datangnya
Turun dari jamarah bahkan ratusan peminta-minta
Sebagian membawa anak kecil, bayi, seperti di Jakarta dan kota besar lainnya
Perbedaan kelas di mana-mana
Ini skenario Allah juga
Agar ada yang di atas dan di bawah
Agar ada yang mengasi dan yang menadah
Bagaimana kalau semua orang di atas?
Tak ada lagi yang akan menerima
Padahal ada ungkapan: Bersedekahlah sebelum tidak ada yang disedekahi
Sebagian orang Arab berebut bersedekah terutama di musim haji
Berbagai makanan dan buah dibagikan
“Kami berbahagia di musim haji dan kami memberi,
Karena kami ingin didoakan para haji, yang makbul doanya,” kata mereka.
Mina, tenda-tenda
Panas, gerah, tiada angin tapi tiada keringat
Aku berada di Mina Ya Allah
Yang dahulu hanya kudengar dan kubaca
Tapi kini aku duduk di sini
Berjalan, makan, tidur, shalat, memandang manusia dan bukit
Berebut ke jamarah melempar jumroh selama empat waktu
Ada Aqoba umroh
disusul tiga hari berikutnya ke Uso, Watsu dan Aqobah
ada elevator, tangga, bertingkat
mengurangi risiko seperti dulu
fasilitas berlomba dari waktu ke waktu
tinggal orang per orang menghubungkan
ujung kepekaan rohaninya kepada Illahi Robbi
Mina…Mina…Mina
Tempatku berteduh dari panas
Tempatku berdiam dari gerak
Tempatku berakselerasi dengan alam makro dan mikro
Tempatku membolak-balik pagina-pagina kehidupan
Tempatku mencoba menjahit halaman keberadaanku
Tampatku menjilid perjalanan usiaku
Agar dapat kubaca ulang setiap kali aku rindu padaMu.
ooo
Tanah Haram, 2013