Ipul


Ipul, Syaipul. (arl)

Tubuhnya ceking, kulit hitam, rambut tipis dipotong nyaris botak, tulang di atas alis mata menonjol, bicara sesekali, pernah ditipu sobat kentalnya sebanyak Rp20 juta sehingga kini tidak mau memegang telepon genggam.

Ah, ada yang aneh dalam diri supir angkot ini, aku membatin.

Sudah lama saya gak mau ngantongi telepon. Saya kapok. Saya trauma,” kata supir angkot yang mengaku bernama Ipul itu.

Jemarinya menempel kuat di setir angkot yang dikemudikannya, terkadang dengan sigap memutar ke kiri atau ke kanan, mengikuti jalur jalanan yang berliku dan mendaki.  Ini hari Minggu 27 Desember 2020.

Aku duduk di bagian belakang dan istri duduk di sebelah supir angkot.  Kami menuju Gunung Bunder. Aku nemani isteri “memburu” kembang dan keladi hias yang saat ini lagi ngetrend.

Dari Puri Arraya di Ciampea, kami naik angkot no 53 jurusan Segok.  Di pemberhentian akhir di Segok, cukup lama menunggu angkot berikutnya ke Pasar Rebo, tentu saja Pasar Rebo Bogor, bukan yang di Jakarta.

Sekitar 30 menit kemudian, datang angkot berwarna sama (biru) no 59 – trayek Leuwiliang – Pasar Rebo. Ia lewat di Segok, kami pun naik.

Angkot meluncur menerabas jalanan yang hanya muat berselisih dua mobil.  Rumah-rumah di kiri kanan kelihatan rapat. Terkadang melewati perkebunan, menghijau dedauan mengarah seperti ngarai ke kejauhan.  Jalanan lancar, tapi entah kenapa banyak sekali sepeda motor yang searah dengan kami.  Angin menerobos dari jendela dan pintu mobil.

Udara mulai terasa dingin. Kuturunkan masker untuk menghirup udara segar. Kuhirup karbon dioksida (CO2) pemberitan Allah itu melalui hidung dan kukeluarkan melalui mulut. Wuihh..segeer bener.

Kami tiba di Pasar Rebo dan dua orang penumpang turun. Di tengah jalan, istri sudah bersepakat dengan supir angkot melanjutkan perjalanan ke tempat penjualan kembang, karena kendaraan umum sudah tidak ada yang lanjut ke arah Dukuh Bedeng di kawasan Gunung Bunder.

“Kita jadi seperti tamasya saja nih,” kata isteri, “Naik mobil ac alam. Haha.”

“Ya,” aku pun merasa terhibur, karena bisa sesekali keluar rumah – ketimbang mengurung diri di rumah, apalagi di penghujung Desember 2020, Bogor masih dinyatakan zona merah dan oranye.

Kami tiba di Bedeng, Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan, tak jauh dari Curug Pangeran, tempat wisata di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Pantasan banyak benar sepeda motor yang mendaki tanjakan itu. Mereka ingin berlibur ke curug yang indah.

Udara dingin, pepohonan tinggi menjulang, pemandangan hijau, istriku sibuk memilah-milih adenium, aglaonema, keladi romi subhan, keladi wayang, keladi joker hitam putih dan keladi army – yang banyak terdapat di tempat itu.

Si ibu penjual tanaman amat ramah, senyum terus tersungging di bibirnya, sejak kami datang. Pilih memilah, tawar menawar, sampai akhirnya beberapa jenis keladi indah dinaikkan ke angkot.  Tentu saja ngopi dulu. Cuaca dingin dan air hitam itu pun terasa adem mengalir di leher.

Buka diri

Dalam perjalanan pulang, Ipul mulai membuka diri. Pasalnya, isteri minta nomor telepon dan ia mengatakan sudah beberapa lama ini tidak pernah memegang telepon genggam.

“Kalau mau telepon ke hp Teteh saya aja. Nanti kita mampir di rumah saya. Kebetulan ada singkong dari kebun saya untuk ibu. Ada juga kencing kelinci untuk perawatan bunga-bunga ibu,” kata Ipul.

Jalanan lancar, tapi di beberapa tempat macet dan mobil jalan perlahan. Ada sekitar lima titik macet, ternyata lagi ada hajatan perkawinan.

Ipul menuturkan, suatu saat ada teman baik yang butuh uang dan akan mengembalikannya dalam tempo dua minggu. Permohonan hutang ini dibicarakan melalui telepon genggam. Ia memberi pinjaman sebesar Rp20 juta. Namun hingga kini tidak dikembalikan. Temannya menghilang, sehingga Ipul harus menjual mobil pribadinya untuk mengganti uang yang juga dipinjam dari temannya.

Ipul – ayahnya asal Kebayoran Lama dan ibu asli Gunung Bunder – menjual mobil pribadi berupa sedan, yang dibeli setelah lama mengumpulkan uang dari hasil angkot dan dagang singkong.

“Saya harus mengembalikan uang yang saya pinjam untuk teman yang membutuhkan itu. Bagi saya, uang dapat dicari tapi nama baik tidak dapat dibeli dengan uang. Nama baik harus dipertahankan. Makanya saya jual aja mobil saya,” kata Ipul, yang berusia 35 tahun.

“Sekarang saya amat berhati-hati menghadapi orang, walau teman sendiri. Saya pun sudah sepuluh tahun menduda dan belum mau nikah lagi. Manusia itu penuh dengan rahasia, saya takut untuk nikah lagi,” kata Ipun yang memiliki anak kelas empat sekolah dasar.

Benar dugaan saya, ada sesuatu dengan sopir angkot ini. Ia manusia biasa seperti kebanyakan sopir angkot lain. Tapi ia menjadi tidak biasa, karena memiliki karakter dan pendirian: tidak mau lagi menjamah telepon selular dan tidak ingin menikah lagi karena ada sesuatu yang menimpanya, yang menurutnya manusia itu penuh rahasia. Dan yang terpenting, katanya, nama tidak dapat dibeli dengan uang.

Kami mampir di rumahnya, ada Tetehnya yang memberikan nomor telepon. Ada dua bongkah singkong dan ada beberapa liter kencing kelinci (sudah difermentasi) untuk menyiram kembang hias (katanya).

“Terima kasih bapak, ibu, saya senang bertemu bapak ibu. Saya anggap seperti saudara sendiri. Tuhan mempertemukan kita dalam suasana gembira,” kata Ipul, yang nama sebenarnya Saipul.

Dalam tamasya ke Gunung Bunder itu, saya merasakan ada “tamasya lain”, yaitu,  melihat-lihat penggalan perjalanan kehidupan dan turut merasakan getaran di kedalaman lubuk hati manusia.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *