Ilustrasi - Rumah sakit - pasar. (youtube)
Hari ini rumah sakit penuh sekali. Hari ini pasar pun ramai sekali.
Pukul sembilan pagi aku sudah tiba di rumah sakit. Orang ramai, nomor antrean sudah menunjukkan angka 65. Tapi aku tidak perlu antre, karena sudah mendaftar online dari rumah. Tinggal sidik jari, kemudian ambil nomor panggilan dokter setelah memasukkan kode booking.
Dalam beberapa hari sebelumnya, aku baru mengetahui obat tetas mata Vicrolenta dan Hendo Hyalub. Minggu lalu aku juga mengetahui obat Acarbose. Info tentang obat itu dari dokter minim sekali, maka kucari di internet dan kudapat.
Tapi aku bukan mau bercerita tentang obat. Aku hanya terkesan, pada hari pertama puasa Ramadan ini, masih pagi sekali, namun rumah sakit sudah penuh sekali. Dari rumah sakit, aku ke pasar menemani isteri dan ternyata….ramai banget.
Di rumah sakit tampak masih tertib, semua orang mengenakan masker. Tapi di pasar semrawut, satu-dua orang pakai masker tapi selebihnya sudah bebas pelindung hidung itu.
Di pasar tradisional itu, satu dua orang pun terlihat ada yang merokok. Ia pasti belum termasuk orang-orang yang beriman, pikirku, seperti yang disebut dalam al-baqaroh 183.
Dalam serial tulisan sepanjang Ramadan ini, saya ingin membagikan kesan dan pesan tentang perjalanan hari-hari saya baik di dalam mau pun di luar rumah.
Saya tidak membicarajan tentang masalah ibadah shaum Ramadan yang amat dalam maknanya dalam kehidupan muslim, tapi saya mencoba merenung setiap hari.
Renungan itu pelita hati. Saya ingin menghidupan pelita dalam hati saya. Lampu itu mulai menyala ketika saya mengunjungi rumah sakit dan pasar tradisona pas hari pertama Ramadan 1444H.
Orang datang ke rumah sakit untuk berobat. Orang datang ke pasar untuk belanja. Orang butuh obat dan butuh Sembako.
Sederhana saja, orang kok gak datang ke Ramadan padahal bulan itu mendatanginya, untuk menjalankan rukun Islam?
Bukankah rumah sakit, pasar dan Ramadan itu merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani?