Di Balik Petualangan 57.107 langkah


Trio botaks di Borobudur.

Kali ini kami berpetualang sebanyak 57.107 langkah selama lima hari, sepanjang   total 39,94 kilometer, menghabiskan 2.556,5 kalori selama sembilan jam satu menit.

Ini rinciannya: pada hari pertama (15/10/21) berjalan 6,35 km, kalori 411,4, perjalanan satu jam 33 menit, pada hari kedua 10.405 langkah, 7,28 kilometer, 466,0 kalori, jalan satu jam 46 menit, hari ketiga 15.584 langkah, 10,91 km, 693,7 kalori, perjalanan 2 jam 37 menit, hari keempat 12.789 langkah, 8,95 km, 569,7 kalori, jalan dua jam 08 menit, hari kelima 9.264 langkah, 6,45 km, 415.7 kalori, jalan 1,35 km.

Ini petualangan jalan kaki, jadi tentu tidak dihitung perjalanan naik kereta api, naik mobil, naik becak, naik andong, selama kami berkelana di kawasan DI Yogyakarta, kota budaya, pelajar dan wisata itu.

Ini terasa melelahkan, tapi bagi kami ini bukan merupakan petualang biasa,  karena Bang Prayan Purba sudah pernah datang ke tempat tujuan kami, Bambang “Bebi” Kuncoro  pun biasa berkelana Solo-Yogya, sedangkan saya pernah bermukim sekitar tujuh tahun di daerah istimewa itu.

Perjalanan ini akhirnya tidak saja sebagai nostalgia, tapi berisi napak tilas rohani, membaca pribadi orang dan diri sendiri, belajar tentang hidup dan kehidupan dan lainnya. Bacalah terus.

Sebenarnya kami hanya ingin jalan-jalan biasa saja. Sudah lama ingin diwujudkan, tetapi masa pandemi jadi penghalang utama untuk berpergian keluar rumah. Akhirnya jadwal jalan itu kami reka ulang dan kami jalani.

Dalam perjalan kereta api menuju Yogya pagi hari, pandangan terasa nyaman melihat hijau dedaunan melambai-lambai, kendati di beberapa bagian tampak ladang dan sawah meranggas kering.

Dalam menerawang ini, lahir untai puisi berjudul Petualang, melukiskan tentang perjalanan. Untai lainnya berjudul Bingkai Kerinduan, puisi pesanan, tentang kerinduan isteri dengan suaminya yang sudah lama pergi. Kubaca ulang berkali-kali, terasa sedih dalam hati. Kereta terus melaju.

Setelah menyimpan tas punggung berisi beberapa potong pakaian, kami menginjakkan kaki di jalan Malioboro, ikon kota Yogya yang menggemaskan dan membuat orang ingin berkunjung ke tempat itu.

Hotel dan penginapan terlihat berjejer dan berjejal ketika keluar dari Stasiun Tugu. Tapi Malioboro tak banyak berubah.  Gedung-gedung sepanjang jalan masih seperti doeloe, pedagang busana dan souvenir meriah di sepanjang trotoar sehingga seolah menutup toko.

Pedagang makanan dan minuman pun memenuhi sisi kanan Malioboro (bila pandangan arah Tugu).  Kini banyak pedagang sate ayam dan telur puyuh. Banyak bangku untuk dua orang sepanjang Malioboro, tapi hanya boleh diisi satu orang.  Banyak orang duduk di situ sembari menikmati sate atau penganan lain.  Malioboro sudah sesak, padahal kawasan itu baru dibuka setelah lama ditutup karena pandemi.

Dua wanita (satu rambut cepak pendek) sedang makan sate ayam. Berdecak-decak mulut mereka.  Kami berkomunikasi, mereka mengaku dari Jakarta, dan memberi tahu kami bahwa di ujung Malioboro banyak “cabe”.

“Ah kami sudah tak kuat pedas,” kata Bang Prayan sedangkan Bebi berkata, “Kok tiba-tiba kamu ngomong cabe?”.  Muda mudi milenial itu berani sekali berwawankata. Kupikir, melihat gaya dan tingkahnya, salah seorang dari mereka bertindak sebagai pria.

Di sini lahir puisiku berjudul Bertemu Zeitha dan Yahya di Malioboro. Bercerita tentang Malioboro sebagai boulevard Yogya dan sebagai etalase budaya dan kehidupan nyata.

Sekitar 50 tahun lalu (aku bermukim di Yogya antara 1972-1979), aku selalu berdiri di Malioboro.  Selalu ngopi di salah satu pojok depan hotel Garuda, yang kini sudah berubah nama dan bentuk.

Di situ, aku selalu bertemu dengan para tokoh, di antaranya Umar Kayam, Cak Nun, Ashadi Siregar, Saur Hutabarat, Amir Efendy Siregar dan beberapa lainnya. Ketika mereka bercerita dan berdebat, aku hanya mendengar dari kejauhan. Maklum, aku merasa seperti “anak bawang”.

Di kota ini, aku kerap naik panggung pentas teater bersama Teater Gadjah Mada dan Teater Sastra. Kerap dipanggil sebagai juri sayembara pentas teater dan pembacaan puisi, bersama Landung Simatupang dan Suharyoso.

Aku pun menulis puisi dan artikel pementasan teater di Kedaulatan Rakyat dan Bernas, tentu dengan nama samaran untuk salah satu media dan ulasannya pun berbeda. Di sini aku menulis bersama Bambang Subendo, Albert Kuhon, Alfauzi Sofi Salam, Arwan Tuti Artha dan lainnya.

Banyak sekali kenangan di kota ini. Tapi nanti lain kali kuceritakan. Kasihan Bang Prayan dan Bebi, bila tak kuajak bercerita tentang petualangan kami yang cukup seru ini.

Menertawakan diri

Pernahkan Anda secara sadar menertawakan diri sendiri?

Kami bertiga merasakan hal ini. Bergantian kami ngakak seolah tak ada habisnya, baik sedang dalam mobil, sedang makan hingga ketika istirahat dalam kamar sempit tempat kami menginap.  Bebi malah tertawa hingga mengeluarkan air mata.

Apa pasalnya? Kami bertiga joged bergerak sekenanya dengan latar belakang Candi Prambanan. Beberapa kali Bebi ingin bermain Tiktok, tapi kami tak tahu caranya. Semula aku enggan, malu, tapi demi sahabat aku pun bergoyang, seperti orang mabuk kata Bang Prayan.

Ini diposting Bang Prayan dan Bebi di status medsos mereka dan mendapat tanggapan hangat. “Luar biasa,” kata seseorang, “gak malu sudah kakek-kakek,” ungkap yang lain, “haha lucu sekali,” ujar yang lain.

Nah, kami merasakan “relief” (lega) luar biasa, sehingga muncullah tawa berkepanjangan. Filosofinya, kami menertawakan ulah (diri) sendiri. Biasanya kita menertawakan orang lain, tapi kami ketawa atas diri sendiri dan karena diri sendiri.

Luar biasa. Kami berceloteh tentang kelakuan kami itu. Kami merasa gembira, sekaligus merasa malu. Kami menertawakan diri sendiri. Kami merasa lucu dengan diri sendiri. Pernahkah Anda merasakan dan melakukannya?  Bagi kami, ini luar biasa sekali! Dari keluar seperti biasa saja, tetapi bila diendapkan dalam jiwa ini terasa luar biasa.

Nah, saudara, setiap pagi kami olahraga jalan kaki. Usai shalat Subuh, kami sudah bersiap-siap pakai sepatu. Pukul lima subuh, Yogya sudah terang-terang ayam. Kami masuk ke Malioboro, ternyata sudah banyak orang berjalan kaki.  Kurang lebih empat kilometer setiap pagi. Usai jalan pagi ke arah Keraton atau ke arah Tugu, kami sarapan nasi pecal. Wuih, enak sekali, didorong teh panas mengalir di kerongkongan.  Kulirik makanan Bebi, selalu ada tambahan dua kepala ayam goreng, kesukaannya.  Ia tak makan nasi putih, katanya sedang diet, tapi ia merasa bobotnya bertambah.

Tentu tak lupa kami berkunjung ke Candi Borobudur, Pantai Parangtritis,  wisata pinus ke Gunung Kidul, serta berkunjung ke rumah teman seprofesi di Jakarta.

Ini semua sudah pernah kukunjungi. Ada kenangan luar bisa di Parangtritis. Di situ pernah lahir cerita pendekku berjudul “Bius”, tentang luar biasanya minat orang datang ke pantai itu, di antaranya akibat cendawan (mushroom) yang memabukkan ketika itu, sehingga banyak wisatawan termasuk bule yang enggan meninggalkan tempat itu.

Ramai sekali pantai itu. Kami hanya melihat-lihat kelakuan orang dari kejauhan, sembari menghirup air kelapa muda. Pantai itu, kata orng di situ, baru uji coba dibuka setelah lama ditutup karena pandemi. Jarang pengunjung menggunakan masker, banyak anak-anak masuk ke air, padahal setahuku, pantai itu amat berbahaya untuk berenang.  Di sini lahir puisiku tentang buih Parangtritis menyapu langit.

Kami pun berkunjung ke tempat wisata Gunung Kidul, namun kawasan itu masih tutup untuk pendatang. Kami berfoto ria sesaat, sebelum hujan deras bak dituangkan dari langit. Untung ada resto buka, kami berteduh sembari ngopi.

Bebi pertama kali menyebut diri kami dengan julukan Petualang. Kami pernah berpetualang ke Singapura pada Januari 2020, sebagai turis tas punggung,  dan lahir artikel dengan judul Kami Berjalan 36. 497 Langkah.

Apa polah kami ketika sedang di kamar berdipan tiga itu?

Kami seperti sedang bersoliliqui, bicara tentang diri sendiri, tentang nasib dan perjalanan diri sendiri.  Betapa dalam kisah perjalanan hidup kami. Terungkap seperti air mengalir. Terkadang dikilahi bunyi angin keluar dari perut dan aku segera mengenakan masker, yang kerap kupakai bila tidur.  Kami pun ngakak berkepanjangan.

Tapi jangan kira kami bertingkah dan terus-terusan bicara ngawur. Kami pun bicara runtun membagi pengetahuan.  Bagaimana sebenarnya melaksanakan shalat jamak kodho dan qosyor, jamak takdim dan ta’khir, kapan boleh melakukannya.  Tentang pentingnya shalat qobliyah subuh, yang bobot pahalanya melebihi bumi dan segala isinya dan lainnya.

Banyak pembicaraan kami berkisar tentang kehidupan, yang ujungnya selalu berakhir pada : Semua manusia punya masalah, tinggal bagaimana menghadapinya, memecahkannya atau bahkan beradaptasi dengan masalah itu.

Bang Prayan dan Bebi ini, tipe orang berperasaan dan penghiba. Bang Prayan sedih menyaksikan seekor kuda dibalut kakinya, terpincang-pincang membawa penumpang. Bebi, amat iba ketika pengayuh beca kami terengah-engah di terik mentari.  Dengan senada mereka berujar, “Kasihan banget ya.”

Nah,suatu malam, di tepi kolam renang di penginapan kami, aku membaca puisi dengan suara keras. Haha..orang-orang berkeluaran dari kamar mereka.  Mungkin dikira mereka sedang ada pertunjukan.

Kami pun saling memberi tahu apa yang kami ketahui dan tak ketahui. Kami merenungi perjalanan kami ketika melaksanakan shalat Subuh di Stasiun Gambir, saat kami kembali ke Ibukota pada Selasa subuh.

Eh, sebelum lupa, tiket kami untuk pulang ke Jakarta hangus, sehingga harus beli baru, karena kami salah lihat waktu kepulangan seharusnya malam sebelumnya. Ini akibat waktu pulang jam 00.05 wib, sehingga tanggal dan hari sudah berubah. “Kereta yang harus bapak tumpangi sudah tiba di Jakarta,” kata petugas di Stasiun Tugu.

Tentang total langkah yang kami lakukan seperti judul dan teras tulisan ini, dikirim Bang Prayan pada saya. Itu tercatat setiap hari dalam aplikasi di HPnya. “Buat aja tulisan Bis. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk perjalanan berikutnya.”

Ini memang menjadi inspirasi luar biasa, kami merasa berpetualang bukan saja raga kami, melainkan batin.  Ini merupakan kontemplasi rohani dari pertemanan. Rasa lelah pun akhirnya selalu sirna tidak terasa.

Sampai bertemu di lain waktu dan kesempatan, Bang Yan, Bebi dan saudaraku sekalian.  (A.R  Loebis)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *