Ilustrasi - Permakaman umum. (albayaani)
Cuaca agak gerah, tapi angin berhembus sepoi basah. Pandangan terbuka luas ke hamparan perkuburan.
Hanya ada beberapa pohon besar. Tapi di kejauhan tampak beton-beton bangunan kecil, yang sebenarnya menjulang tinggi di tepi jalan Casablanca.
Karena luasnya area TPU Menteng Pulo, aku sempat kesasar. Untung aku tiba di tempat yang benar sementara jenazah temanku masih disolatkan di mesjid dekat rumahnya di kawasan Tebet. Aku mencari musola ketika azan Ashar berkumandang. Kemudian masih sempat ngopi di warung kecil di tepi perkuburan Menteng Pulo 2 itu.
“Sudah berapa jenazah yang dikubur hari ini, Pak,” kutanya pada pria yang duduk di depanku.
“Tadi pagi aja ada tiga. Siang empat. Menjelang sore ini satu, belum lagi yg bapak tunggu itu,” katanya. “Itu baru di blok sini aja. Belon di bagian laen.”
“Wah..bapak setiap hari tau ya. Sembari duduk di sini sembari menghitung orang yg dikubur,”
“Ya saya tau. Hitung aja jumlah yang saya sebut tadi. Ade berape tuh mayatnye,” kata si bapak.
“Tiap hari banyak gitu, Pak?”
“Gak tentu tapi umumnya gitulah. Ada tekadang malam hari. Kalo ketauan polisi gak boleh,” katanya.
Pria itu bernama Efendi. Panggilannya Pendi atau Bang Pendi. Ia mengaku usia 65 tahun, tp kelihatannya lebih. Banyak giginya yg sudah copot. Ia dulu ikut menggali kubur, tapi sekarang hanya merawat beberapa makam atas permintaan keluarga. Petugas penggali kubur kini sudah ada resmi dari dinas permakaman.
Pria Betawi itu bersama istrinya, katanya asal Lampung, bermukim di pondok tepi permakaman itu sejak 1971. Ibu buka warung seadanya dan Minggu petang ini ia menyedu kopi hitam permintaanku.
“Coba itung tuh sudah berape taon saya tinggal di sini,” kata Pendi yg ngaku punya anak lima dan cucu 11. Kini anaknya tinggal tiga.
“Dulu di sini masih sepi. Waktu muda pekerjaan saya ngantar susu sapi. Saya naik sepeda. Tiap hari bisa bawa 50 botol susu ke berbagai tempat,” kata Pendi.
Awan agak kelam, sinar matahari mulai pudar. Angin pun mulai berhembus kuat. Saat ini memang lagi musim hujan dan banjir.
Di depan warung ada anak kambing dikasi susu. Kata istri Pendi baru berusia satu minggu.
Induk kambing tetangga itu melahirkan dua anak. “Entah kenapa hanya anak yang satu yang dikasi menyusui teteknya. Induk kambing itu pilih kasih. Yang satu ini lemah gak nyusu, jadi ibu pelihara,” kata ibu.
Tak lama kemudian, bayi kambing itu kencing. Banyak pipisnya. Bahkan bercampur kotorannya.
“Abis dikasi susu ia memang selalu kencing,” kata si ibu.
Istri bang Pendi menceboki bagian keluar pipisnya. Melap badannya. Dan aku terkesiap ketika si ibu membalut sebagian tubuh bayi kambing pake potongan handuk.
Aku semakin terkesiap, ketika bayi kambing itu digendongnya ke dalam kamar di rumah gubuk itu.
“Ia tidur dikamar,” kata si ibu berusia senja itu. Bayi kambing mengembik – embik dan bersuara seperti bayi manusia “mbaa..maa..”. Bayi hewan itu dikunci dalam kamar dan si ibu kembali bergiat di warungnya.
“Bang Pendi sudah lama banget tinggal di sini. Apa gak takut. Jangan-jangan pernah didatangi yang aneh-malam hari.”
“Ah, gak pernah. Kan dunia kita sudah lain.”
Di arah gang tak jauh dari kami kelihatan orang mulai berdatangan. Memasuki permakaman yg lokasinya bersebelahan dengan “permakaman wakaf” ini, harus jalan kaki karena tidak ada akses mobil. Ambulans pun parkir agak jauh. Di dalam ambulans itu terbaring A. Latif Rusdi, teman SMA 2 saya di Pematang Siantar, yg sudah tiada pada Minggu 12 Januari 2020.
Latif, suatu saat semoga kita bertemu lagi. Selamat jalan sobatku yg baik.
“Saya pamitan dulu ya pak Pendi.”
“Ya..,” jawab lelaki tua yg tanpa disadarinya terus menghitung-hitung mayat itu.
ooo
jakartam 01122020