Wiwi ingat Sum Kuning


Ketemu Wiwi di warung kopi. (arl)

Pria mengaku berusia 74 tahun ini nyerocos tentang film masa lalu. Wiwi Basar namanya. Itu pun menurut pengakuannya. Ia cerita tentang film Sum Kuning yang dahulu sempat menjadi berita besar itu.

Sumarijem atau lebih dikenal dengan Sum Kuning adalah nama panggilan seorang gadis penjual telur dari Godean. Pada 18 September 1970 ia diperkosa oleh anak seorang tokoh masyarakat (dan diduga juga oleh beberapa teman anak itu) di kota Yogyakarta.

Kasus ini merebak menjadi berita besar ketika pihak penegak hukum terkesan mengalami kesulitan untuk membongkar kasusnya hingga tuntas. Pertama-tama Sum Kuning disuap agar tidak melaporkan kasus ini kepada polisi. Belakangan tuduhan Sum Kuning dinyatakan sebagai dusta. Seorang pedagang bakso keliling dijadikan kambing hitam dan dipaksa mengaku sebagai pelakunya.

“Film itu pertama muncul 1977 disutradarai Ihsan Rahadi dengan pemain utama Silvia Haryani dan Roni Muchtar,” katanya. Tapi pada 1978 Kasus itu diangkat lagi ke layar perak dengan judul Perawan Desa, disutradarai Frank Rorimpandey dan Sum Kuning diperankan Yati Surachman.

“Ketika itu saya sebagai pemain figuran dengan tokoh orang jahat,” kata Wiwi, yang saya temui tak sengaja di salah satu warung kopi tepi jalan di kawasan Pasar Genjing.

Ia pernah bermain dalam beberapa film sebagai pemain peran pembantu, di antaranya film Aku Ingin Hidup, Samsidar dan Sum Kuning. Ia mengaku kerap bertemu dengan Emilia Contessa, Mike Wijaya, Rina Hasim, Rita Zahara, Soultan Saladin, Dicky Zulkarnain, Iwan Taruna, Wahyu Sihombing, Asrul Sani, Teguh Karya dan Lilik Sudjio.

“Kami dulu selalu bertemu di TIM,dan belajar seni peran dari Wahyu Sihombing, Sri Maryati, Asrul Sani, Teguh Karya, dll,” kata pria ceking itu. Dulu, katanya, “karena sering bertemu dan kami belajar, kami aggap seperti kuliah saja, apalagi mereka semua sarjana.”

“Apa beda figuran zaman dahulu dan sekarang?”
“Kalau sekarang pemain figuran dikontrak dan honornya besar. Apalagi pemain sinetron. Kalau dulu tidak dikontrak dan honornya kecil. Tapi cukup kalau kita sendiri, alias kalo belum nikah,” kata Wiwi.

Si penjaga warung kopi beberapa kali melirik ke arah kami, tak lama kemudian mulai menutup satu persatu jendela warungnya. Ternyata ia ingin melaksanakan shalat Jumat.

“Sudah dulu Sapu Jagad, saya mau shalat dulu,” katanya.
Ternyata Wiwi Basar di kawasan situ dikenal dengan julukan Sapu Jagad, tapi tak banyak tahu ia dulu adalah pemuda yang selalu berakting di depan kamera dan akrab dengan sutradara besar seperti Asrul Sani dan Teguh Karya. (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *