Terkesima


Ilustrasi - Buku karanganku. (arl)

Selama 30 tahun lebih saya naik-turun ke dan dari lantai 20 Wisma Antara di Jalan Merdeka Selatan. Pulang ke rumah terkadang tengah malam. Terkadang malah tengah malam baru masuk tugas kantor, pulang pagi. Padahal siangnya selalu meliput di lapangan. Tak jarang langsung tugas malam. Betapa sabarnya istri dan anak, yang kerap menanti hingga larut di keheningan malam. Si biran tulang kulihat selalu tertidur di pangkuan bunda.

Jumat pagi (27/11/20), saya ingin bersilaturahim dengan teman dan gedung tinggi itu. Ternyata masuk tidak sembarangan, ktp ditahan dan masuk lift pakai id card. Sesaat saya berada di lantai 19, ada dikit urusan. Kemudian lewat tangga, saya ke lantai 20 tempat saya bekerja ya itu tadi..lebih dari 30 tahun.

Saya bertemu dengan beberapa teman. Kantor lagi sepi, paling sekitar 4 sampai 5 orang yang lagi ngantor. Ternyata ada acara khusus di lantai dua wisma. Selain itu, sebagian karyawan lagi WFH.

Alangkah indahnya lantai 20 ini.  Penataan meja kursi redaksi dan meja-kursi untuk ruang rapat pun kelihatan amat nyaman. Berbeda nyaris 100 persen dengan suasana ketika saya dulu bekerja dan berkarya di situ. Berkarya?  Maybe, biar orang lah yang menilai.

Ada yang ingin saya ceritakan kepada Anda. Di ruang itu, ada semacam pojok santai (sayang saya lupa memotretnya). Ah, kelihatan enak benar dan nyaman duduk di kursi-sofa itu, setelah bekerja di meja redaksi atau pun dalam ruang-ruang kaca para petinggi redaksi itu. Saudara, hebatnya, bahkan ada tempat untuk rebahan.

Ada juga alat treadmill ukuran besar. Ada tempat main pimpong alias tenis meja. Ada pula layar lebar untuk main “game”.  Tapi kok sepi ya.

“Ya kan masih pagi pak. Biasanya orang main olahraga petang, kalo sudah kerja. Lagi pula ada acara di bawah (lantai dua). Sebelum pandemik selalu rame Pak,” kata Mas Bambang, dari sekretariat redaksi, yang menemani saya berbincang.

Sepertinya, saya sudah sekitar dua tahun tidak berkunjung ke Wisma Antara, sejak pensiun.  Ada terasa yang aneh, sejak dari bawah saya tidak melepas masket, tapi masih ada yang mengenal saya.

Pak Satpam di lantai dasar menyapa saya.  “Pagi Pak Haji, maaf tolong titip ktp. Sekarang harus begini caranya.” Dan kujawab “Ya gak papa, biar tertib deh.”

Di Lantai 19, Satpam yang jaga membiarkan saya masuk, ketika saya katakan ingin ketemu seseorang.  Saya mampir di Poliklinik. Ketgemu juga dengan beberapa karyawan lama. Nah, anehnya, mereka semua pun masih ingat saya, kendati masih belum buka masker.

Mungkin mereka mengenal saya lewat pancaran mata saya.  “Pak Lubis, kan,” kata yang satu dan yang lain pun nyambung, “Pak Lubis saya.  Wah sehat pak ya. Kelihatannya Bapak segar.”  Alhamdulillah..

Pada 13 Desember 2020, Kantor Berita Antara akan ulang tahun ke-83.  Gak tau ada acara apa, maklum lah masa pandemi. Mungkin virtual-virtual aja yah teman-teman.

Beberapa saat khayal dan pikiranku melambung – ke masa kerjaku di kantor berita perjuangan itu sejak 1981 sampai pensiun.

Aku melanglangbuana ke berbagai daerah di Tanah Air dan menginjak beberapa kota di beberapa benua, ketika bekerja di kantor ini. Di sini tertanam hidupku,  terpasok keluargaku – istri dan anak-anakku. “Tak bisa ini dilupakan, kawan. Ini hikayat masa lalu,” ku berbisik dalam hati.

Di kantor ini, banyak teman yang sudah pergi abadi, banyak yunioren yang masih bertahan, banyak berdatangan yang baru.  Datang, tumbuh, pergi silih berganti.

Itulah hidup.

Di antaranya hidupku.

Hidup kita,

Aku terkesima

masa lalu kita sahabatku.

oOo

arloebis. Jkt. 27/11/2020

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *