Suka Duka Penarik Bajaj


Suka Duka Penarik Bajaj. (arl)

Setiap bepergian jarak dekat dari rumah, saya selalu naik bajaj. Saya selalu mengajak berbincang si supir bajaj dan bercerita tentang apa saja.

Pagi tadi saya menumpang bajaj yang penariknya bernama Tarjuki, berusia 65 tahun dan berputera empat. “Dulu saya supir taksi Ratax, pernah juga bawa Liberti dan Bluebird,” tutur pria dari Jawa Tengah itu.

Ia juga pernah bawa Bajaj ketika warnanya masih merah coklat, sebelum berubah menjadi biru. Ia menghabiskan 12 liter gas per hari dan petang membawa uang ke rumah sekitar Rp70 ribu. “Ini bajaj saya sendiri,” katanya. Salah seorang puteranya membelikan bajaj bekas itu.

Saya naik bajaj si bapak itu sekitar pukul 11.30 WIB. “Bapak orang pertama naik bajaj saya,” katanya dengan menambhkan, saat ini jarang orang naik bajaj, akibat banyaknya kendaraan on-line.

***

Supir bajaj lainnya bernah bercerita, suatu saat ada dua orang penumpang, wanita muda, menghilang dalam gang dan tak kunjung kembali untuk membayar ongkos bajajnya.

“Mereka naik dari satu tempat,” katanya sembari menyebutkan tempat kedua wanita itu naik, “Kemudian berhenti di ujung gang dan bilang pada saya mereka kehabisan uang. Nanti balik lagi untuk bayar ongkos bajaj. Saya percaya saja.”

Tapi setelah ditunggu lama, kedua wanita itu tak kunjung datang. “Saya pasrah saja, iklas. Mungkin mereka benar-benar gak punya uang,” katanya. Hal seperti ini jarang terjadi.

***

Pengemudi bajaj lain, ada yang mengeluh karena susah sekali mencari tempat parkir untuk menunggu calon penumpang. Di mana-mana sudah ada kelompoknya. Bajaj yag tidak biasa tidak boleh parkir.

“Pernah suatu saat saya tidak mau di suruh pergi, di salah satu pasar di Jakarta Pusat. Saya diusir malah diancam kaca bajaj saya akan dipecahkan. Selain tidak boleh ama tukang bajaj, ada juga bos mereka yang menguasai daerah tertentu,” katanya.

“Sudah penumpang payah dapatnya. Susah pula parkir. Mana bis akita jalah terus, bisa habis deh gas kita,: katanya.

***

Ada pula tukang bajaj yang menyatakan nasib baik dan rejekinya ada di bajaj. Sebelumya ia supir pribadi di salah satu keluarga.

“Saya baru narik bajaj beberapa bulan, rejeki saya sudah muncul. Ada seseorang mualaf (masuk Islam) dan memberikan kepada saya satu bajaj. Ia dari Sumatera Utara. Waktu ia masuk Islam beberapa tahun lalu, ia menyuruh saya ke rumahnya. Di situ sudah ada bajaj dan ia meminta saya membawanya pulang lengkap dengan suratnya,” kata pria yang seolah tak putuh beristighfar.

“Ada lagi yang lebih luar biasa, Pak,” tutur penarik bajaj dari Jawa Tengah itu.

“Apa itu Pak.”

“ Pernah ada seseorang naik bajaj saya. Ia berkata pada saya apakah saya sudah pernah ke Tanah Suci. Saya bilang belum. Ee..dia bilang datang ke rumah saya nanti saya kasi ongkos umroh,” katanya.

Pria paruh baya itu dikasi uang sebesar Rp100 juta. “Saya umroh sama isteri saya. Alhamdulillah, saya diundang Allah ke Tanah Suci melalui tangan bapak itu,” katanya terharu.

“Padahal saya tidak kenal orang itu Pak. Rasanya baru sekali itu naik bajaj saya. Allah amat baik kepada saya Pak. Dikasi bajaj lah..dikasi uang untuk umroh lah..Ini hari juga sejak pagi sudah ada 17 orang yang naik bajaj saya. Biasanya sampai siang gini paling baru tiga orang,” tuturnya. Subhanallah..

***

Sebaliknya, ada supir bajaj nakal, menipu orang dengan mengaku ibunya meninggal di kampung dan butuh tambahan uang untuk ongkos.

“Maaf Pak, saya baru dapat kabar ibu saya meninggal di kamupung, Saya anakk paling besar jadi harus hadir di kampung. Ongkos saya kurang pak,” katanya sembari beristighfar terus dan nada kalimatnya disedih-sedihkan.

“Saya turut berduka Mas, tapi tidak bisa kasi banyak ya,” kata saya dan dia bilang akan berusaha cari pinjaman ke teman-temannya.

Saya baru ngeh..ketika dua minggu ketemu dia lagi dan naik bajajnya lagi dan mendengar keluhannya lagi. Juga tentang ibundanya yang meninggal dan perlu tambahan ongkos pulang.

Masya Allah, tega-teganya mengaku ibu meninggal, demi mencari duit yang tak seberapa. Saya tanya berapa orang ibunya, karena minggu lalu pun meminta duit untuk pulang kampung dengan alasan yang sama. Ia berulang kali minta maaf dengan wajah memerah karena,,malu. Ia malu pada manusia, bukan kepada Allah SWT.  (arl)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *