Ilustrasi - Homo Homini Luppus. (ohhmyworld)
Suatu siang di dalam bus trans-Jakarta rute Kampung Melayu – Ancol, penumpang sepi, Seseorang yang duduk di sebelah saya bertanya kepada saya, di halte apa turunnya kalau ia ingin ke Mangga Dua Trade atau M2 Square.
“Maaf Pak, saya turun dimana kalo mau ke berkunjung ke Mangga 2 Trade.”
Saya lama tak menjawab karena memang tidak paham.
Seorang lelaki di hadapan saya mendengar pertanyaan si Bapak dan ia memberi penjelasan.
“Nanti turun di halte depan Ngkoh, di halte Gunung Sahari, kemudian jalan sedikit. Kita bareng aja, saya juga mau ke sono,” ujarnya.
“Terima kasih ya Pak. Saya mau cari travel jurusan Karawang Barat, saya mau pulang,” katanya.
“Oo tinggal di Karawang Ngkoh. Oke nanti kita cari deh travelnya,” kata si Bapak di depan kami.
“Saya baru cek jantung ke Rumah Sakit Jantung di Matraman. Usia saya 75 tahun. Belasan tahun lalu saya sudah operasi by-pass. Dada saya dibuka. Sekarang sudah dipasang lagi alat picu jantung, saya lagi cek ke rumah sakit,” kata si Ngkoh tadi. Ia kelihatan segar dan prima. Sesekali ia menerima telepon dan terdengar dialog bahasa Mandarin, dsesekali diselingi kata Karawang..mungkin ia menjelaskan bahwa ia mau pulang ke Karawang.
“Saya sekarang 72 tahun. Sejak muda saya selalu jalan kaki pagi atau sore. Dulu kalo ada lomba lari atau maraton saya sekalu ikut. Sekarang masih tetap jalan pagi, tapi tidak seperti dulu. Jalan perlahan saja, tapi masih kuat satu jam,” kata si tukang lari. Saya hanya diam mendengarkan.
Begitu cepatnya perkenalan dan saling pengakuan kedirian itu, padahal baru berkenalan beberapa menit, bahkan nama pun tidak saling tahu.
Begitu cepatnya manusia menjadi akrab.
Begitu rumitnya komunikasi antarpersonal itu.
Nurani terdalam manusia itu sebenarnya adalah hubungan sosial yang baik.
Bayangkan, dua anak manusia berbicara begitu kental, padahal tak kenal. (arl)