Kakek Iyan. (arl)
Wah, ditempeleng?
“Sebenarnya bukan ditempeleng seperti menampar gitu. Tapi kepala saya didorong dari belakang,” ujar Iyan, yang biasa dipanggil Si Kakek di sekitar tempat tinggalnya. Ia kesusahan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan mendorong kepala dari belakang.
“Kok presiden ngegeprok kepala kakek?”
“Gara-gara di bawah meja ada puntung rokok,” jawab Kakek Iyan, terkekeh, sehingga terlihat beberapa gigi atasnya yang sudah menghilang.
Dari sinilah cerita berlanjut, Sabtu 29/2/20. Awan mulai mendung tanda hujan akan turun. Sebelumnya mentari masih memancar ke bumi Ciampea di kawasan Bogor Barat. Di sini lagi musim hujan, utamanya sore hingga malam. Petang itu, angin menderu seolah di tepi pantai. Dedaunan pohon bergerak cepat menimbulkan irama tertentu. Jadi terbayang desah hutan jati.
Si Kakek, yang kedua pundaknya sudah mulai doyong menunduk ke depan, terus berceloteh. Harus pandai-pandai mengarahkannya. Kalau tidak ia akan ngalor ngidul.
Iyan Jumiyati kelahiran 5 Mei 1949 di Bogor, bercerita, ia pernah mencicipi sekolah rakyat hingga kelas lima. Pada tahun 1962 ia kerja di jawatan gedung-gedung dan pada 1965 hingga 1970 ditempatkan sebagai tukang bersih-bersih di Istana Bogor. Ketika itu honornya 400 rupiah dan harga beras 4 picis per liter. “Satu picis itu kira-kira satu sen lah ketika itu,” kata Iyan.
“Saya selalu bertemu dengan Pak Karno. Suatu ketika sore hari, ia ke ruang makan dan melihat ada puntung rokok di bawah meja. Gak tau dari mana itu puntung. Ia hampiri saya dan tempeleng kepala saya dari belakang,” kata si Kakek.
“Kerja yang benar,” kata Pak Karno, “Tapi tidak menunjukkan wajah marah”
“Jangan-jangan puntung rokok Bung Karno,” kataku.
“Gak tau lah.”
“Emang Bung Karno ngerokok?”
“Ya, biasanya rokoknya Ardath. Di bungkusnya ada gambar garuda.”
“Luar biasa ya kakek kerap bertemu presiden.”
“Ya. Ia biasanya pake piyama. Kalo pake jas kerja, ia kelihatan tambah muda dan mukanya bercahaya. Pagi hari, ia selalu minum air kacang hijau.”
“Saya dulu selalu megangi sepeda Megawati ketika ia masih kecil dan belajar naik sepeda. Saya juga pernah mijat Aidit, Untung dan Sabur, ketika mereka sebagai pengawal presiden dan sebelum Aidit berkhianat.”
Kakek Iyan kembali menarik sebatang rokok dari bungkusnya. Entah untuk yang keberapa kali. Sisa gigi dan gusinya menghitam, selain karena nikotin, mungkin akibat kafein yg selalu mengalir ke tenggorokannya.
Si Kakek beranak tiga dan sudah ditinggal istrinya tahun lalu, masih terus berceloteh. Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya. Ia juga tukang kebon dan bersih-bersih di wilayah sini, juga nungguin rumah yang belum ditinggali si empunya. Ia masih kuat naik ke genteng, mengganti lampu di tiang listrik, membabat rumput dan beragam pekerjaan lainnya. Ia kakek yang perkasa. Katanya, badannya pegel bila tidak bekerja. Eh, si kakek pun ternyata bisa memperbaiki tv rusak, mesin cuci dan yang lainnya. Ia memiliki sertifikat instalasi listrik. Ia pun mahir nyetir mobil, bahkan pernah membawa tronton. Awal nyetir, ia membawa angkot bemo di kota Bogor – pada jaman baheula.
Ia menuturkan, pada peristiwa 1965, suasananya mengerikan. Mereka pekerja semua disuruh pulang oleh kepala rumah tangga dan kepegawaian istana Ir Muhammad. Bung Karno dicari-cari para pengkhianat (istilahnya). Tapi tidak ditemukan, baik di Istana Batutulis, di Istana Bogor (kebun raya, tempat kerja Kakek) maupun di Cipanas.
“Padahal ia tetap di kamarnya di Kebun Raya. Orang-orang heran, seolah ia tidak ada dimana-mana. Tapi terkadang ada dimana-mana. Saya pun heran,” kata Kakek, beberapa kali terbatuk, tersedak asap rokok yang dihirupnya terlalu panjang dan dalam.
“Apa yang paling berkesan selama kerja di Istana?”.
“Saya paling bosan karena kalau sudah masuk istana tidak boleh keluar hingga sore. KTP ditahan waktu masuk dan ganti baju kerja.”
“Kesan tentang Bung Karno?”
“Dia suka yang indah dan cantik. Gambar perempuan cantik di dinding. Di depan istana pun ada si Denok, patung wanita cantik yang dekat air mancur.”
“Kesan yang lain?”
“Waktu nanggap wayang, kerisnya tinggal di meja. Sekitar 10 orang gak sanggup memindahkan meja. Keesokan harinya, Pak Karno ambil keris dan dikepitnya. Ee hanya dua orang pun bisa pindahkan meja itu.”
Ratusan bahkan mungkin ribuan kata masih terus berkeluaran dari mulut Kakek Iyan. Tapi semakin tak terdengar, karena air hujan sudah mulai turun petang itu. Bising angin dan suara gesek dedaunan semakin keras. Awan gelap mencakup Puri Arraya dan air seolah tumpah dari langit.
Ah, pengalaman itu begitu berharga. Tabungan masa lalu yang amat bernilai untuk anak, cucu dan orang-orang. Semoga Kakek Iyan tetap sehat.
Wollohu’aklam bissowab. (arl)