Dendam menebal di parit alunan kelam
Suara malam gemuruh
Kulit gerah
Pori-pori merekah
Aorta menutup celah
Onggok kecil ini dimasuki buih putih
Selokan ini dialiri air api
Menyala membakar tepi-tepinya
Ada yang menata sapa
Getaran sentuh jemari mengalir dari bola mata
Di hamparan hijau ini juga kutikam dendam
Ah, di pelataran ini aku ku tercerabut
Berserakan dalam kata-kata
Gemerincing irama berkurang
Tengadah jemari bertambah
Sesekali ada semerbak di tenggorokan
Sering kali irama bergayut menyusuri siaran
Ketika ada kunang-kunang menyinari dirinya
Jirigen hati penuh
sapa dan kata.
***
Ciampea, 2024.